Dharmasraya Lampaui Inflasi Sumbar September 2026, Tembus 4,42 Persen

Dharmasraya Lampaui Inflasi Sumbar September 2026, Tembus 4,42 Persen

Ilustrasi Inflasi (Foto: Unsplash)

Sumbardaily.com - Kabupaten Dharmasraya mencatat inflasi tertinggi di Sumatera Barat pada September 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi year-on-year (y-on-y) Dharmasraya mencapai 4,42 persen, berada di atas angka inflasi Provinsi Sumatera Barat yang tercatat 3,50 persen.

Angka tersebut menjadi bagian dari perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) Sumatera Barat September 2026 yang dituangkan dalam Berita Resmi Statistik (BRS) Nomor 59/10/13/Th. XXIX, yang dirilis 1 Oktober 2026.

“Pada September 2026 terjadi inflasi year on year (y-on-y) Provinsi Sumatera Barat sebesar 3,50 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 114,47. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Dharmasraya sebesar 4,42 persen dengan IHK sebesar 116,88 dan inflasi terendah terjadi di Kota Padang sebesar 3,33 persen dengan IHK sebesar 113,41,” tulis BPS Sumbar dikutip Minggu (4/10/2026).

Data tersebut memperlihatkan posisi Dharmasraya sebagai wilayah dengan tingkat inflasi tahunan paling tinggi di antara daerah yang tercatat dalam pemantauan BPS Sumatera Barat pada September 2026.

Sementara itu, secara provinsi, IHK Sumatera Barat meningkat dari 110,60 pada September 2025 menjadi 114,47 pada September 2026. Dengan perkembangan tersebut, inflasi y-on-y Sumatera Barat mencapai 3,50 persen.

Pergerakan harga juga tercatat secara bulanan. Pada September 2026, Sumatera Barat mengalami inflasi month-to-month (m-to-m) sebesar 0,60 persen. Sedangkan sejak awal tahun hingga September 2026, inflasi year-to-date (y-to-d) mencapai 1,83 persen.

11 Kelompok Pengeluaran Mengalami Kenaikan

BPS mencatat inflasi tahunan Sumatera Barat pada September 2026 terjadi karena kenaikan harga pada 11 kelompok pengeluaran.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi y-on-y sebesar 4,06 persen. Kelompok pakaian dan alas kaki mengalami inflasi 3,07 persen.

Kemudian kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi 1,26 persen. Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik 5,67 persen.

Kelompok kesehatan mengalami inflasi 1,34 persen, sedangkan kelompok transportasi naik 4,66 persen.

Berikutnya, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami inflasi 2,90 persen. Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya naik 1,31 persen.

Kelompok pendidikan mengalami inflasi 1,29 persen. Sementara penyediaan makanan dan minuman/restoran naik 3,83 persen dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi 7,47 persen.

Dari seluruh kelompok tersebut, makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu kelompok yang memberikan kontribusi besar terhadap inflasi tahunan Sumatera Barat.

BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil inflasi y-on-y sebesar 1,38 persen. Kelompok transportasi memberikan andil 0,49 persen, sedangkan penyediaan makanan dan minuman/restoran memberikan andil 0,42 persen.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang 0,39 persen. Selanjutnya, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil 0,22 persen.

Kelompok pakaian dan alas kaki serta kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga masing-masing memberikan andil 0,19 persen. Informasi, komunikasi, dan jasa keuangan menyumbang 0,11 persen.

Adapun kelompok pendidikan memberikan andil 0,06 persen, kesehatan 0,03 persen, serta rekreasi, olahraga, dan budaya 0,02 persen.

Harga Pangan Masih Berperan

Pergerakan harga bahan pangan menjadi bagian penting dalam perkembangan inflasi Sumatera Barat pada September 2026.

