Sumbardaily.com - Sorotan terhadap perwira menengah (pamen) Polda Sumatera Barat kembali mencuat. Kali ini, video dugaan cekcok antara sosok yang disebut-sebut sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Sumbar, Kombes Teddy Fanani dengan seorang pengendara yang diketahui merupakan driver di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) viral di media sosial (medsos).
Persoalan tersebut bukan hanya menarik perhatian karena terjadi di jalan raya, tetapi juga karena pihak yang disebut terlibat merupakan pejabat kepolisian. Pengendara yang mengunggah video bahkan mengaku mengalami dugaan kekerasan hingga kacamata yang digunakannya patah.
Peristiwa itu diungkap melalui akun Instagram korban dengan nama pengguna @bill_irzano. Dalam unggahannya, korban menceritakan kejadian tersebut ketika dirinya tengah menjalankan tugas untuk menjemput Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, E Aminudin Aziz, di Bandara Internasional Minangkabau (BIM).
Menurut pengakuannya, situasi bermula saat dirinya menyalip kendaraan rombongan. Ia menyebut telah memberikan tanda dengan membunyikan klakson dan menyalakan lampu sein sebelum melakukan manuver tersebut.
Namun, tindakan itu disebut memicu kemarahan dari rombongan kendaraan yang berada di belakang atau di sekitarnya. Korban mengaku diminta berhenti hingga sejumlah orang turun dari kendaraan.
“Saya menyalip juga. Lalu mereka marah-marah suruh saya berhenti, berempat orang turun dan mau mengeroyok saya. Saya dituduh saya membahayakan nyawa beliau,” tulis korban.
Menariknya, korban tidak sepenuhnya menyangkal kesalahan dalam kejadian tersebut. Ia mengakui cara menyalip yang dilakukan memang keliru. “Saya akui salah menyalip dengan keras,” katanya.
Dalam video yang diunggah, korban juga terdengar telah menyampaikan permintaan maaf. Akan tetapi, menurut pengakuannya, persoalan tersebut kemudian berkembang menjadi dugaan tindakan kekerasan.
Korban mengeklaim dirinya dipukul. Akibat kejadian itu, kacamata yang dikenakannya disebut mengalami kerusakan hingga patah.
Setelah insiden tersebut, rombongan Ditreskrimum Polda Sumbar disebut meninggalkan lokasi. Korban kemudian mempertanyakan tindakan yang menurut pengakuannya telah dialaminya tersebut.
“Yang terhormat pergi saja. Apakah tindakan kekerasan tersebut tidak masuk pidana bapak?,” tulis korban.
Ia juga mempertanyakan sikap aparat penegak hukum yang seharusnya memberikan rasa aman kepada masyarakat.
“Katanya penegak hukum, kok penganiayaan, mana yang katanya mengayomi masyarakat itu, pak?,” tanya korban dalam unggahannya.
Unggahan tersebut kemudian menyebar dan memunculkan beragam respons publik. Perhatian tidak hanya tertuju pada persoalan cekcok di jalan, tetapi juga pada dugaan arogansi oknum Polri yang muncul dari versi korban.
Namun, tudingan tersebut belum dapat dianggap sebagai kesimpulan mengenai kejadian sebenarnya. Sebab, terdapat versi berbeda dari pihak Dirreskrimum Polda Sumbar.
Saat dikonfirmasi awak media, Kombes Teddy Fanani menyebut video yang beredar di media sosial tidak memperlihatkan kejadian secara utuh. Ia mengatakan rekaman tersebut telah dipotong.
Dinukil dari laman Langgam.id, Teddy tidak menjelaskan secara rinci kronologi kejadian berdasarkan versinya. Ia menyebut penjelasan mengenai peristiwa tersebut telah disampaikannya kepada Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Susmelawati Rosya.
Ia juga menyampaikan bahwa persoalan tersebut telah dijelaskan kepada Wakapolda Sumbar. Karena itu, Teddy meminta agar keterangan lebih lanjut mengenai insiden tersebut disampaikan melalui satu pintu.
“Itu kejadian di daerah Lubuk Buaya, saya mau ke bandara. Videonya dipotong. Silakan satu pintu saja ke Buk Kabid Humas. Saya sudah jelaskan ke beliau dan ke Pak Wakapolda,” kata Teddy.
Pernyataan Teddy mengenai video yang dipotong membuat konteks kejadian menjadi bagian penting yang perlu diperjelas. Potongan video yang beredar di media sosial belum tentu menggambarkan keseluruhan rangkaian peristiwa sebelum maupun sesudah cekcok.
Di sisi lain, pengakuan pengendara mengenai dugaan pemukulan dan kacamata yang patah menjadi bagian lain yang memicu perhatian masyarakat.
Munculnya persoalan yang diduga melibatkan Kombes Teddy Fanani membuat perhatian publik kembali tertuju kepada jajaran pamen Polda Sumbar.
Sebelumnya, nama AKBP dr Faisal, yang saat itu menjabat sebagai eks Plt Kabid Dokkes Polda Sumbar, juga disebut bermasalah karena diduga terlibat dalam kekerasan seksual terhadap seorang Polisi Wanita (Polwan).
Sumbardaily.com telah mencoba meminta penjelasan kepada Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sumbar terkait insiden tersebut.
Namun hingga berita ini dirampungkan, Polwan berpangkat tiga melati di pundaknya itu belum merespons konfirmasi yang diajukan. (*)
















