Alek Nagari Mangirai di Tapian: Perayaan Unik Perempuan, Nelayan dan Danau Singkarak

Alek Nagari Mangirai di Tapian: Perayaan Unik Perempuan, Nelayan dan Danau Singkarak

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Sumbardaily.com, Solok – Nagari Tikalak, sebuah nagari yang berada tepat di tepian Danau Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar) tengah bersiap menggelar salah satu perhelatan budaya terbesar dalam sejarahnya. Festival bertajuk Alek Nagari: Mangirai di Tapian ini dijadwalkan berlangsung pada 22–23 November 2025 di Lapangan Bola Kaki Nagari Tikalak. Helat budaya tersebut didedikasikan sebagai ruang syukur atas berkah alam Danau Singkarak, sekaligus wadah pertemuan pengetahuan lokal yang diwariskan antargenerasi.

Nagari yang berada di Kecamatan X Koto Singkarak itu selama bertahun-tahun menjadikan danau sebagai pusat kehidupan sehari-hari. Danau Singkarak bukan hanya sumber air bagi masyarakat, tetapi juga rumah bagi berbagai jenis makhluk hidup, termasuk ikan bilih—spesies endemik berukuran kecil yang telah lama menjadi komoditas penting bagi perekonomian warga. Pengelolaan dan pemanfaatan ikan bilih menghasilkan tradisi, teknik menangkap ikan, hingga pola pemasarannya yang berkembang secara turun-temurun.

Perhatian terhadap pengetahuan lokal itulah yang mendorong Rozi Erdus, putra Nagari Tikalak sekaligus Daya Desa—aktor kebudayaan desa yang digagas Kementerian Kebudayaan—untuk menelusuri kembali bagaimana warga mengelola alam dan budaya di lingkungan danau. Selama beberapa tahun terakhir, Rozi memetakan kembali pengetahuan komunitas, termasuk praktik menangkap ikan, pengolahan hasil tangkapan, hingga peran sosial kelompok perempuan dan nelayan di nagari tersebut.

Pada akhir tahun 2024, Rozi menyelenggarakan pameran pertama yang memperlihatkan hasil pemetaan tersebut. Pameran itu menjadi ruang bagi ibu-ibu toke bilih dan para nelayan memperkenalkan siklus perikanan bilih, mulai dari teknik panen, distribusi ke pasar, sampai proses pengolahan. Kegiatan itu memantik semangat warga untuk memahami kembali kekayaan budaya dan ekonomi yang selama ini mereka miliki.

Festival Perdana yang Ditopang Warga Tikalak

Berangkat dari antusiasme tersebut, Rozi bersama pemuda nagari dengan dukungan penuh Pemerintahan Nagari Tikalak merancang sebuah festival budaya berskala besar. Alek Nagari: Mangirai di Tapian kemudian terpilih sebagai salah satu gagasan yang menerima fasilitasi Program Aktivasi Pemanfaatan Potensi Budaya Desa dari Kementerian Kebudayaan RI. Festival ini digagas sebagai ruang perayaan pengetahuan lokal, sarana silaturahmi, sekaligus medium dialog mengenai pembangunan Nagari Tikalak melalui pendekatan kebudayaan.

Rozi menegaskan bahwa festival ini merupakan yang pertama sepanjang sejarah Nagari Tikalak. Karena itu, momen ini dianggap penting untuk menampilkan identitas kebudayaan nagari secara lebih utuh, termasuk menunjukkan cara warga memaknai dan merawat lingkungan danau.

“Melalui festival pertama ini, kami ingin membuka ruang bagi kelompok warga untuk mengekspresikan pengetahuannya, saling belajar, dan memperkuat identitas kebudayaan di tepian Danau Singkarak,” kata Rozi dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (20/11/2025).

Dalam penyelenggaraannya, masyarakat dilibatkan secara aktif melalui berbagai aktivitas komunal, mulai dari gotong royong mempersiapkan lokasi acara (manggoro), musyawarah adat untuk pemantapan kegiatan (duduak basamo), hingga kegiatan mauntang—tradisi memanen ikan bilih dan pensi untuk kebutuhan komunal jelang festival. Selain itu, warga juga menghidupkan kembali malam bagurau anak mudo sebagai ruang berjumpa dan mempererat hubungan antargenerasi.

Ragam Pengetahuan Lokal: Dari Jala hingga Kuliner Danau

Salah satu nilai penting festival ini adalah penonjolan pengetahuan masyarakat tentang teknik menangkap ikan di danau. Tradisi lokal seperti manjariang (menjaring ikan), mamukek (memukat), marawai, dan manangkok pensi akan menjadi bagian dari narasi utama festival. Teknik-teknik itu bukan hanya cara memperoleh hasil tangkapan, tetapi juga mencerminkan hubungan harmonis antara warga dan ekosistem Danau Singkarak.

