Sumbardaily.com - Nilai Tukar Petani (NTP) Sumatera Barat (Sumbar) pada September 2026 tercatat 133,58. Angka tersebut meningkat 0,15 persen dibandingkan NTP pada bulan sebelumnya.
Kenaikan NTP Sumbar terjadi ketika harga yang diterima petani tumbuh lebih cepat dibandingkan harga yang harus dibayar petani. Kondisi tersebut tercermin dari peningkatan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 0,95 persen, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) naik 0,79 persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat mencatat peningkatan NTP tersebut turut dipengaruhi oleh perkembangan pada sejumlah subsektor pertanian. Kenaikan NTP secara umum terutama berasal dari subsektor tanaman perkebunan rakyat dan peternakan.
Sementara itu, tidak semua subsektor pertanian mengalami peningkatan. NTP pada subsektor tanaman pangan, hortikultura, dan perikanan justru mengalami penurunan.
Data tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai kondisi daya tukar yang diterima petani Sumbar pada September 2026. Kenaikan NTP menunjukkan pertumbuhan indeks harga yang diterima petani lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan indeks harga yang dibayarkan untuk kebutuhan mereka.
"Nilai Tukar Petani Sumatera Barat September 2026 sebesar 133,58 atau naik 0,15 persen dibanding NTP bulan sebelumnya," dikutip dari BPS Sumbar Jumat (2/10/2026).
Selain NTP, BPS juga mencatat Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) Sumatera Barat mengalami peningkatan. Pada September 2026, NTUP tercatat sebesar 139,19 atau naik 0,91 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan NTUP tersebut dipengaruhi oleh peningkatan harga hasil produksi petani yang mencapai 0,95 persen. Angka itu lebih tinggi dibandingkan peningkatan harga pada penambahan barang modal yang hanya sebesar 0,04 persen.
Dengan demikian, perkembangan NTP dan NTUP pada September 2026 menunjukkan adanya perubahan pada sisi harga yang diterima petani maupun biaya yang berkaitan dengan kegiatan usaha pertanian.
Di sisi lain, pergerakan harga konsumen di Sumbar pada periode yang sama menunjukkan tekanan inflasi. Pada September 2026, Sumbar mengalami inflasi bulanan atau month-to-month (M-to-M) sebesar 0,60 persen dibandingkan Agustus 2026.
Secara tahun kalender atau year-to-date (Y-to-D), inflasi Sumbar mencapai 1,83 persen. Sementara secara tahunan atau year-on-year (Y-on-Y), inflasi tercatat sebesar 3,50 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan Sumbar. Kelompok tersebut mengalami inflasi sebesar 1,77 persen dengan andil terhadap inflasi umum mencapai 0,59 persen.
Sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama pergerakan harga dalam kelompok tersebut. Komoditas yang disebut antara lain cabai merah, daging ayam ras, beras, serta ikan cakalang atau sisik.
"Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang utama terjadinya inflasi M-to-M di Sumatera Barat," dikutip dari BPS Sumbar Jumat (2/10/2026).
Seluruh wilayah cakupan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumbar juga mengalami inflasi bulanan pada September 2026. Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Pasaman Barat, Kota Padang, dan Kota Bukittinggi.
Inflasi bulanan tertinggi tercatat di Kabupaten Pasaman Barat sebesar 1,11 persen. Setelah itu, Kabupaten Dharmasraya mengalami inflasi 1,03 persen, Kota Bukittinggi sebesar 0,98 persen, dan Kota Padang sebesar 0,33 persen.
Jika dilihat secara tahunan, seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi kelompok dengan andil terbesar terhadap inflasi umum, yakni sebesar 1,38 persen.
Pada periode Y-on-Y, seluruh wilayah cakupan IHK juga mengalami inflasi. Kabupaten Dharmasraya mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 4,42 persen.
Kabupaten Pasaman Barat mengalami inflasi tahunan sebesar 3,56 persen. Sementara itu, Kota Bukittinggi mencatat inflasi 3,43 persen dan Kota Padang menjadi wilayah dengan inflasi tahunan terendah sebesar 3,33 persen.
Pergerakan harga tersebut menjadi konteks lain dalam melihat perkembangan ekonomi Sumbar pada September 2026. Di satu sisi, NTP petani meningkat karena indeks harga yang diterima petani tumbuh lebih tinggi daripada indeks harga yang dibayar. Di sisi lain, masyarakat menghadapi kenaikan harga konsumen, terutama dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Selain pertanian dan inflasi, BPS Sumbar juga mencatat perkembangan sektor pariwisata pada Agustus 2026. Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) mencapai 10.217 kunjungan.
Jumlah tersebut meningkat 60,22 persen dibandingkan Juli 2026 yang mencatat 6.377 kunjungan. Namun, jika dihitung secara kumulatif sejak Januari hingga Agustus 2026, jumlah kunjungan wisman melalui BIM mencapai 53.764 kunjungan.
Angka kumulatif tersebut justru turun 8,94 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Sementara itu, jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) dengan tujuan kabupaten dan kota di Sumbar pada Agustus 2026 mencapai 1,90 juta perjalanan. Jumlah tersebut turun 11,28 persen dibandingkan Juli 2026.
Namun, secara kumulatif Januari-Agustus 2026, perjalanan wisnus mencapai 16,20 juta perjalanan. Jumlah tersebut meningkat 3,70 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Indikator pariwisata lainnya terlihat dari tingkat penghunian kamar (TPK) hotel. Pada hotel klasifikasi bintang, TPK Agustus 2026 tercatat 50,08 persen.
Angka tersebut turun 1,78 poin persentase dibandingkan Juli 2026 yang berada di level 51,86 persen. Sementara TPK hotel klasifikasi nonbintang pada Agustus 2026 tercatat 16,87 persen, turun 2,66 poin persentase dibandingkan Juli 2026.
Rangkaian data tersebut memperlihatkan sejumlah indikator ekonomi Sumbar bergerak berbeda pada periode yang berdekatan. NTP petani meningkat pada September 2026, sementara inflasi konsumen juga tercatat naik secara bulanan maupun tahunan.
Pada sektor pariwisata, kunjungan wisman melalui BIM melonjak secara bulanan pada Agustus, tetapi jumlah kumulatifnya masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perjalanan wisatawan nusantara juga turun secara bulanan, meskipun secara kumulatif masih tumbuh dibandingkan tahun sebelumnya.
Data BPS Sumbar tersebut memberikan gambaran mengenai perkembangan pertanian, harga konsumen, dan pariwisata di Sumatera Barat hingga September 2026. (*)















