Rahmat yang Tak Terlihat: MikroorganismeAir Penopang Kehidupan di Bumi

Rahmat yang Tak Terlihat: MikroorganismeAir Penopang Kehidupan di Bumi

Ilustrasi Mikroorganisme atau Mikroba. (Dok. Freepik)

Oleh: Muhammad Alghiffari Aidira
Siswa MAN Insan Cendekia Padang Pariaman

Bayangkan jika suatu hari hutan Amazon tiba-tiba lenyap dari muka bumi. Banyak orang akan panik. Kita diajarkan sejak kecil bahwa Hutan Amazon adalah “paru-paru dunia” yang menghasilkan oksigen bagi manusia. Bahkan sering disebut menyumbang sekitar 20 persen oksigen global.

Namun ada fakta yang jarang dijelaskan secara utuh. Hutan tua seperti Amazon
memang menghasilkan oksigen melalui fotosintesis, tetapi hampir seluruh oksigen itu juga digunakan kembali oleh tanaman dan mikroorganisme di dalam hutan untuk respirasi dan penguraian. Secara bersih, kontribusi oksigen Amazon ke atmosfer dunia ternyata mendekati nol.

Saya sendiri baru mengetahui fakta ini saat saat iseng-iseng menonton video, salah seorang anggota DPR RI dari partai Nasdem, Viktor Laiskodat di Youtube.

Saya langsung mencari informasi dari berbagai sumber. Rasanya seperti menemukan sesuatu yang selama ini
tersembunyi di balik pengetahuan umum.

Ada fakta ilmiah lain yang mungkin lebih mengejutkan. Sebagian besar oksigen yang kita hirup setiap hari justru tidak hanya terkait dengan hutan, tetapi juga berasal dari makhluk mikroskopis yang hidup di laut, sungai, dan danau.

Mereka tidak terlihat, tidak bersuara, dan
nyaris tak pernah disebut dalam pidato pidato lingkungan. Tentu ini adalah rahmat Allah SWT yang sering luput kita syukuri. Allah menghadirkan penopang kehidupan melalui ciptaan yang paling kecil sekalipun, agar manusia memahami bahwa hidup bergantung pada keseimbangan yang Dia tetapkan.

Karena itu, pengetahuan ini bukan sekadar menambah wawasan sains, tetapi juga menambah kesadaran amanah,
bahwa menjaga air dan ekosistemnya adalah tanggung jawab umat manusia. Makhluk itu bernama Fitoplankton

Pabrik Oksigen tak Terlihat

Fitoplankton adalah mikroorganisme bersel tunggal yang mampu melakukan fotosintesis, yaitu proses memanfaatkan cahaya matahari untuk menghasilkan energi dan oksigen.

Berbeda dengan tumbuhan, mereka tidak memiliki akar, batang, atau daun. Bahkan mereka bukan tumbuhan sama sekali, melainkan bakteri.

Meski ukurannya sangat kecil, jumlahnya luar biasa banyak. Mereka hidup melayang di perairan sebagai bagian dari fitoplankton, yaitu organisme mikroskopis yang menjadi dasar rantai makanan laut.

Para ilmuwan memperkirakan bahwa sekitar 50 sampai 80 persen
oksigen di atmosfer Bumi dihasilkan oleh organisme laut, termasuk Fitoplankton.

Artinya, setiap dua kali kita menarik napas, kemungkinan satu napas berasal dari aktivitas mikroorganisme di laut.

Ketika berdiri di Pantai Padang dan memandang luasnya Samudra Hindia, sulit
membayangkan bahwa di bawah permukaan air itu terdapat miliaran makhluk tak terlihat yang yang sangat berjasa membantu menyediakan oksigen bagi seluruh planet. Laut yang tampak tenang ternyata adalah pabrik kehidupan yang bekerja tanpa henti.

Pengubah Nasib Planet Bumi

Peran Fitoplankton tidak hanya penting hari ini, tetapi juga menentukan sejarah kehidupan di bumi. Sekitar 2,4 miliar tahun lalu, atmosfer bumi hampir tidak mengandung oksigen.

Makhluk hidup saat itu hanya organisme sederhana yang tidak membutuhkan oksigen. Lalu Fitoplankton mulai menghasilkan oksigen dalam jumlah besar melalui fotosintesis.

Peristiwa ini dikenal sebagai Great Oxygenation Event, yaitu peningkatan besar kadar oksigen di atmosfer. Tanpa peristiwa ini, kemungkinan besar hewan, tumbuhan darat, dan manusia tidak akan pernah muncul.

Membayangkan bahwa kehidupan manusia hari ini bergantung pada mikroorganisme purba membuat kita sadar bahwa kebesaran ciptaan Allah sering kali tersembunyi dalam hal hal yang sangat kecil.