BPS mencatat sejumlah komoditas dominan memberikan andil inflasi y-on-y. Di antaranya daging ayam ras, emas perhiasan, beras, bensin, minyak goreng, ikan cakalang atau ikan sisik, nasi dengan lauk, Sigaret Kretek Mesin (SKM), ikan nila, bahan bakar rumah tangga, mobil, ikan gembolo atau ikan aso-aso, angkutan udara, ayam goreng, laptop atau notebook, telepon seluler, pemeliharaan atau service, kontrak rumah, ikan tongkol atau ikan ambu-ambu, serta sewa rumah.

Namun, tidak semua komoditas mengalami kenaikan harga. Sejumlah komoditas justru memberikan andil terhadap deflasi secara tahunan.

Komoditas tersebut antara lain cabai merah, bawang merah, telur ayam ras, petai, kentang, sabun cair atau cuci piring, serta jeruk nipis atau limau.

Khusus kelompok makanan, minuman, dan tembakau, inflasi y-on-y tercatat 4,06 persen. IHK kelompok tersebut meningkat dari 117,02 pada September 2025 menjadi 121,77 pada September 2026.

Seluruh subkelompok dalam kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi. Subkelompok makanan mengalami inflasi tertinggi sebesar 4,28 persen.

Kemudian subkelompok rokok dan tembakau mengalami inflasi 3,37 persen, sedangkan subkelompok minuman yang tidak beralkohol naik 2,80 persen.

Daging ayam ras menjadi salah satu komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi tahunan kelompok tersebut, yakni 0,31 persen. Beras memberikan andil 0,23 persen.

Minyak goreng dan ikan cakalang atau ikan sisik masing-masing memberikan andil 0,11 persen. SKM memberikan andil 0,10 persen, sedangkan ikan nila 0,08 persen.

Di sisi lain, cabai merah memberikan andil deflasi y-on-y sebesar 0,23 persen. Bawang merah memberikan andil deflasi 0,16 persen dan telur ayam ras 0,03 persen.

Inflasi Bulanan Dipicu Cabai Merah

Jika dibandingkan dengan Agustus 2026, sejumlah komoditas mengalami perubahan harga yang turut memengaruhi inflasi bulanan Sumatera Barat.

Pada September 2026, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil inflasi m-to-m sebesar 0,59 persen.

Cabai merah menjadi komoditas dengan andil terbesar, yakni 0,47 persen. Selanjutnya daging ayam ras, beras, cabai hijau, serta ikan cakalang atau ikan sisik masing-masing memberikan andil 0,03 persen.

Bawang merah memberikan andil 0,02 persen. Sejumlah komoditas lain seperti ikan aso-aso, pepaya, ikan serai, ikan anak tandeman, telur puyuh, SKM, belut, SPM, dan semangka masing-masing memberikan andil 0,01 persen.

Sementara komoditas yang memberikan andil deflasi secara bulanan antara lain cabai rawit, jengkol, kentang, tomat, buncis, wortel, dan daun seledri. Emas perhiasan juga memberikan andil deflasi m-to-m sebesar 0,04 persen.

Perawatan Pribadi Catat Inflasi Tertinggi

Selain pangan, kenaikan harga pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga cukup menonjol.

Kelompok tersebut mencatat inflasi y-on-y sebesar 7,47 persen. Angka itu menjadi yang tertinggi di antara 11 kelompok pengeluaran yang tercatat dalam data BPS Sumbar.

IHK kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya meningkat dari 122,98 pada September 2025 menjadi 132,17 pada September 2026.

Subkelompok perawatan pribadi lainnya mengalami inflasi paling tinggi, yakni 14,88 persen. Berikutnya subkelompok jasa lainnya naik 3,28 persen dan subkelompok perawatan pribadi sebesar 2,38 persen.

Sementara subkelompok perlindungan sosial relatif tidak mengalami perubahan.

Emas perhiasan memberikan andil terbesar terhadap inflasi kelompok tersebut, yakni 0,30 persen. Selain itu, shampo, pasta gigi, bedak, tarif gunting rambut pria, jam tangan, dan pembalut wanita masing-masing memberikan andil 0,01 persen.

