Dosen Universitas Andalas (Unand) membantu mengembangkan budidaya sayuran sehat bersertifikat prima 3 dengan mengoptimalkan penggunaan sarana produksi dari sumber daya lokal (SDL) di Nagari Pakan Sinayan, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam.
Teknik budidaya sayuran sehat mengacu pada good agricultural practices (GAP) atau teknik budidaya yang baik yang merupakan salah satu persyaratan dalam memperoleh sertifikat prima 3.
Salah satu teknik dalam budidaya sayuran sehat yang telah dikembangkan memanfaatkan SDL adalah pengendalian hama terpadu (PHT).
Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat secara berkelanjutan setiap tahun untuk membantu agar usaha kelompok tani berkembang.
Peneliti Tim Pengabdian Prof Trimurti menjelaskan, bahwa pengendalian hama terpadu merupakan teknik yang ramah lingkungan, karena berbasis ekologis dengan konsep mengoptimalkan kondisi lingkungan agar tanaman tumbuh dan berproduksi optimal sedangkan perkembangan hama menjadi minimal atau berada di bawah ambang kerusakan ekonomis.
Penggunaan teknik telah dilaporkan dapat menurunkan penggunaan pestisida sintetis dan menurunkan kontaminasi pestisida dalam produk yang dipanen sampai di bawah ambang layak konsumsi sehingga aman terhadap konsumen dan lingkungan.
“Dasarnya itu beranjak dari kekhawatiran cemaran pestisida sintetik pada produk sayuran,” ujar Trimurti, Selasa (13/12/2022).
Menurut Trimurti, produk sayuran secara periodik disemprot dengan pestisida sintetik setiap sekali seminggu atau saat musim hujan sekali dalam tiga hari.
Baca Juga:
Ganggu Pengguna Jalan, Belasan Pengemis dan Anjal Ditertibkan Satpol PP Padang
Setelah dilakukan cek labor, kadar cemaran pestisida sangat tinggi. Trimurti mencontohkan, salah satu cemaran pestisida tinggi itu ada pada caisim.
“Caisim itu kadar ambang batas layak konsumsi pestisida Profenofos 0,005 ppm. Kita ketemu kadar pestisidanya 0,026 ppm. Empat kali lipat lebih tinggi,” sebut Trimurti.
Yang lebih mengejutkan, ujar Trimurti, tanah yang digunakan untuk menanam produk sayuran tersebut mengandung pestisida lebih tinggi.
“Kadar pestisida Profenofosnya sampai 0,097 ppm. Terjadi karena setiap sayuran disemprot dengan pestisida, otomatis tanah itu akan kena terus,” kata Trimurti.
Trimurti mengatakan, tingginya kadar pestisida sintetik pada tanah akan merusak biologi tanah dan mengganggu proses perombakan bahan organik dalam tanah.
“Selain itu kalau produk sayuran mengandung pestisida itu terkonsumsi, tidak bisa terombak oleh tubuh manusia. Terakumulasi dalam lemak-lemak tubuh. Semakin lama akan menjadi biang kanker,” ungkap Trimurti.
“Beranjak dari situ, makanya kita telah mengembangkan teknik budidaya sayuran sehat di Kecamatan Banuhampu secara bertahap menuju pertanian organik, karena kalau langsung tidak akan mungkin bisa. Butuh proses,” tambah Trimurti.
Lebih lanjut Trimurti menyampaikan, langkah ini dimulai dengan mengurangi penggunaan pestisida sintetik dan menggantinya dengan menggunakan teknik pengendalian hama terpadu yang mengutamakan sumber daya lokal.
Baca Juga:
Dosen Unand Beri Penguatan Kelembagaan Kelompok Tani Baramban, Ini Tujuannya
Seperti pemanfaatan musuh alami hama, agens antagonis penyakit, pestisida nabati, tanaman perangkap, dan lain-lain.
Pestisida nabati yang digunakan sebagai sumber daya lokal adalah keberadaannya melimpah dan pertumbuhannya cepat di sekitar areal pertanian, seperti yang ditemukan di Nagari Pakan Sinayan yaitu Bunga Pahit (Tithonia diversifolia), Kerinyu (Chromolaena odorata), Kecubung (Datura metel L.), Sirih Hutan (Piper aduncum).
Selain itu, memperkaya bahan organik agar tanah menjadi subur dan sehat. Tanah jenis ini banyak mengandung organisme menguntungkan dan bisa menekan perkembangan organisme merugikan.
“Awalnya kita lakukan berbagai paket percobaan di Nagari Taluak IV Suku dan Ladang Laweh secara kontinu selama dua tahun dengan mengikuti teknik dasar good agricultural practice atau praktik budidaya tanaman yang baik,” ucap Trimurti.
Setelah diperoleh paket teknologi berbasis pengendalian hama terpadu yang tepat, selanjutnya baru diterapkan ke nagari lainnya di Kecamatan Banuhampu termasuk Nagari Pakan Sinayan.
Berdasarkan hasil penelitian terbaru tahun 2022, budidaya caisim, kol bunga, dan kacang buncis, bekerja sama dengan Kelompok Tani Baramban di Nagari Pakan Sinayan dengan menggunakan teknik PHT dan penambahan amelioran ke dalam tanah, dapat menurunkan penggunaan pestisida dan pupuk buatan setengah dosis anjuran.
“Pada kacang buncis dan kol bunga tidak ditemukan pestisida, sedangkan di dalam sampel tanah ditemukan kadar pestisida Khlorpirifos yang sangat rendah berkisar antara 0-0,006 ppm,” papar Trimurti. (adv/ik)















