Oleh: Perdinal, S.Pd.I
Tenaga Pendidik Agama Islam
Bulan Ramadan telah tiba. Bulan yang semestinya menghadirkan keheningan, refleksi, dan penyucian jiwa. Bulan ketika manusia menahan diri bukan hanya dari lapar dan dahaga, tetapi juga dari ambisi duniawi yang berlebihan. Salah satunya, tarif dalam ceramah.
Namun di tengah suasana sakral itu, muncul sebuah kegelisahan. Imam tarawih dengan tarif tertentu. Penceramah dengan standar bayaran.
Khatib Jumat yang menerima amplop sebagai hal yang lumrah. Pertanyaannya bukan sekadar boleh atau tidak menerima honor. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah di mana batas antara penghormatan dan komersialisasi?
Agama: Pengabdian atau Profesi?
Dalam tradisi Islam, dakwah adalah amanah. Ia lahir dari keikhlasan dan tanggung jawab moral, bukan dari transaksi. Mimbar bukan panggung pertunjukan, dan suara tilawah bukan komoditas.
Namun kita hidup di era modern, di mana hampir semua hal diukur dengan nilai ekonomi. Waktu dinilai dengan rupiah, tenaga dihitung dengan tarif, bahkan keahlian spiritual pun perlahan diposisikan dalam logika pasar.
Di sinilah keresahan itu tumbuh, apakah nilai spiritual sedang dikonversi menjadi nilai finansial?
Antara Kebutuhan dan Komodifikasi
Kita tidak menutup mata. Imam memiliki keluarga. Penceramah memiliki kebutuhan hidup. Khatib mengorbankan waktu, tenaga, dan persiapan. Memberikan penghargaan adalah bentuk adab dan penghormatan.
Namun ada perbedaan mendasar antara diberi sebagai bentuk penghormatan,
dan menentukan tarif sebagai prasyarat kehadiran.
Ketika ada standar harga, negosiasi, bahkan persaingan popularitas, maka ruang ibadah mulai bersinggungan dengan mekanisme industri. Dan industri selalu tunduk pada hukum permintaan dan penawaran.
Di titik itu, agama perlahan memasuki wilayah komodifikasi. Bahaya yang datang secara halus yang paling berbahaya bukanlah uangnya. Uang hanyalah alat.
Yang berbahaya adalah pergeseran niat yang terjadi secara perlahan dan tanpa disadari. Jika dibiarkan, dampaknya bisa lebih dalam:
- Dakwah berubah menjadi ajang pencitraan.
- Mimbar menjadi panggung performa.
- Spiritualitas bergeser menjadi branding.
- Masjid menjadi ruang transaksi simbolik.
- Agama kehilangan kesederhanaannya.
- Ruh keikhlasan terkikis oleh logika profesionalisme yang berlebihan.
Akar Keresahan
Fenomena ini tidak lahir dari ruang hampa. Kita hidup dalam sistem ekonomi yang menjadikan hampir semua aspek kehidupan sebagai komoditas. Pendidikan dikomersialkan. Kesehatan dikomersialkan.
Bahkan waktu bersama keluarga sering dikalkulasi dengan nilai produktivitas.
Dalam sistem seperti ini, wajar jika aktivitas keagamaan ikut terdorong ke dalam arus yang sama.
Namun justru di situlah letak ujian kita. Bulan suci seharusnya menjadi momentum mengurangi dominasi materi dalam hidup, bukan memperhalus cara mencarinya.
Keresahan ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Ini adalah ajakan untuk merenung bersama.
Agar kegiatan yang sakral tetap dijaga kesuciannya. Agar niat tetap lurus. Agar agama tetap menjadi cahaya penuntun, bukan sekadar bagian dari mekanisme pasar.
Semoga kita mampu menjaga kemurnian pengabdian, terutama di bulan yang penuh berkah. (*)
















