Sumbardaily.com – Banjir yang melanda Kota Padang pada Senin, 3 Agustus 2026 lalu tidak hanya meninggalkan genangan di permukiman warga. Fenomena tersebut juga memperlihatkan dinamika hidro-sedimentologi Batang Kuranji, mulai dari kondisi kawasan hulu, perubahan rezim aliran saat debit banjir, hingga proses sedimentasi di bagian hilir dan muara.
Guru Besar Fakultas Teknik Sipil Universitas Andalas (Unand) sekaligus Kepala Laboratorium Mekanika Fluida dan Hidrolika Departemen Teknik Sipil Unand, Prof. Mas Mera, menjelaskan perilaku Batang Kuranji setelah banjir tidak dapat dilihat hanya dari besarnya genangan.
Menurutnya, dinamika sungai berkaitan erat dengan kemampuan kawasan hulu menyimpan air, erosi, transpor sedimen, perubahan kecepatan aliran, hingga interaksi sungai dengan gelombang Samudra Hindia.
Degradasi Hulu Picu Lonjakan Debit Saat Hujan
Mas Mera menyebut akar persoalan hidrologi Batang Kuranji berada pada berkurangnya daya simpan air atau water retention capacity di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Kuranji.
Alih fungsi dan rusaknya tutupan hutan di segmen hulu membuat fungsi tanah sebagai spons penyerap air hujan merosot drastis. Kondisi tersebut menyebabkan air hujan tidak lagi banyak diresapkan ke dalam tanah sebagai cadangan air tanah atau baseflow.
Sebaliknya, air hujan lebih cepat menjadi limpasan permukaan atau surface runoff yang mengalir menuju wilayah hilir.
"Ketika hujan deras turun, air tidak lagi diresapkan ke dalam tanah sebagai cadangan baseflow, melainkan langsung tercurah menjadi limpasan surface runoff menuju segmen hilir," kata Mas Mera, dikutip dari Kepakaran Unand, Selasa (11/8/2026).
Kondisi itu menimbulkan dampak ganda. Ketika hujan terjadi, debit Batang Kuranji dapat melonjak secara ekstrem sehingga memicu banjir. Namun, setelah hujan berhenti, debit sungai juga turun secara drastis karena pasokan air dari kawasan tangkapan hulu berkurang.
Menurut Mas Mera, kondisi tersebut terlihat setelah banjir besar pada 27 November 2025. Debit normal harian Batang Kuranji mengalami penurunan signifikan akibat hilangnya pasokan air dari kawasan tangkapan hulu.
Sedimen Banjir 2025 Bentuk Daratan Baru di Muara
Banjir 27 November 2025 juga membawa muatan sedimen dalam jumlah sangat besar dari kawasan hulu. Sedimen tersebut terdorong hingga ke muara Batang Kuranji dan kemudian mengendap di perairan pantai.
Endapan itu bahkan membentuk daratan baru yang menjorok hingga sekitar 500 meter atau setengah kilometer ke arah laut.
Namun, proses tersebut tidak berlangsung permanen. Laut memiliki mekanisme keseimbangannya sendiri. Ketika pasokan sedimen dari hulu mulai mereda, energi gelombang Samudra Hindia secara bertahap menguraikan material yang sebelumnya menumpuk di kawasan muara.
Proses tersebut berlangsung melalui transpor sedimen pantai atau alongshore sediment transport. Daratan masif yang semula terbentuk di mulut muara kemudian perlahan terkikis, terpecah, dan berubah menjadi pulau-pulau sandbar berukuran kecil.
Perubahan Rezim Aliran Picu Sedimentasi di Hilir
Dinamika lain terlihat pada segmen hilir Batang Kuranji, khususnya wilayah Kecamatan Nanggalo dan Kecamatan Padang Utara.
Saat puncak banjir terjadi, debit dan kecepatan air meningkat sangat tinggi. Kondisi itu membuat aliran berada pada rezim superkritis, yakni kondisi ketika kecepatan aliran lebih tinggi dibandingkan kecepatan gelombang dangkal.
Pada kondisi tersebut, gaya dorong aliran atau tractive force menjadi sangat kuat sehingga mampu mengangkut sedimen.
Persoalan muncul ketika hujan berhenti dan debit sungai turun. Kecepatan arus ikut merosot tajam sehingga aliran dengan cepat beralih dari rezim superkritis menjadi rezim subkritis.
"Perubahan rezim aliran ini serta-merta menurunkan kapasitas transpor sedimen. Sedimen suspensi dari hulu yang belum sempat terbuang ke laut akhirnya mengendap di badan sungai, menyebabkan pendangkalan," ujar Mas Mera.
Endapan paling tebal terbentuk pada zona yang memiliki kecepatan rendah dan recirculation zone atau arus balik. Kondisi tersebut antara lain ditemukan pada tikungan dalam sungai atau inner bend sebelum dan sesudah Jembatan Jalan Raya Nanggalo serta pada area belakang dan bawah abutment jembatan.
Sebagian sedimen di tikungan dalam sungai memang berkurang akibat aktivitas penambangan pasir oleh warga lokal. Namun, sisa material yang mengendap di dasar sungai masih cukup tebal sehingga secara signifikan mengurangi kapasitas tampung penampang basah sungai.
Banjir 3 Agustus 2026 Jadi Pembilasan Alami
Banjir yang terjadi pada 3 Agustus 2026 memperlihatkan kembali interaksi hidraulik tersebut. Saat banjir terjadi, kondisi pasang air laut sedang memasuki fase pasang surut atau ebb tide.