Rangkaian kegiatan utama festival mencakup demo masak “101 tungku” yang menampilkan beragam kuliner khas Singkarak, seperti pangek bilih, rendang bilih, dan bilih masiak. Acara ini dirancang untuk memperlihatkan kekayaan gastronomi Nagari Tikalak dan bagaimana bahan pangan lokal diolah menjadi menu berkarakter kuat.

Selain itu, terdapat pula arak-arakan adat (barararak), pertunjukan kesenian warga, pameran hasil pemetaan budaya, serta pasar UMKM yang menampilkan produk lokal. Seluruh kegiatan ini dibangun sebagai ruang perjumpaan budaya, tempat warga merayakan, membagi, dan mewariskan pengetahuan mereka.

Peran Perempuan: Penopang Ekonomi dan Penjaga Pengetahuan

Festival Mangirai di Tapian juga memberi panggung khusus bagi kelompok perempuan, terutama Amak-Amak Toke Bilih Tikalak. Selama ini, kelompok ibu-ibu tersebut punya peran penting dalam menjaga keberlangsungan ekonomi lokal, terutama sebagai penghubung antara nelayan dan pasar. Mereka berperan dalam menyortir, mengolah, hingga mendistribusikan ikan bilih ke berbagai titik penjualan.

Untuk memperkuat kapasitas kelompok perempuan tersebut, sebelumnya telah dilakukan workshop literasi media. Kegiatan ini mendorong ibu-ibu untuk mengarsipkan aktivitas keseharian mereka menggunakan ponsel dan media sosial sebagai metode dokumentasi sederhana. Karya dokumentasi itu akan dipamerkan dalam festival sebagai rekam jejak penting kontribusi perempuan dalam pemajuan budaya dan perekonomian nagari.

Bentuk Dukungan dan Keterlibatan Berbagai Pihak

Direktur Bina SDM, Lembaga dan Pranata Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Irini Dewi Wanti, menjelaskan bahwa fasilitasi terhadap festival ini merupakan bagian dari lanjutan Program Pemajuan Kebudayaan Desa. Program tersebut mengembangkan desa budaya melalui proses pembinaan, penguatan, dan pemanfaatan objek pemajuan kebudayaan.

Alek Nagari ini turut didukung Pemerintah Kabupaten Solok, Komunitas Gubuak Kopi, serta berbagai komunitas budaya di Sumatera Barat. Nagari Tikalak sendiri menjadi salah satu dari 152 desa yang masuk dalam Program Desa Pemajuan Kebudayaan.

Rozi, sebagai Daya Desa terpilih, mengangkat tema “Perempuan, Nelayan & Danau Singkarak” untuk menunjukkan bahwa kebudayaan nagari bukan hanya tradisi, melainkan pengetahuan hidup yang terus dijaga oleh warganya.

Dengan Festival Mangirai di Tapian, Nagari Tikalak berharap dapat memperkuat posisi budaya tepian danau dalam lanskap kebudayaan Sumatera Barat, sekaligus menginspirasi desa-desa lain untuk mengembangkan potensi serupa. (red)

Baca Juga

Sejarah Pemindahan Ibu Kota Agam ke Lubuk Basung, Berawal dari Keterbatasan Bukittinggi
Sejarah Pemindahan Ibu Kota Agam ke Lubuk Basung, Berawal dari Keterbatasan Bukittinggi
Mayat Tanpa Identitas Ditemukan Mengapung di Danau Singkarak, Tim SAR Langsung Evakuasi
Mayat Tanpa Identitas Ditemukan Mengapung di Danau Singkarak, Tim SAR Langsung Evakuasi
Tim SAR Gabungan mengevakuasi jenazah korban yang ditemukan mengapung di Danau Singkarak, Tanjung Mutiara, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.
Tim SAR Gabungan Evakuasi Mayat Tanpa Identitas di Danau Singkarak
Peneliti Unand Kembangkan Antibiotik Alternatif dari Rumput Laut untuk Atasi Luka Diabetes
Peneliti Unand Kembangkan Antibiotik Alternatif dari Rumput Laut untuk Atasi Luka Diabetes
Sidang MK Bahas Ganti Rugi Keterlambatan Penerbangan, DPR Minta Evaluasi Dilakukan Setiap Tahun
Sidang MK Bahas Ganti Rugi Keterlambatan Penerbangan, DPR Minta Evaluasi Dilakukan Setiap Tahun
Padang Pikul Target Hunian Tetap Terbesar di Sumbar, Pemerintah Pusat Beri Apresiasi Tinggi
Padang Pikul Target Hunian Tetap Terbesar di Sumbar, Pemerintah Pusat Beri Apresiasi Tinggi