Sumbardaily.com - Penantian puluhan tahun warga Nagari Tanjung Barulak, Kabupaten Tanah Datar, untuk memperoleh pasokan air yang lebih pasti bagi lahan pertanian mulai menemukan titik terang.
Ketergantungan terhadap hujan yang selama ini membatasi aktivitas bercocok tanam perlahan mulai diputus melalui pompanisasi irigasi berbasis tenaga surya.
Program tersebut digulirkan PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sumatera Barat (UID Sumbar) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Mengusung nama “Sumbar Tumbuh, Sumbar Tangguh”, fasilitas itu resmi dimanfaatkan masyarakat pada Minggu (6/9/2026) siang.
Pompanisasi tersebut menggunakan sumber air Batang Manganan. Air dari sumber tersebut dipompa menggunakan energi yang berasal dari tenaga surya, kemudian dialirkan melalui jaringan pipa menuju kawasan persawahan masyarakat Tanjung Barulak.
Bagi masyarakat setempat, kehadiran infrastruktur tersebut bukan sekadar pembangunan fasilitas irigasi.
Pasokan air yang lebih terjamin membuka peluang bagi petani untuk meningkatkan intensitas tanam dan produktivitas lahan yang sebelumnya sangat dipengaruhi kondisi curah hujan.
Gubernur Sumbar, Mahyeldi mengatakan, aliran air tersebut menjadi jawaban atas penantian panjang masyarakat Tanjung Barulak.
Menurutnya, tanda-tanda manfaat fasilitas itu sudah mulai terlihat karena tanaman padi telah tumbuh di lahan masyarakat.
“Penantian yang sudah berpuluh-puluh tahun dari masyarakat Tanjung Barulak, alhamdulillah kini terjawab. Dengan telah mengalirnya air sampai ke Tanjung Barulak dan dinikmati masyarakat, padi pun sudah mulai tumbuh. Mudah-mudahan yang selama ini sekali setahun bisa menjadi tiga kali tanam,” katanya.
Dengan meningkatnya ketersediaan air, pemerintah berharap sektor pertanian tidak hanya mampu menghasilkan produksi yang lebih tinggi, tetapi juga memberikan dampak terhadap ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.
Mahyeldi menyampaikan apresiasi atas keterlibatan berbagai pihak dalam mewujudkan pompanisasi tersebut. Kolaborasi itu melibatkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tanah Datar, Pemerintah Nagari, masyarakat, Fakultas Teknik Universitas Andalas (FT Unand), PLN, Bank Nagari, PT Semen Padang serta berbagai unsur lainnya.
“Ini adalah buah daripada persatuan, kekompakan, kerja sama dan sinergi. Ketika kompak dan bersatu, Insya Allah tidak ada yang berat,” katanya.
Namun, keberadaan fasilitas tersebut juga membawa tanggung jawab baru bagi masyarakat.
Mahyeldi meminta jaringan pompanisasi dan pipa yang dibangun dijaga serta dirawat secara bersama-sama.
Jaringan tersebut memiliki panjang sekitar empat kilometer dan menjadi jalur utama untuk menyalurkan air menuju lahan pertanian.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur tidak akan cukup jika tidak dibarengi pengelolaan dan pemeliharaan yang berkelanjutan. Apabila muncul persoalan dalam pemanfaatan fasilitas, penyelesaiannya diharapkan dilakukan melalui musyawarah dan mufakat.
“Bulek aia dek pembuluh, bulek kato dek mupakat. Apa yang akan dikerjakan, apa yang akan dimanfaatkan dan apa yang akan dilakukan, mari dimusyawarahkan bersama,” ucap Mahyeldi.
Dalam peresmian itu, turut dibicarakan kemungkinan pengembangan bak penampungan air. Fasilitas tersebut dinilai dapat membantu mengoptimalkan distribusi dan pemanfaatan air ke lahan pertanian.
Mahyeldi mendorong agar rencana pengembangan bak penampungan tersebut dikaji dan dirancang secara bersama-sama.
Pemprov Sumbar, Bank Nagari, PT Semen Padang, serta pihak terkait lainnya diharapkan dapat terlibat dalam proses pengembangan tersebut.
Tidak hanya sektor pertanian, pemerintah juga berharap keberadaan infrastruktur air dapat menjadi pemicu pembangunan fasilitas lain yang menunjang kehidupan masyarakat. Di antaranya musala dan ruang aktivitas bagi anak-anak.
“Dengan adanya air ini, mudah-mudahan akan ada pengembangan-pengembangan lain yang dilakukan untuk masa yang akan datang. Nikmat yang sudah ada ini harus kita syukuri dengan cara menjaga, memelihara dan merawatnya dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tanah Datar, Abdul Rahman Hadi mengatakan, sistem pompanisasi tersebut diproyeksikan mampu melayani kebutuhan air untuk sekitar 400 hektare persawahan masyarakat Tanjung Barulak.
Jangkauan tersebut masih berpotensi bertambah. Jika dikembangkan lebih lanjut, layanan air dari sistem pompanisasi itu dapat diperluas hingga nagari-nagari yang berbatasan dengan Tanjung Barulak.
Abdul Rahman Hadi menyebutkan Tanjung Barulak saat ini dihuni sekitar 1.700 kepala keluarga atau kurang lebih lima ribu jiwa. Sebelum adanya sistem tersebut, sebagian besar kegiatan pertanian masyarakat masih mengandalkan sawah tadah hujan.
Kondisi itu menjadi salah satu hambatan bagi petani untuk meningkatkan produktivitas.
Keterbatasan air bahkan turut menjadi tantangan dalam pelaksanaan program bajak sawah gratis karena lahan yang tidak memiliki cukup air cenderung lebih sulit diolah.
Dari sisi teknologi, pompanisasi tersebut merupakan hasil pengembangan inovasi yang melibatkan PLN dan Universitas Andalas bersama sejumlah pemangku kepentingan.
General Manager PT PLN (Persero) UID Sumbar, Ririn Rachma Wardini menjelaskan Fakultas Teknik Unand sebelumnya telah mengembangkan prototipe pompanisasi berbasis tenaga surya.
Teknologi itu kemudian dikembangkan agar dapat digunakan secara langsung oleh masyarakat melalui dukungan program TJSL PLN.
Pemanfaatan energi bersih untuk mendukung pertanian tersebut diharapkan tidak berhenti di Tanjung Barulak. PLN berharap model serupa dapat diterapkan di wilayah lain di Sumbar yang menghadapi persoalan ketersediaan air untuk pertanian.
Menurut Ririn, teknologi tersebut memiliki manfaat ganda. Selain membantu menyediakan air bagi lahan pertanian, penggunaan energi surya juga menjadi bagian dari inovasi pemanfaatan energi bersih untuk mendukung produktivitas dan ketahanan pangan di tingkat nagari.
“Kami berharap air yang hari ini mulai mengalir ke lahan pertanian Tanjung Barulak menjadi awal mengalirnya produktivitas, kesejahteraan, harapan baru dan semangat baru bagi masyarakat sekitar,” tuturnya. (*)
















