Sumbardaily.com – Perjalanan Inggris dan Argentina menuju semifinal Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa pencapaian besar tidak pernah diraih dengan mudah. Kedua tim harus melewati rangkaian pertandingan yang menguras tenaga, emosi, sekaligus mental sebelum akhirnya memastikan tempat di empat besar. Kini, mereka bersiap bentrok di Atlanta Stadium pada 15 Juli untuk memperebutkan satu tiket menuju Final Piala Dunia 2026.
Perjalanan menuju semifinal pada edisi Piala Dunia FIFA terbesar sepanjang sejarah menghadirkan tantangan yang berbeda dibanding turnamen-turnamen sebelumnya. Tim-tim unggulan dipaksa bekerja ekstra keras karena lawan-lawan yang berstatus kuda hitam tampil jauh lebih kompetitif dan sulit ditaklukkan.
Bagi Inggris, setiap fase gugur menghadirkan ujian tersendiri. Three Lions harus mengerahkan seluruh kemampuan mereka saat menghadapi RD Kongo pada Babak 32 Besar, kemudian Meksiko di Babak 16 Besar, hingga akhirnya melewati laga berat melawan Norwegia pada perempat final.
Situasi serupa juga dialami Argentina. La Albiceleste dipaksa melalui pertandingan yang penuh tekanan saat menghadapi Tanjung Verde, Mesir, dan Swiss. Ketiga laga tersebut menguras emosi para pemain maupun pendukung karena Argentina harus bertahan menghadapi tekanan lawan, bahkan melewati pertandingan hingga babak perpanjangan waktu.
Perjalanan penuh drama itu bahkan melahirkan meme di Argentina yang menggambarkan semifinal sebagai ujian baru bagi kekuatan mental para pendukung La Albiceleste.
Gelandang Argentina, Rodrigo De Paul, menilai turnamen kali ini menjadi salah satu edisi yang paling sulit karena banyak tim unggulan gagal melangkah jauh.
"Piala Dunia ini penuh kejutan, dengan beberapa tim unggulan tersingkir lebih awal. Anda harus berjuang sampai akhir," ujar De Paul, dilansir dari FIFA, Selasa (14/7/2026).
Pernyataan tersebut menggambarkan betapa tidak ada pertandingan mudah dalam Piala Dunia 2026. Setiap tim dituntut tampil maksimal sejak awal hingga peluit panjang berbunyi karena sedikit saja lengah dapat berakibat fatal.
Meski sama-sama berhasil mencapai semifinal, baik pelatih Inggris Thomas Tuchel maupun pelatih Argentina Lionel Scaloni memilih tidak larut dalam euforia kemenangan. Keduanya justru mengakui masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki sebelum menghadapi laga penentuan.
Usai kemenangan atas Swiss pada babak perempat final, Scaloni mengakui timnya mengalami banyak kesulitan sepanjang pertandingan.
"Kami kesulitan. Kami tahu ini akan menjadi pertandingan yang sulit, dan ada saat-saat ketika kami tidak mampu mengatasi situasi yang mereka ciptakan. Namun, keberuntungan berpihak kepada kami. Kami harus realistis—ada beberapa hal yang perlu kami perbaiki," ujar Scaloni.
Nada serupa juga disampaikan Thomas Tuchel setelah Inggris menyingkirkan Norwegia melalui babak tambahan waktu. Menurutnya, hasil positif memang patut disyukuri, tetapi performa tim belum cukup untuk membawa Inggris meraih gelar juara dunia pertama dalam enam dekade terakhir.
"Hasilnya luar biasa, tetapi saya tidak puas dengan penampilan kami. Kami membuat segalanya menjadi sangat sulit bagi diri sendiri dengan cara kami bermain: ceroboh, banyak melakukan kesalahan teknis, tidak cukup cepat, dan tidak cukup konsisten. Hari ini kami beruntung," kata Tuchel.
Berbeda dengan pelatihnya, kapten Inggris Harry Kane melihat keberhasilan lolos ke semifinal sebagai modal berharga. Ia menilai fakta bahwa timnya masih memiliki ruang untuk berkembang justru menjadi sinyal positif menjelang pertandingan berikutnya.
