Sumbardaily.com, Solok - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meningkatkan status aktivitas Gunung Talang di Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar) dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada) pada Rabu (10/12/2025) pukul 10.00 WIB.
Kenaikan level ini didorong oleh lonjakan signifikan gempa vulkanik dalam (VT) dan rangkaian gempa tektonik yang memicu ketidakstabilan sistem magma di gunung api tersebut.
Gunung Talang, yang berada di zona tengah Sesar Besar Sumatera khususnya pada Segmen Sumani dan Segmen Suliti merupakan salah satu gunung api paling aktif di Sumbar.
Kompleks gunung ini terdiri dari dua kerucut, Talang Jantan dan Talang Betina, yang berjarak sekitar satu kilometer. Struktur geologi yang berada tepat di jalur sesar membuat aktivitas vulkanik Gunung Talang sangat sensitif terhadap dinamika tektonik di wilayah sekitarnya.
Sejarah menunjukkan keterkaitan kuat antara aktivitas tektonik dan erupsi Gunung Talang. Pada 2005, gempa tektonik Mentawai bermagnitudo 6,8 memicu erupsi yang menghasilkan dua kawah baru, yakni Kawah Utama dan Kawah Selatan.
Hingga kini, kedua kawah serta rekahan Gabuo Atas dan Gabuo Bawah menjadi pusat aktivitas vulkanik gunung tersebut.
Dari Pos Pengamatan Gunung Talang di Desa Lembang Jaya, visual kawah dilaporkan masih stabil. Asap putih tampak keluar dari kawah dengan ketinggian antara 10 hingga 75 meter.
Namun, kondisi relatif tenang itu tidak sejalan dengan peningkatan aktivitas kegempaan di bawah permukaan.
Data PVMBG mencatat bahwa sejak September 2024, jumlah gempa VT menunjukkan kecenderungan meningkat. Sepanjang 2025, swarm VT, yakni rangkaian gempa vulkanik beruntun terjadi setidaknya empat kali, masing-masing pada 8 April, 25 Juli, 23 September dan 9 Oktober 2025.
"Swarm periode September terpantau lebih dangkal dan berkelompok di area kawah, mengindikasikan adanya migrasi magma menuju permukaan," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Lana Saria via keterangan tertulis.
Peningkatan paling drastis, katanya terjadi pada Rabu (10/12/2025) dini hari pukul 02.48 WIB, setelah gempa tektonik bermagnitudo 4,7 terjadi di titik 18 kilometer dari Kota Solok.
Dalam rentang waktu hingga pukul 09.00 WIB, tercatat 227 gempa VT. Sementara itu, pengamatan sejak 1 hingga 9 Desember 2025 mencatat 101 gempa vulkanik dalam, dua gempa terasa dengan skala I–III MMI, serta 14 gempa tektonik jauh.
Fenomena swarm VT merupakan salah satu indikator penting ketidakstabilan sistem magma dan dalam beberapa kasus di gunung api lain, sering mendahului terjadinya erupsi.
"Kondisi ini perlu diwaspadai mengingat pola yang muncul di Gunung Talang menunjukkan peningkatan energi dari dapur magma menuju struktur yang lebih dangkal," ujar Lana.
Dengan mempertimbangkan seluruh data tersebut, PVMBG merekomendasikan agar masyarakat, pendaki, dan wisatawan tidak melakukan aktivitas dalam radius dua kilometer dari Kawah Utama dan Kawah Selatan.
Selain potensi letusan, wilayah sekitar Kawah Selatan juga rawan longsor sehingga menambah risiko bagi warga yang beraktivitas terlalu dekat.
"PVMBG akan terus memantau aktivitas Gunung Talang secara intensif dan dapat ditinjau kembali sewaktu-waktu apabila terdapat perubahan visual atau kegempaan yang signifikan. Masyarakat dapat memperoleh informasi resmi melalui PVMBG di Bandung atau Pos Pengamatan Gunung Talang di Kabupaten Solok," imbuhnya. (adl)
