Namun, secara bulanan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya justru memberikan andil deflasi sebesar 0,04 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi tersebut adalah emas perhiasan.

Transportasi dan Kebutuhan Rumah Tangga

Kelompok transportasi juga memberikan kontribusi terhadap inflasi tahunan. Pada September 2026, kelompok ini mengalami inflasi y-on-y sebesar 4,66 persen.

Subkelompok jasa pengiriman barang mengalami kenaikan 13,39 persen. Jasa angkutan penumpang naik 6,56 persen, pengoperasian peralatan transportasi pribadi 5,21 persen, dan pembelian kendaraan 2,78 persen.

Bensin menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi kelompok transportasi, yakni 0,21 persen. Mobil memberikan andil 0,07 persen dan angkutan udara 0,06 persen.

Sementara kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami inflasi y-on-y sebesar 5,67 persen.

Subkelompok furnitur, perlengkapan, dan karpet mengalami kenaikan paling tinggi sebesar 13,06 persen. Barang pecah belah dan peralatan makan minum naik 12,52 persen, tekstil rumah tangga 9,04 persen, serta peralatan rumah tangga 8,18 persen.

Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan juga mencatat inflasi 2,90 persen. Kenaikan terutama terjadi pada subkelompok peralatan informasi dan komunikasi yang mencapai 13,91 persen.

Laptop atau notebook memberikan andil 0,06 persen dan telepon seluler 0,05 persen.

Sementara itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi 3,83 persen. Nasi dengan lauk menjadi komoditas yang memberikan andil terbesar sebesar 0,10 persen, disusul ayam goreng 0,06 persen.

Gulai dan ketupat atau lontong sayur masing-masing memberikan andil 0,04 persen, sedangkan ikan bakar memberikan andil 0,03 persen.

Data BPS tersebut menunjukkan bahwa inflasi Sumatera Barat pada September 2026 tidak hanya dipengaruhi satu kelompok pengeluaran. Kenaikan harga terjadi pada seluruh 11 kelompok pengeluaran, sementara sejumlah komoditas lainnya pada saat yang sama memberikan tekanan deflasi.

Di tengah inflasi Sumatera Barat yang mencapai 3,50 persen, Dharmasraya mencatat angka lebih tinggi, yakni 4,42 persen dengan IHK 116,88. Sebaliknya, Kota Padang menjadi daerah dengan inflasi terendah, yakni 3,33 persen dengan IHK 113,41. (*)

Baca Juga

Biaya Transportasi dan Kontrak Rumah Makin Mahal, Sumbang Inflasi Sumbar 3,50 Persen
Biaya Transportasi dan Kontrak Rumah Makin Mahal, Sumbang Inflasi Sumbar 3,50 Persen
Penumpang Domestik BIM Turun, Penerbangan Internasional Sumbar Justru Naik
Penumpang Domestik BIM Turun, Penerbangan Internasional Sumbar Justru Naik
Impor Sumbar Melonjak 123,86 Persen, Bahan Bakar Mineral Jadi Komoditas Utama
Impor Sumbar Melonjak 123,86 Persen, Bahan Bakar Mineral Jadi Komoditas Utama
Inflasi Sumbar September 2026 Tembus 3,50 Persen, Cabai Merah Jadi Penyumbang Terbesar
Inflasi Sumbar September 2026 Tembus 3,50 Persen, Cabai Merah Jadi Penyumbang Terbesar
Nilai Tukar Petani Sumbar Naik Jadi 133,58, Tanaman Perkebunan dan Ternak Jadi Pendorong
Nilai Tukar Petani Sumbar Naik Jadi 133,58, Tanaman Perkebunan dan Ternak Jadi Pendorong
Wisatawan Mancanegara ke Sumbar Melonjak 60 Persen, Okupansi Hotel Justru Turun
Wisatawan Mancanegara ke Sumbar Melonjak 60 Persen, Okupansi Hotel Justru Turun