Oleh:
Dr Syamsul Bahri, ST., M.M.
Dosen Manajemen Universitas Ekasakti
Indonesia, sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, memiliki warisan intelektual dan tradisi keilmuan Islam yang panjang melalui keberadaan pesantren.
Namun, posisi Indonesia dalam peta pendidikan tinggi Islam internasional belum sekuat negara-negara seperti Mesir, Turki, atau Maroko.
Padahal, peluang untuk menjadikan perguruan tinggi Indonesia sebagai destinasi pendidikan Islam global sangat terbuka lebar, terutama jika mampu menghadirkan program studi yang unik, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat dunia.
Mengapa Program Studi Islam Inovatif Dibutuhkan?
Di tengah dinamika global, kebutuhan terhadap pemahaman Islam tidak lagi hanya bersifat normatif, tetapi juga konkret dan aplikatif.
Dunia internasional membutuhkan kajian Islam yang mampu menjawab isu-isu kontemporer, seperti ekonomi syariah dan keuangan halal, yang berkembang pesat di dunia internasional.
Wisata religi dan spiritual tourism, sebagai tren pariwisata berbasis pengalaman spiritual.
Manajemen pesantren dan pendidikan Islam berbasis komunitas, yang bisa menjadi model pendidikan unik dari Indonesia.
Kajian interdisipliner Islam dengan sains sosial dan teknologi, yang mampu menghadirkan pemikiran progresif sekaligus berakar pada tradisi.
Jika perguruan tinggi di Indonesia mampu membuka program studi dengan keunikan seperti ini, maka posisinya akan lebih menonjol dibanding negara lain.
Program studi Islam inovatif tidak hanya berfungsi sebagai akademik, tetapi juga sebagai branding nation yang mengangkat citra Indonesia sebagai pusat rujukan Islam moderat.
Perbandingan Jumlah Mahasiswa Asing
Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menunjukkan jumlah mahasiswa asing di Indonesia pada tahun 2023 sekitar 7.800 orang, dengan dominasi dari Asia Tenggara (Malaysia, Thailand, Timor Leste) serta Timur Tengah dan Afrika.
Angka ini masih jauh di bawah Mesir, Turki, dan Maroko. Mesir (Al-Azhar University): lebih dari 30 ribu mahasiswa asing, sebagian besar dari Asia dan Afrika.
Turki sekitar 200 ribu mahasiswa asing pada 2022, dengan program beasiswa Turkiye Burslari yang sangat agresif.
Sementara Maroko lebih dari 20 ribu mahasiswa asing, dengan daya tarik utama studi hadis, tasawuf, dan peradaban Islam di dunia Arab–Afrika.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa potensi Indonesia masih besar untuk dikembangkan.
Jika Indonesia mampu menghadirkan program studi Islam yang khas, jumlah mahasiswa asing bisa ditingkatkan secara signifikan.
Manfaat Ekonomi dari Mahasiswa Asing
Kedatangan mahasiswa asing tidak hanya berdampak pada reputasi akademik, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi langsung dan tidak langsung, antara lain:
Kontribusi finansial: biaya kuliah, asrama, dan kehidupan sehari-hari mahasiswa asing berputar di masyarakat lokal.
Ekonomi kreatif dan jasa: kebutuhan mahasiswa asing akan transportasi, makanan halal, penerjemahan, hingga pariwisata meningkatkan peluang usaha baru.
Penguatan industri halal: mahasiswa asing akan menjadi duta bagi produk halal Indonesia ketika kembali ke negaranya.
Soft power diplomasi: lulusan asing dari kampus Indonesia akan menjadi jembatan hubungan bilateral di bidang politik, ekonomi, dan budaya.
Momentum Global: Islam yang Konkret dan Aplikatif
Masyarakat global saat ini mencari Islam yang mampu menjawab problem nyata: keadilan sosial, pengentasan kemiskinan, ekologi, dan tata kelola ekonomi modern. Indonesia dengan tradisi pesantren yang kuat serta pengalaman membangun Islam moderat memiliki posisi unik untuk memberikan model Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Program studi Islam inovatif seperti Ekonomi Syariah Digital, Wisata Religi Berbasis Pesantren, atau Manajemen Dakwah Global dapat menjadi daya tarik tersendiri.
Dengan kurikulum yang menggabungkan tradisi pesantren dan kebutuhan modern, Indonesia berpotensi menjadi pusat studi Islam aplikatif yang diminati mahasiswa asing.
Penutup
Pengembangan program studi Islam inovatif bukan sekadar kebutuhan akademik, melainkan strategi kebangsaan untuk meningkatkan daya tarik internasional perguruan tinggi Indonesia.
Jika Mesir memiliki Al-Azhar, Turki unggul dengan modernisasi studi Islam, dan Maroko dikenal dengan kekuatan sanad hadis serta tasawuf, maka Indonesia dapat mengambil posisi sebagai pusat studi Islam aplikatif berbasis pesantren dan masyarakat.
Dengan langkah yang tepat, Indonesia bukan hanya meningkatkan reputasi akademik, tetapi juga membuka pintu manfaat ekonomi dan diplomasi yang luas di kancah global.
Pertanyaannya, beranikah Perguruan Tinggi Indonesia bertransformasi sebagai kampus pilihan mahasiswa international? (*)
