Aliran Batang Kuranji yang terlihat berwarna cokelat pekat menjadi indikasi tingginya konsentrasi sedimen yang berasal dari erosi permukaan atau surface erosion di kawasan hulu.
Meski membawa muatan sedimen pekat, debit dan kecepatan aliran saat banjir cukup kuat untuk memicu mekanisme pembilasan alami atau self-flushing. Debit puncak mampu menggerus sekaligus membilas sisa endapan tebal yang tertahan di badan sungai sejak banjir 27 November 2025 menuju laut.
"Aliran debit puncak berhasil menggerus dan membilas sisa-sisa endapan tebal yang tertahan di badan sungai sejak banjir 27 November 2025 lalu menuju ke laut," kata Mas Mera.
Namun, proses tersebut kembali berubah setelah puncak banjir berlalu. Ketika hujan mereda, debit banjir turun dengan cepat dan kecepatan aliran kembali melambat.
Segmen hilir Batang Kuranji di Nanggalo dan Padang Utara yang sebelumnya berada pada rezim superkritis kembali bertransisi menjadi rezim subkritis. Sedimen halus yang masih tersisa kemudian kembali mengendap di badan sungai, tikungan dalam, serta di balik abutment jembatan.
Dengan demikian, proses yang terjadi membentuk siklus pengendapan, pembilasan, dan pengendapan kembali.
"Siklus pengendapan-pembilasan-pengendapan ini terus berulang," ujar Mas Mera.
Pengamatan 8 Agustus Perlihatkan Endapan Tebal
Fenomena tersebut juga terlihat dalam pengamatan visual di ruas Batang Kuranji sebelum Jembatan Raya Nanggalo pada Sabtu (8/8/2026).
Dalam pengamatan tersebut, endapan sedimen tebal terlihat jelas terbentuk di sisi tikungan dalam. Kondisi itu menunjukkan adanya zona dengan kecepatan aliran rendah yang memicu pengendapan lokal setelah debit banjir meluncur turun.
Temuan lapangan tersebut mendukung analisis mengenai pentingnya penanganan pada titik-titik kritis lokal di bagian hilir Batang Kuranji.
Selain endapan, tingkat kekeruhan air juga masih persisten hingga hari kelima setelah kejadian banjir. Kondisi tersebut menunjukkan proses transpor sedimen suspensi masih berlangsung.
Rekomendasikan Penanganan dari Hulu hingga Muara
Menurut Mas Mera, siklus alami yang terjadi di Batang Kuranji menunjukkan bahwa penanganan banjir tidak cukup dilakukan hanya pada satu segmen sungai. Penanganan harus dilakukan secara terpadu dari kawasan hulu hingga muara.
Pertama, pemulihan hulu DAS Kuranji menjadi hal utama. Reboisasi dan pemulihan vegetasi di kawasan hulu diperlukan untuk mengembalikan daya simpan air tanah sekaligus menekan laju erosi permukaan.
"Pemulihan hulu DAS: reboisasi dan pemulihan vegetasi di hulu DAS Kuranji merupakan harga mati untuk mengembalikan daya simpan air tanah dan menekan laju erosi permukaan," katanya.
Kedua, pembersihan titik-titik kritis di segmen hilir Nanggalo dan Padang Utara perlu dilakukan. Intervensi dapat difokuskan pada titik pengendapan di sekitar tikungan dalam dan abutment jembatan agar kapasitas penampang basah sungai tetap terjaga.
Ketiga, struktur pelindung muara atau jetty perlu dibangun. Pemerintah daerah bersama instansi teknis seperti Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V perlu memastikan muara memiliki kapasitas salur yang optimal.
Struktur jetty tersebut memiliki fungsi ganda. Pertama, mengarahkan dan memfokuskan aliran pembilasan atau flushing jet dari sungai agar sedimen dapat lebih lancar terbuang ke laut lepas. Kedua, mengunci dan menahan intrusi sedimen pesisir Samudra Hindia agar tidak kembali masuk dan menyumbat badan sungai melalui mulut muara.
Keempat, keandalan jaringan alat ukur hujan otomatis atau Automatic Rain Gauge (ARG) juga menjadi bagian penting dalam pengendalian banjir.
Mas Mera menilai sistem peringatan dini atau Early Warning System berbasis analisis hidrologi tidak dapat berjalan tanpa data presipitasi yang akurat.
Karena itu, peralatan ARG yang dikelola BWS Sumatera V, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Padang harus dipastikan selalu dalam kondisi prima dan beroperasi normal.
"Jika ditemukan peralatan yang rusak, tindakan perbaikan harus segera dilakukan tanpa menunda," tegasnya.
Selain itu, apabila zona-zona tangkapan air yang krisis belum dilengkapi stasiun pengamatan, pengadaan dan pemasangan unit baru perlu segera direalisasikan.
Dinamika Batang Kuranji tersebut menunjukkan bahwa banjir, sedimentasi, pembilasan, dan pengendapan merupakan rangkaian proses yang saling berkaitan.
Degradasi hulu memengaruhi limpasan dan pasokan sedimen, perubahan rezim aliran memengaruhi kemampuan sungai mengangkut material, sementara kondisi muara menentukan bagaimana sedimen berinteraksi dengan dinamika pesisir Samudra Hindia. (*)
