"Jika kami sudah berada di semifinal Piala Dunia dan tahu kami masih bisa berkembang serta meningkatkan level permainan, kami harus menganggap itu sebagai sesuatu yang positif," ujar Kane.
Di balik perjalanan berat tersebut, Inggris dan Argentina memperlihatkan satu kesamaan penting, yakni kemampuan menjaga performa ketika berada dalam tekanan tinggi. Faktor inilah yang membuat duel semifinal diprediksi berlangsung sangat ketat.
Bagi Inggris, semangat juang itu terlihat setiap kali para pemain bersama pendukung menyanyikan lagu Wonderwall milik Oasis setelah meraih kemenangan. Sementara di kubu Argentina, emosi tampak begitu kuat ketika Lionel Messi menitikkan air mata usai kemenangan atas Mesir pada Babak 16 Besar.
Perpaduan antara kualitas teknik, semangat bertanding, dan kekuatan mental menjadi modal utama kedua tim dalam perjalanan menuju semifinal.
Jude Bellingham menjadi salah satu pemain yang menggambarkan karakter tersebut di skuad Inggris. Gelandang bernomor punggung 10 itu menilai kemampuan menghadapi tekanan merupakan faktor yang tidak kalah penting dibanding aspek teknis maupun taktik.
"Sulit bermain di luar sana; ini pertandingan yang sangat menguras tenaga. Memiliki kualitas adalah satu hal—dan semua pemain di grup ini memilikinya—tetapi Anda tidak akan benar-benar tahu seberapa besar mentalitas dan hati yang mereka punya sampai kami berada dalam situasi seperti itu," ujar Bellingham.
Ia menambahkan bahwa sepak bola bukan hanya soal kemampuan individu ataupun strategi permainan.
"Sepak bola terdiri dari banyak aspek. Sebagiannya soal teknik atau taktik, tetapi bagi saya yang terbesar adalah psikologis—bagaimana Anda menghadapi kemunduran dan kesulitan. Tim ini sekali lagi menunjukkan bahwa kami mampu melakukannya."
Mentalitas serupa juga menjadi kekuatan Argentina. Sosok Lionel Messi, yang kini berusia 39 tahun, masih menunjukkan motivasi besar meski telah meraih berbagai gelar sepanjang kariernya.
Menurut Messi, semangat kompetitif menjadi identitas utama skuad Argentina.
"Skuad ini tidak pernah berhenti bersaing, mendorong diri sendiri, atau mengejar lebih banyak lagi," ujar Messi.
Ia juga menyoroti pencapaian luar biasa timnya yang telah menjuarai Piala Dunia, dua kali memenangkan Copa America, dan kini kembali mencapai semifinal Piala Dunia.
Laga melawan Inggris juga akan menjadi pertemuan pertama Messi menghadapi Three Lions di sepanjang karier internasionalnya.
Setelah melewati berbagai pertandingan penuh drama, perpanjangan waktu, dan tekanan yang terus menguras energi, Inggris maupun Argentina kini memasuki fase penentuan. Kondisi fisik memang menjadi perhatian, tetapi kekuatan mental diperkirakan akan menjadi faktor yang paling menentukan dalam perebutan tiket menuju Final Piala Dunia 2026.
Penyerang Argentina, Jose Lopez, menggambarkan bagaimana dukungan suporter menjadi sumber tenaga tambahan bagi timnya ketika kondisi fisik mulai menurun.
"Ketika kaki kami mulai lelah, kami melihat ke arah para pendukung. Mereka memberi kami tambahan energi yang kami butuhkan untuk terus berjuang."
Semifinal antara Inggris dan Argentina pun dipastikan bukan sekadar adu kualitas pemain atau strategi pelatih. Pertandingan ini menjadi pertarungan dua tim yang telah membuktikan kemampuan mereka bertahan di tengah tekanan besar. Tim yang mampu menjaga fokus, mengendalikan emosi, dan menunjukkan mental juara berpeluang besar melangkah ke Final Piala Dunia 2026. (*)
















