Sumbardaily.com – Salah seorang lulusan Program Doktor Universita Negeri Padang (UNP), Dr. Berry Devanda, mencatatkan inovasi di bidang pendidikan dengan memimpin pelaksanaan Program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) jenjang SMA pertama di Sumatera Barat (Sumbar) melalui SMAN 8 Padang. Program tersebut menjadi salah satu langkah nyata untuk memperluas akses pendidikan bagi remaja yang belum menyelesaikan pendidikan menengah.
Berry Devanda, yang diwisuda pada Wisuda ke-143 UNP periode Juni 2026, menjelaskan bahwa pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh merupakan bentuk dukungan terhadap program pemerintah dalam menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS). Penugasan penyelenggaraan program tersebut diberikan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar.
"Sebagai alumni UNP, kami bangga mendapat penugasan dari Kemdikdasmen RI dan Gubernur Sumbar untuk ikut berkontribusi mengurangi angka Anak Tidak Sekolah melalui program Pembelajaran Jarak Jauh," ujar Berry usai mengikuti prosesi wisuda di Auditorium UNP, Selasa (30/6/2026).
Selain memimpin pelaksanaan program, Berry juga mengajak seluruh alumni UNP untuk turut berkontribusi dalam menyukseskan Program Pembelajaran Jarak Jauh. Menurutnya, para alumni dapat membantu mengidentifikasi sekaligus mengajak remaja usia sekolah yang telah putus sekolah agar kembali memperoleh layanan pendidikan.
"Kepada semua alumni UNP yang ingin ikut berkontribusi, mari ajak ATS usia 16–18 tahun di sekitar tempat tinggalnya untuk kembali ke sekolah melalui program Pembelajaran Jarak Jauh SMAN 8 Padang," katanya.
Lulusan S1 UNP dan S2 University of Adelaide, Australia, itu menjelaskan bahwa penanganan Anak Tidak Sekolah kini menjadi salah satu prioritas nasional. Kebijakan tersebut telah diatur melalui Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pencegahan dan Penanganan Anak Tidak Sekolah.
Berry mengungkapkan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah Anak Tidak Sekolah berusia 16–18 tahun di Indonesia masih mencapai lebih dari 1,1 juta anak. Sementara itu, data Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemdikdasmen menunjukkan terdapat 839 ATS usia 16–18 tahun di Provinsi Sumbar pada 2026.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan penting diluncurkannya Program Pembelajaran Jarak Jauh di SMAN 8 Padang, sehingga remaja yang sebelumnya tidak dapat melanjutkan pendidikan tetap memiliki kesempatan memperoleh ijazah pendidikan menengah.
Dalam pelaksanaannya, program ini menggunakan sistem pembelajaran kombinasi atau blended learning. Sebanyak 70 persen proses belajar dilakukan secara daring, sedangkan 30 persen lainnya dilaksanakan melalui pembelajaran sinkron, baik dalam bentuk tatap muka virtual maupun pertemuan langsung secara berkala.
Model pembelajaran tersebut dirancang menyerupai sistem yang diterapkan Universitas Terbuka, sehingga memberikan fleksibilitas bagi peserta didik yang memiliki berbagai keterbatasan, baik dari sisi waktu, lokasi, maupun kondisi lainnya.
Program Pembelajaran Jarak Jauh di SMAN 8 Padang diperuntukkan bagi remaja berusia 16–18 tahun yang telah lulus SMP atau MTs pada tahun-tahun sebelumnya, tetapi belum melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA atau sederajat.
Program ini tidak menerima lulusan baru SMP tahun pelajaran 2026/2027 agar tidak tumpang tindih dengan jalur penerimaan peserta didik reguler. Setelah mengikuti pendidikan selama tiga tahun, peserta akan memperoleh ijazah resmi yang diterbitkan oleh SMAN 8 Padang.
Melalui pelaksanaan Program Pembelajaran Jarak Jauh, SMAN 8 Padang menjadi SMA pertama di Sumatera Barat yang menghadirkan layanan pendidikan fleksibel bagi Anak Tidak Sekolah.
Inisiatif yang dipimpin lulusan Program Doktor UNP, Berry Devanda, diharapkan dapat memperluas akses pendidikan, mendukung penurunan angka ATS, sekaligus memperkuat implementasi agenda pembangunan berkelanjutan, khususnya SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas), SDGs 10 (Berkurangnya Kesenjangan), dan SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). (*)
















