Sumbardaily.com, Solok - Sejumlah rekaman pertikaian dua perempuan di kawasan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar) beredar dan memicu perhatian luas warganet.
Video tersebut beredar di sejumlah akun TikTok dan menjadi perbincangan publik karena dugaan insiden itu terjadi sesaat sebelum aktivitas gunung tersebut meningkat dan statusnya dinaikkan menjadi Level II atau Waspada oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Rekaman yang menyebar pertama kali melalui akun @yulioilham12 itu menampilkan cekcok dua perempuan yang diduga melibatkan persoalan asmara.
Dalam kolom komentar, pemilik akun menyebut pertikaian dipicu oleh seorang laki-laki yang diduga mengajak perempuan lain mendaki Gunung Talang tanpa sepengetahuan pasangannya.
Perselisihan itu kemudian memantik keributan di jalur pendakian. Meski demikian, hingga kini tidak ada informasi pasti kapan peristiwa tersebut terjadi.
Video itu telah ditonton lebih dari 80 ribu kali lewat akun @yulioilham12 dengan ratusan interaksi. Pada akun lain, @twosideess, unggahan serupa justru mencapai 4,8 juta kali tayangan, dengan lebih dari 414,6 ribu disukai, 11,5 ribu komentar, 10,1 ribu difavoritkan serta 102,1 ribu kali dibagikan ulang. Skala penyebarannya membuat insiden tersebut cepat masuk dalam topik viral di berbagai platform.
Di tengah ramainya pembahasan, aktivitas Gunung Talang justru menunjukkan peningkatan signifikan. Pada Rabu (10/12/2025) pukul 10.00 WIB, PVMBG resmi menaikkan status gunung api tersebut dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada). Lonjakan aktivitas vulkanik dalam beberapa hari terakhir menjadi pemicu utama perubahan status itu.
PVMBG melaporkan adanya peningkatan tajam gempa vulkanik dalam (VT), disertai rentetan gempa tektonik yang menyebabkan ketidakstabilan pada sistem magma.
Gunung Talang, yang berada di jalur Sesar Besar Sumatera pada Segmen Sumani dan Segmen Suliti, dikenal sebagai gunung api aktif yang sensitif terhadap perubahan tektonik di sekitarnya.
Kompleks gunung ini terdiri dari dua kerucut, Talang Jantan dan Talang Betina, yang berada berdekatan di zona rawan pergeseran kerak bumi.
Catatan sejarah menunjukkan keterkaitan kuat dinamika tektonik dengan aktivitas vulkanik di Gunung Talang.
Pada tahun 2005, gempa Mentawai bermagnitudo 6,8 memicu erupsi yang melahirkan dua kawah baru, yaitu Kawah Utama dan Kawah Selatan.
Hingga kini, kedua kawah tersebut serta rekahan Gabuo Atas dan Gabuo Bawah menjadi pusat keluarnya energi vulkanik.
Pos Pengamatan Gunung Talang di Desa Lembang Jaya masih melaporkan kondisi visual kawah yang stabil, dengan keluarnya asap putih setinggi 10 hingga 75 meter. Namun situasi permukaan itu tidak sejalan dengan peningkatan aktivitas di bawah tanah.
Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan sejak September 2024, gempa VT terus menunjukkan tren naik.
Sepanjang tahun 2025, swarm VT, rangkaian gempa vulkanik beruntun terjadi setidaknya empat kali pada 8 April, 25 Juli, 23 September dan 9 Oktober 2025 lalu.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyebut swarm pada September memiliki karakter lebih dangkal dan terfokus di sekitar kawah, menandakan adanya migrasi magma menuju permukaan.
Peningkatan paling ekstrem terjadi pada Rabu (10/12/2025) pukul 02.48 WIB, sesaat setelah gempa tektonik bermagnitudo 4,7 mengguncang wilayah sekitar.
"Dalam kurun kurang dari tujuh jam, tercatat 227 gempa VT. Sejak awal Desember hingga 9 Desember 2025, PVMBG merekam 101 gempa VT, dua gempa terasa dengan skala I–III MMI, serta 14 gempa tektonik jauh," katanya.
Fenomena swarm VT kerap menjadi indikator ketidakstabilan magma dan pada beberapa gunung api di Indonesia menjadi pendahulu erupsi. Berdasarkan situasi ini, PVMBG meminta masyarakat menjauhi area dalam radius dua kilometer dari Kawah Utama dan Kawah Selatan.
Selain ancaman letusan, kawasan sekitar kawah juga rentan longsor, sehingga meningkatkan risiko bagi pendaki maupun warga yang beraktivitas di wilayah itu.
"Pemantauan terhadap Gunung Talang dilakukan secara intensif dan dapat diperbarui sewaktu-waktu jika ada perubahan visual maupun kegempaan. Masyarakat diminta mengakses informasi hanya melalui sumber resmi PVMBG di Bandung atau Pos Pengamatan Gunung Talang," tuturnya.
Dengan mempertimbangkan seluruh data tersebut, PVMBG merekomendasikan agar masyarakat, pendaki, dan wisatawan tidak melakukan aktivitas dalam radius dua kilometer dari Kawah Utama dan Kawah Selatan. (adl)
















