Oleh: Tiara Yulanda, S.H.I
Praktisi Keluarga dan Hukum Islam
Mukena sejatinya bukan sekadar kain penutup tubuh. Ia adalah bagian dari adab shalat, ruang sunyi antara hamba dan Tuhannya. Namun belakangan, mukena perlahan bergeser makna: dari sarana ibadah menjadi komoditas gaya hidup, dari penunjang kekhusyukan menjadi simbol selera dan tren.
Pertanyaan mendasar sebenarnya sederhana: Islam mengajarkan mukena warna apa? Jawabannya tegas: Islam tidak menetapkan warna atau motif tertentu.
Tidak ada ayat Al-Qur’an maupun hadis sahih yang mewajibkan mukena putih, polos, atau bermotif. Yang diwajibkan hanyalah menutup aurat dengan sempurna, tidak transparan, tidak ketat, dan layak untuk shalat.
Namun Islam juga tidak berhenti pada batas halal-haram semata. Ada adab, ada hikmah. Dalam banyak kaidah berpakaian terutama dalam shalat, ulama menekankan pentingnya kesederhanaan dan menghindari sesuatu yang melalaikan.
Pakaian yang terlalu mencolok, penuh motif, dan berlebihan berpotensi mengganggu kekhusyukan, bukan hanya bagi pemakainya, tetapi juga bagi orang lain di sekitarnya.
Di sinilah fenomena mukena hari ini patut dikritisi. Ragam warna tajam, motif besar, bordir berlapis, hingga desain yang “ramai” sering kali justru menarik perhatian mata, bukan menenangkan hati.
Shalat yang seharusnya menjadi pertemuan paling intim dengan Allah, pelan-pelan terancam berubah menjadi aktivitas yang dipenuhi distraksi visual.
Perbandingan paling jujur bisa kita lihat saat umrah dan haji. Di Tanah Suci, jutaan perempuan dari berbagai bangsa dan kelas sosial mengenakan mukena yang hampir seragam: polos, sederhana, dan fungsional.
Tidak ada lomba motif. Tidak ada penanda status sosial. Yang kaya dan yang miskin berdiri sejajar, sujud di tempat yang sama, dengan pakaian yang nyaris tak membedakan siapa mereka di dunia.
Ironisnya, ketika Ramadan dan Lebaran tiba di negeri sendiri, mukena justru berubah menjadi etalase pamer tak kasat mata. Tren berganti cepat, koleksi harus “update”, motif harus “yang lagi naik”. Tak sedikit orang yang membeli bukan karena butuh, tetapi karena takut tertinggal. Bahkan ada yang memaksakan diri membeli mukena mahal, padahal kondisi keuangan sedang tidak baik.
Lebaran yang seharusnya menjadi momen merendahkan hati dan mempererat empati sosial, perlahan bergeser menjadi ajang pembanding: siapa pakai apa, siapa beli yang terbaru, siapa terlihat paling “niat” secara tampilan. Di titik ini, ibadah berisiko kehilangan ruhnya, dan kesederhanaan—yang justru menjadi pesan utama Islam—tersisih oleh gengsi.
Padahal salah satu tujuan besar syariat adalah mengikis kesenjangan simbolik, agar tidak terlalu cemplang antara si kaya dan si miskin. Agar semua orang bisa beribadah dengan tenang, tanpa rasa minder, tanpa tekanan sosial, tanpa merasa “kurang pantas” hanya karena tidak mengikuti tren.
Tulisan ini bukan seruan menolak keindahan. Islam mencintai keindahan. Namun keindahan dalam ibadah adalah yang menenangkan jiwa, bukan yang menyilaukan mata. Mukena yang sederhana sering kali justru lebih jujur: ia membantu hati hadir, fokus, dan tunduk sepenuhnya kepada Allah.
Mungkin sudah saatnya kita menggeser pertanyaan. Bukan lagi, “Mukena mana yang sedang tren?” Melainkan, “Mukena seperti apa yang paling menolongku khusyuk saat berdiri menghadap Allah?”
Selamat menjalankan ibadah puasa. (*)















