Adab Hilang, Anak-anak yang Menanggung Akibatnya

Adab Hilang, Anak-anak yang Menanggung Akibatnya

Ilustrasi adab. Orang tua laki-laki mengajarkan anak perempuannya. (Dok. Pixabay)

Oleh : Tiara Yulanda, S.H.I.
Lulusan Syariah/Hukum Keluarga Islam

Dalam kajian pendidikan keluarga, satu prinsip mendasar sering diulang, anak tidak hanya belajar dari instruksi verbal, melainkan terutama dari model perilaku atau adab yang ia saksikan setiap hari.

Dengan kata lain, keluarga adalah sekolah pertama, dan orang tua adalah kurikulum hidup yang paling efektif.

Namun dalam praktiknya, relasi orang dewasa dengan orang tua mereka sendiri kerap diwarnai oleh sikap yang jauh dari nilai adab, nada bicara yang tinggi, ekspresi meremehkan, hingga perlakuan yang menempatkan orang tua sebatas pelaksana kebutuhan domestik.

Ironisnya, perilaku semacam ini sering dianggap wajar dengan dalih kedekatan atau alasan “sudah terbiasa”.

Dalam perspektif Islam, adab kepada orang tua bukan sekadar norma sosial, melainkan kewajiban moral dan spiritual.

Al-Qur’an secara tegas melarang sikap durhaka, bahkan pada level paling halus, yakni mengucapkan kata “ah” kepada orang tua.

Larangan ini menunjukkan bahwa Islam menempatkan adab bukan hanya pada tindakan besar, tetapi juga pada intonasi, sikap, dan bahasa tubuh.

Persoalan menjadi lebih serius ketika kegagalan menjaga adab tersebut berdampak langsung pada anak-anak. Anak adalah peniru ulung.

Ia menyerap nilai bukan dari nasihat panjang, melainkan dari pola relasi yang ia lihat, bagaimana ayah atau ibunya berbicara kepada kakek-neneknya, bagaimana orang tua dipanggil, disikapi, atau diperlakukan dalam keseharian.

Dalam banyak kasus, anak bahkan terseret lebih jauh ke dalam konflik orang dewasa. Ia dijadikan media emosi, dibisiki jarak, atau diarahkan untuk membenci pihak tertentu tanpa pemahaman yang utuh.

Anak-anak yang seharusnya tumbuh dalam ruang aman justru menanggung beban psikologis dan moral yang bukan porsinya.

Sebagai seorang yang berlatar belakang pendidikan Syariah, penulis memandang kondisi ini sebagai bentuk ketidakadilan struktural dalam keluarga. Anak tidak pernah memilih lahir dalam konflik adab, namun ia dipaksa memikul konsekuensi dari sikap orang dewasa.

Dalam jangka panjang, pola ini berpotensi melahirkan generasi yang kehilangan sensitivitas moral, bukan karena karakter yang buruk, melainkan karena ketiadaan teladan.

Lebih jauh, perlu disadari bahwa krisis adab sering kali bersifat siklikal. Orang dewasa yang hari ini merendahkan orang tuanya, tidak jarang akan menghadapi kebingungan ketika kelak anak-anak mereka memperlihatkan sikap serupa. Pada titik ini, problemnya bukan pada anak, melainkan pada contoh yang diwariskan.

Dalam Islam, mendidik anak tidak dapat dipisahkan dari bagaimana seseorang memperlakukan orang tuanya. Birrul walidain bukan hanya ibadah personal, tetapi juga investasi akhlak lintas generasi. Sebab, di sanalah anak belajar tentang hormat, empati, dan batas kekuasaan dalam relasi.

Penulis meyakini, menjaga adab kepada orang tua adalah salah satu bentuk ketaatan yang dampaknya melampaui diri sendiri. Ketika adab runtuh pada generasi dewasa, anak-anaklah yang pertama kali membayar harganya. Dan ketika adab ditegakkan, meski dalam sunyi, ia akan tumbuh menjadi cahaya yang menerangi generasi berikutnya.

Sebagaimana firman Allah SWT yang memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua setelah perintah mentauhidkan-Nya, hal itu menegaskan bahwa adab bukan urusan pinggiran, melainkan inti dari bangunan iman dan peradaban keluarga. (*)

Baca Juga

Hari Kartini: Antara Emansipasi dan Salah Tafsir Kebebasan Perempuan
Hari Kartini: Antara Emansipasi dan Salah Tafsir Kebebasan Perempuan
Rahmat yang Tak Terlihat: MikroorganismeAir Penopang Kehidupan di Bumi
Rahmat yang Tak Terlihat: MikroorganismeAir Penopang Kehidupan di Bumi
Dari Tanah Suci ke Etalase Toko: Ke Mana Arah Mukena Kita Hari Ini?
Dari Tanah Suci ke Etalase Toko: Ke Mana Arah Mukena Kita Hari Ini?
Perempuan Datang ke Pengadilan Bukan Karena Ingin Berpisah, Tapi Karena Dipaksa Bertahan Terlalu Lama
Perempuan Datang ke Pengadilan Bukan Karena Ingin Berpisah, Tapi Karena Dipaksa Bertahan Terlalu Lama
Ketika Kesakralan Bertemu Tarif
Ketika Kesakralan Bertemu Tarif
Puasa, Kuasa, dan Kesombongan yang Dibungkus Kesalehan
Puasa, Kuasa, dan Kesombongan yang Dibungkus Kesalehan