Sumbardaily.com, Padang - Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Kota Padang diharapkan menjadi momentum membangkitkan optimisme pemulihan ekonomi Sumatera Barat (Sumbar).
Imlek Tahun Kuda Api tidak hanya dimaknai sebagai agenda budaya dan keagamaan, tetapi juga sebagai simbol kebangkitan ekonomi daerah setelah bencana alam dan perlambatan aktivitas usaha.
Kelenteng See Hien Kiong Padang, menjadi salah satu pusat kegiatan yang diharapkan mampu menarik kunjungan masyarakat dan wisatawan.
Per Selasa (27/1/2026) malam, ratusan lampion dinyalakan sebagai penanda dimulainya rangkaian perayaan Imlek yang berlangsung hingga 17 Februari 2026.
Humas Kelenteng See Hien Kiong, Indra Lie, menyampaikan bahwa pemasangan lampion dan rangkaian kegiatan budaya bukan sekadar tradisi, melainkan juga bagian dari upaya menghidupkan kembali denyut ekonomi lokal.
“Dengan kami mengadakan lampion, masyarakat bisa datang dan mengajak teman, sanak famili, keluarga, dan tetangga untuk berwisata ke Padang. Harapannya, ekonomi kita bisa lebih sehat,” ujar Indra, Selasa (27/1/2026) sore.
Imlek 2577 Kongzili dikenal sebagai Tahun Kuda Api, yang dalam tradisi penanggalan Tionghoa memiliki makna mendalam. Kuda dipandang sebagai simbol ketangguhan, kecepatan bergerak, dan daya juang tinggi. Sementara unsur Api merepresentasikan energi, semangat, dan keberanian menghadapi perubahan.
Tahun Kuda Api juga sering dimaknai sebagai fase kebangkitan, ketika masyarakat didorong untuk berani mengambil inisiatif baru, bekerja lebih keras, dan tidak terjebak pada stagnasi. Nilai-nilai tersebut dinilai relevan dengan kondisi ekonomi Sunbar yang tengah berupaya bangkit pasca bencana.
“Tahun lalu adalah Tahun Ular, sekarang Kuda Api. Dengan kondisi ekonomi yang menurun dan adanya bencana alam di Padang pada khususnya dan Sumbar pada umumnya, kami berharap tahun ini membawa semangat baru untuk bangkit,” kata Indra.
Rangkaian perayaan Imlek di kelenteng turut menghadirkan beragam pertunjukan seni dan budaya yang melibatkan banyak komunitas.
Pada tanggal 16 Februari 2026, perayaan tahun baru kecil akan diisi dengan atraksi barongsai, naga, wushu, hingga seni tradisional seperti tari piring, musik Mandarin, gambang, dan biola. Keterlibatan kelompok seni dari berbagai daerah dan etnis memperkuat daya tarik acara tersebut.
Kehadiran kegiatan budaya lintas etnis, termasuk tarian dari Nias dan Mentawai, diharapkan dapat memperluas segmentasi pengunjung sekaligus mendorong perputaran ekonomi di sektor UMKM, kuliner, dan jasa pariwisata.
Perayaan Imlek tahun ini juga berlangsung beriringan dengan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Penyelenggara memastikan seluruh kegiatan dilaksanakan dengan tetap menghormati umat Islam yang menjalankan ibadah puasa.
“Bagaimanapun, kami hidup dalam keberagaman agama. Kegiatan tetap kami atur agar saling menghormati,” tutur Indra. (adl)
