Sahabat Petani dan Industri Pangan

Beberapa jenis Fitoplankton memiliki kemampuan unik, yaitu mengikat nitrogen dari udara. Nitrogen sangat penting bagi pertumbuhan tanaman, tetapi tidak dapat langsung digunakan oleh sebagian besar tanaman.

Dengan mengubah nitrogen menjadi bentuk yang dapat diserap akar, Fitoplankton membantu meningkatkan kesuburan tanah secara alami.

Teknologi ini dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia yang merusak lingkungan. Salah satu jenis yang terkenal adalah Spirulina, yang banyak dikonsumsi sebagai suplemen karena kaya protein, vitamin, dan mineral. Bahkan beberapa penelitian menyebutnya sebagai kandidat pangan masa depan.

Ketika Keseimbangan Rusak

Namun Fitoplankton juga dapat menjadi ancaman ketika lingkungan tidak seimbang. Jika air mengandung terlalu banyak nutrisi akibat limbah rumah tangga, pupuk pertanian, atau kotoran ternak, populasi mereka bisa meledak.

Fenomena ini disebut bloom. Air yang
terkena bloom biasanya berubah hijau pekat, berlendir, dan berbau. Beberapa jenis menghasilkan racun yang berbahaya bagi manusia dan hewan.

Masyarakat Sumatera Barat mungkin tidak asing dengan fenomena kematian ikan massal di Danau Maninjau. Peristiwa ini berkaitan dengan menurunnya kadar oksigen air dan terganggunya keseimbangan ekosistem perairan.

Jika mikroorganisme air tidak seimbang,
dampaknya bisa langsung terasa bagi kehidupan manusia, termasuk ekonomi masyarakat sekitar.

Apa Pelajaran bagi Remaja?

Sebagai siswa yang hidup di era krisis lingkungan, kisah Fitoplankton memberi pelajaran penting. Pertama, hal paling penting di dunia tidak selalu terlihat besar. Makhluk mikroskopis justru menjaga atmosfer yang memungkinkan kita bernapas.

Kedua, semua ekosistem saling terhubung. Sampah yang kita buang di darat dapat berakhir di sungai, lalu ke laut, dan akhirnya memengaruhi kehidupan global.

Ketiga, masa depan planet ini bergantung pada kesadaran generasi muda. Jika remaja tidak peduli, kerusakan lingkungan akan semakin sulit diperbaiki.

Di asrama MAN IC, kami sering berdiskusi informal tentang masa depan Bumi. Namun mengetahui bahwa “pabrik oksigen” terbesar justru berada di air membuat saya merasa bahwa menjaga lingkungan bukan pilihan, melainkan kewajiban.

Bukan Menggantikan Hutan, tetapi Melengkapinya

Fakta ini bukan berarti hutan Amazon tidak penting. Hutan tetap berperan besar dalam
menyerap karbon dioksida, menjaga keanekaragaman hayati, dan mengatur iklim.

Namun memahami peran Fitoplankton membantu kita melihat gambaran yang lebih utuh. Bumi ditopang oleh jaringan kehidupan yang sangat kompleks, dari pohon raksasa hingga mikroba tak terlihat.

Penutup

Setiap kali kita bernapas, kita sebenarnya sedang terhubung dengan lautan, danau, dan sungai di seluruh dunia. Oksigen yang masuk ke paru paru kita mungkin berasal dari mikroorganisme yang hidup jauh dari tempat kita berdiri.

Fitoplankton mengajarkan bahwa
pahlawan terbesar sering kali tidak terlihat. Mereka bekerja tanpa pujian, tetapi menopang kehidupan seluruh planet.

Mungkin sudah saatnya kita tidak hanya menyebut hutan sebagai paru paru dunia, tetapi juga menghargai laut dan ekosistem air sebagai penopang utama kehidupan.

Karena tanpa mereka, setiap napas yang kita ambil hari ini mungkin tidak akan pernah ada. (*)

Baca Juga

Hari Kartini: Antara Emansipasi dan Salah Tafsir Kebebasan Perempuan
Hari Kartini: Antara Emansipasi dan Salah Tafsir Kebebasan Perempuan
Dari Tanah Suci ke Etalase Toko: Ke Mana Arah Mukena Kita Hari Ini?
Dari Tanah Suci ke Etalase Toko: Ke Mana Arah Mukena Kita Hari Ini?
Perempuan Datang ke Pengadilan Bukan Karena Ingin Berpisah, Tapi Karena Dipaksa Bertahan Terlalu Lama
Perempuan Datang ke Pengadilan Bukan Karena Ingin Berpisah, Tapi Karena Dipaksa Bertahan Terlalu Lama
Ketika Kesakralan Bertemu Tarif
Ketika Kesakralan Bertemu Tarif
Puasa, Kuasa, dan Kesombongan yang Dibungkus Kesalehan
Puasa, Kuasa, dan Kesombongan yang Dibungkus Kesalehan
Adab Hilang, Anak-anak yang Menanggung Akibatnya
Adab Hilang, Anak-anak yang Menanggung Akibatnya