Sumbardaily.com – Kenaikan suhu udara di Indonesia yang terus terjadi selama empat dekade terakhir dinilai membawa ancaman serius yang belum banyak disadari oleh masyarakat, yakni terganggunya kemampuan reproduksi ternak.
Peringatan ini disampaikan oleh Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas (Unand), Ananda, yang menyoroti bahwa dampak perubahan iklim terhadap sektor peternakan tidak hanya berhenti pada urusan pakan dan produksi susu, melainkan menyentuh fondasi paling mendasar dari keberlanjutan populasi ternak.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu udara rata-rata Indonesia tercatat meningkat sekitar 1,02 derajat Celsius sepanjang periode 1981 hingga 2024. Rinciannya, suhu maksimum naik 0,85 derajat Celsius, sementara suhu minimum justru meningkat lebih tajam, yaitu 1,64 derajat Celsius dalam kurun 44 tahun tersebut.
"Pemanasan bukan lagi sekadar ancaman masa depan, melainkan perubahan yang sedang berlangsung di sekitar kita," ujar Ananda, dikutip dari Kepakaran Unand, Kamis (13/8/2026).
Selama Ini Fokus Hanya pada Produksi
Menurut Ananda, keberhasilan pembangunan peternakan selama ini kerap dinilai semata dari sisi peningkatan produksi, seperti naiknya jumlah susu atau bertambahnya bobot badan ternak. Cara pandang tersebut, kata dia, tidak sepenuhnya salah namun belum lengkap karena mengabaikan aspek yang menjadi fondasi keberlanjutan, yaitu reproduksi.
"Tidak akan ada susu tanpa induk yang berhasil bunting. Tidak akan ada penambahan populasi sapi potong tanpa pedet yang lahir. Ketika reproduksi terganggu, penurunan produksi pada akhirnya hanya tinggal menunggu waktu," tegasnya.
Cekaman Panas Ganggu Hormon hingga Kualitas Sel Telur
Ananda menjelaskan, suhu tinggi yang disertai kelembapan menyebabkan ternak mengalami cekaman panas. Tubuh ternak dipaksa bekerja lebih keras untuk menjaga suhu tetap stabil, ditandai dengan meningkatnya frekuensi pernapasan dan denyut jantung, sehingga energi yang seharusnya dialokasikan untuk fungsi reproduksi menjadi berkurang.
Pada ternak betina, cekaman panas dapat mengacaukan keseimbangan hormon, melemahkan tanda birahi, menghambat ovulasi, serta menurunkan kualitas sel telur dan embrio. Sementara pada ternak jantan, panas berpotensi mengganggu pembentukan sperma, menurunkan daya geraknya, dan meningkatkan risiko kelainan bentuk. Ternak yang sudah bunting pun tidak luput dari risiko, sebab panas dapat memengaruhi lingkungan rahim, fungsi plasenta, dan pertumbuhan janin.
Yang membuat ancaman ini sulit dikenali, lanjut Ananda, adalah gejalanya tidak selalu tampak secara langsung. Seekor sapi bisa saja terlihat sehat dan tetap berproduksi, padahal proses biologis di dalam tubuhnya sudah mengalami perubahan.
"Paparan panas hari ini dapat memengaruhi keberhasilan kebuntingan beberapa minggu atau bulan kemudian. Perubahan iklim meninggalkan jejak biologis yang sering baru disadari ketika angka kebuntingan menurun, masa kosong setelah melahirkan memanjang, atau jarak antar kelahiran menjadi lebih lama," jelasnya.
Ia menambahkan, pada tingkat sel, cekaman panas dapat meningkatkan pembentukan radikal bebas yang mengganggu keseimbangan sel dan menurunkan fungsi mitokondria sebagai penghasil energi. Padahal energi tersebut dibutuhkan agar sel telur matang, sperma dapat bergerak, dan embrio berkembang dengan baik.
Sudah Terjadi di Bogor dan Kalimantan Tengah
Ananda memaparkan, ancaman ini bukan sekadar temuan laboratorium semata. Penelitian pada peternakan sapi perah di Kabupaten Bogor menunjukkan bahwa lokasi dengan tekanan panas lebih tinggi memiliki masa kosong reproduksi yang lebih panjang, meski faktor pakan, kesehatan, dan pengelolaan inseminasi juga turut berperan.
Sementara itu, penelitian di lahan gambut Kalimantan Tengah mencatat indeks suhu dan kelembapan kandang pada siang hari berada pada tingkat bahaya hingga darurat. Ternak merespons kondisi tersebut dengan peningkatan suhu rektal, denyut jantung, dan frekuensi pernapasan. Sapi persilangan tercatat menunjukkan respons cekaman yang lebih tinggi dibandingkan sapi Bali, dengan sapi persilangan yang sedang bunting sebagai kelompok paling rentan.
"Sapi Bali dan sejumlah bangsa lokal Indonesia mampu menjaga suhu tubuh lebih stabil dalam kondisi tropis dibandingkan sebagian ternak persilangan. Ini menunjukkan bahwa sumber daya genetik yang telah lama beradaptasi dengan lingkungan Indonesia perlu ditempatkan sebagai aset dalam menghadapi perubahan iklim," ungkap Ananda.
Reproduksi Harus Masuk Agenda Adaptasi Iklim
Ananda menegaskan, strategi adaptasi perubahan iklim di sektor peternakan tidak boleh berhenti pada upaya mempertahankan produksi semata, tetapi juga harus menjadikan reproduksi sebagai ukuran keberhasilan. Sebab, gangguan produksi mungkin bisa dipulihkan dalam satu musim, sedangkan kegagalan reproduksi dapat memengaruhi populasi ternak selama bertahun-tahun.
Di tingkat peternak, ia menyarankan langkah paling mendasar berupa penyediaan naungan, ventilasi kandang yang baik, akses air minum yang mudah, serta pemberian pakan pada waktu yang lebih sejuk. Pengamatan birahi dan pelaksanaan kawin atau inseminasi buatan juga perlu dilakukan lebih cermat selama periode panas.
"Tanggung jawab tidak dapat dibebankan kepada peternak semata. Pemerintah dan penyuluh perlu memasukkan pengelolaan cekaman panas ke dalam pendampingan reproduksi dan program perbaikan kandang," katanya.
Ananda juga mendorong perguruan tinggi dan lembaga penelitian untuk mempercepat pengembangan strategi nutrisi, teknologi reproduksi, serta pemuliaan ternak yang lebih toleran terhadap panas. Keunggulan ternak lokal, menurutnya, perlu dilestarikan dan dikembangkan, bukan dikorbankan demi mengejar produksi tinggi yang sulit dipertahankan di tengah lingkungan yang semakin panas.
"Pertanyaannya bukan lagi apakah perubahan iklim akan memengaruhi peternakan, melainkan seberapa siap kita menghadapinya. Reproduksi ternak tidak bisa lagi dipandang hanya sebagai urusan kebuntingan atau inseminasi buatan, tetapi bagian penting dari strategi adaptasi perubahan iklim," pungkas Ananda. (*)
















