Seiring berjalannya waktu identitas kebudayaan masyarakat Minangkabau kian terkikis, sehingga harus menjadi perhatian seluruh unsur di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).
Ketegasan itu disampaikan Ketua DPRD Sumbar Supardi saat membuka secara langsung Festival Nan Jombang 2023, Selasa malam (3/1/2023) di Gedung Manti Menuik Ladang Tari Nan Jombang, Balai Baru Padang.
“Kebudayaan merupakan karakteristik yang melekat pada masyarakat Minangkabau, namun seiring perkembangan zaman, kita hampir kehilangan identitas itu,” kata Supardi.
Supardi menyebut, banyak generasi muda lebih tertarik dengan kebudayaan lain, sehingga pengetahuan mereka awam terhadap budaya Minangkabau.
Dari beberapa festival kebudayaan yang telah didatangi di Kota Padang, Payakumbuh hingga daerah lainya, peminatnya cenderung menurun.
“Kebudayaan Minangkabau tidak terhitung jumlahnya, dan sangat pantas untuk dihargai. Karena kita tidak lagi terlalu menjunjung budaya, kekayaan itu satu per satu hilang,” ujar Supardi.
Supardi mengatakan, setiap nilai-nilai budaya yang hilang akan sulit untuk ditumbuhkan kembali, kondisi itu akan terus berlangsung dari waktu ke waktu.
Sekarang adalah tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat Sumbar untuk mempertahankan kebudayaan yang ada.
Mengembalikan jati diri sebagai orang Minang dengan identitas budaya merupakan salah satu konsen DPRD sumbar di bawah kepemimpinannya.
Baca Juga:
Lambatnya Pengerjaan Tol Padang-Pekanbaru, Supardi: Tanggung Jawab Gubernur
Terkait itu di tahun 2023, Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata Sumbar sejalan dengan DPRD untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai kebudayaan Minangkabau.
“Kebudayaan Minangkabau merupakan suatu komoditas yang memiliki daya jual tinggi pada pasar mancanegara, Sumbar memiliki potensi itu, mengapa tidak itu saja diperkuat,” tutur Supardi.
Supardi berharap kebudayaan harus menjadi suatu kebanggaan dan andalan untuk memajukan sektor pariwisata, jadi budaya ada di hulu hilirnya adalah pariwisata. Itu merupakan cara strategis untuk dilakukan, bukan yang lain-lain.
Banyak hal yang harus dibahas kembali terkait kebudayaan yang masuk didalamnya unsur seniman. Banyak diantara mereka yang masih hidup memprihatinkan, ada yang tidak memiliki pembiayaan untuk pendidikan anak, hingga tidak adanya jaminan kesehatan seperti BPJS.
Pada pembukaan Festival Nan Jombang, dihadiri oleh sejumlah Anggota DPRD Sumbar, seperti Hidayat dan Evi Yandri, Kepala UPTD Taman Budaya Sumbar Supriyadi, Pimpinan Nan Jombang Dance Company Eri Mevri, serta budayawan dan seniman Sumbar.
Sementara itu Pimpinan Nan Jombang Eri Mevri mengatakan, banyak kebijakan-kebijakan yang dilahirkan oleh kekuasan merugikan seniman. Sumbar tidak pernah kekurang pelaku seni tradisi, namun karena kebijakan-kebijakan itu dampak buruknya masih dirasakan hingga sekarang.
Eri melihat pemangku kepentingan masih menganut paham suka tidak suka, sehingga unsur seniman dirugikan. Eri berharap DPRD Sumbar bisa mendukung setiap program pelestarian seni dan budaya, termasuk dengan dinas-dinas terkait.
“Tidak ada seniman yang hidup mapan di Sumbar, padahal dinasnya yang membidangi banyak, seperti Dinas Pariwisata, Kebudayaan hingga Diskominfotik Sumbar, mari bersinergi untuk untuk memajukan seni dan budaya, jangan ragu berbicara bagi niat mulia,” kata Eri. (ril)
















