Sumbardaily.com, Padang – Banjir bandang yang kembali memutus Jalur Lembah Anai di Kabupaten Tanah Datar menjadi sinyal kuat perlunya solusi transportasi jangka panjang di Sumatera Barat (Sumbar). Insiden tersebut membuat arus kendaraan sempat lumpuh total dan memaksa seluruh mobilitas masyarakat dialihkan ke Sitinjau Lauik. Namun, jalur alternatif itu justru mengalami kemacetan parah sehingga menghambat pergerakan logistik dan bantuan bencana.
Pengamat Transportasi Universitas Bung Hatta (UBH), Fidel Miro, menilai kejadian ini menunjukkan pentingnya membangun sistem transportasi yang lebih tangguh.
Menurutnya, salah satu langkah strategis yang dapat ditempuh adalah mengaktifkan kembali layanan kereta api di sepanjang jalur Lembah Anai. Ia menegaskan, infrastruktur rel yang telah berusia lebih dari seabad itu terbukti tetap kokoh meski kawasan sekitarnya terdampak banjir.
“Rel kereta api di Lembah Anai tidak mengalami kerusakan sedikit pun. Ini bukti bahwa moda transportasi itu lebih tahan terhadap bencana. Karena itu, pengaktifan kembali kereta api menjadi opsi yang sangat realistis,” ujar Fidel kepada Sumbar Daily, Rabu (10/12/2025).
Selain reaktivasi rel, ia juga menekankan urgensi percepatan pembangunan sejumlah proyek strategis. Tol Padang–Pekanbaru, khususnya seksi Sicincin–Bukittinggi sepanjang sekitar 40,01 kilometer, menurutnya harus segera dituntaskan untuk memperkuat jaringan konektivitas Sumbar. Pembangunan Flyover Sitinjau Lauik juga dinilai mendesak mengingat jalur tersebut kerap mengalami kemacetan dan rawan kecelakaan, hingga longsor.
“Tol Sumbar baru sampai Kapalo Hilalang. Pembangunan harus dilanjutkan ke segmen berikutnya. Begitu pula Flyover Sitinjau Lauik, proyek itu perlu dipercepat,” kata Fidel.
Ia menambahkan, pembangunan Flyover Lembah Anai yang pernah direncanakan juga semestinya kembali dipertimbangkan. Menurut Fidel, rencana tersebut sempat dibahas beberapa tahun lalu, namun perkembangannya tidak lagi terdengar.
“Dulu sudah ada videonya, sudah ditunjukkan konsepnya. Tapi sekarang tidak jelas lagi kelanjutannya. Menurut saya, flyover Lembah Anai ini penting untuk diwujudkan,” ujarnya.
Fidel mengingatkan bahwa setiap proyek infrastruktur yang akan dibangun harus mengutamakan ketahanan terhadap bencana. Ia mencontohkan bagaimana rel kereta api tetap bertahan meski diterjang banjir bandang. Prinsip resilient disaster harus diterapkan pada seluruh infrastruktur transportasi di Sumbar agar kerusakan tidak terulang.
Apabila seluruh pengembangan tersebut berjalan, Fidel meyakini mobilitas di Sumbar akan meningkat signifikan. Ia menilai waktu tempuh antardaerah dapat lebih singkat, biaya distribusi turun, dan ketersediaan barang bagi masyarakat lebih terjamin.
“Kemacetan bisa berkurang, mobilisasi masyarakat tetap terjaga, dan ekonomi daerah akan ikut bergerak. Itu dampak positif yang harus dikejar,” tuturnya. (ik)
















