Wisatawan Mancanegara ke Sumbar Melonjak 60 Persen, Okupansi Hotel Justru Turun

Wisatawan Mancanegara ke Sumbar Melonjak 60 Persen, Okupansi Hotel Justru Turun

Kawasan Wisata Mandeh diSumatera Barat (Foto: Ditjen Kekayaan Negara Kemenkeu)

Sumbardaily.com - Pergerakan pariwisata Sumatera Barat menunjukkan perubahan cukup mencolok pada Agustus 2026. Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) melonjak lebih dari separuh dibandingkan bulan sebelumnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat, jumlah wisman yang datang melalui BIM pada Agustus 2026 mencapai 10.217 kunjungan. Angka tersebut meningkat 60,22 persen dibandingkan Juli 2026 yang tercatat sebanyak 6.377 kunjungan.

Kenaikan kunjungan wisman secara bulanan tersebut menjadi salah satu gambaran terbaru mengenai pergerakan sektor pariwisata Sumatera Barat. Namun, jika dilihat secara kumulatif, jumlah kedatangan wisatawan asing sepanjang delapan bulan pertama 2026 masih mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang melalui BIM pada Agustus 2026 tercatat sebanyak 10.217 kunjungan, atau naik 60,22 persen jika dibandingkan dengan Juli 2026 yang tercatat sebanyak 6.377 kunjungan," dikutip dari BPS Sumbar, Jumat (2/10/2026).

Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, total kunjungan wisman melalui BIM tercatat sebanyak 53.764 kunjungan. Jumlah tersebut turun 8,94 persen dibandingkan periode Januari-Agustus 2025.

Artinya, lonjakan pada Agustus belum sepenuhnya mengubah gambaran kumulatif kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang tahun berjalan. Data bulanan menunjukkan peningkatan yang cukup besar, sedangkan secara kumulatif masih tercatat kontraksi dibandingkan tahun sebelumnya.

Perjalanan Wisnus Capai 1,90 Juta

Selain wisatawan mancanegara, aktivitas perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) juga menjadi indikator penting dalam melihat perkembangan pariwisata Sumatera Barat.

Pada Agustus 2026, jumlah perjalanan wisnus yang bertujuan ke kabupaten dan kota di Sumatera Barat tercatat sebanyak 1,90 juta perjalanan. Angka itu turun 11,28 persen dibandingkan Juli 2026.

Penurunan tersebut terjadi secara bulanan. Namun, apabila dihitung secara kumulatif sejak Januari hingga Agustus 2026, jumlah perjalanan wisnus justru menunjukkan pertumbuhan.

Selama delapan bulan pertama 2026, jumlah perjalanan wisnus mencapai 16,20 juta perjalanan. Angka tersebut meningkat 3,70 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

"Secara kumulatif sepanjang Januari-Agustus 2026, jumlah perjalanan wisnus mencapai 16,20 juta perjalanan, naik 3,70 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025," dikutip dari BPS Sumbar, Jumat (2/10/2026).

Data tersebut memperlihatkan pergerakan wisata domestik Sumatera Barat masih tumbuh jika dibandingkan secara tahunan. Meski pada Agustus terjadi penurunan jumlah perjalanan dibandingkan Juli, capaian kumulatif tetap berada di atas periode yang sama tahun sebelumnya.

Okupansi Hotel Turun pada Agustus

Perkembangan pariwisata juga tercermin dari tingkat penghunian kamar (TPK) hotel. Pada Agustus 2026, tingkat hunian hotel berbintang di Sumatera Barat tercatat sebesar 50,08 persen.

Angka tersebut turun 1,78 poin persentase dibandingkan Juli 2026. Pada bulan sebelumnya, TPK hotel klasifikasi bintang tercatat sebesar 51,86 persen.

Penurunan juga terjadi pada hotel klasifikasi nonbintang. Pada Agustus 2026, TPK hotel nonbintang tercatat sebesar 16,87 persen. Angka itu turun 2,66 poin persentase dibandingkan Juli 2026.

Dengan demikian, indikator perhotelan pada Agustus menunjukkan penurunan baik pada hotel berbintang maupun nonbintang. Kondisi tersebut berjalan bersamaan dengan turunnya jumlah perjalanan wisnus secara bulanan, meskipun kunjungan wisman melalui BIM justru mengalami kenaikan cukup besar.

"Pada hotel klasifikasi bintang, TPK Agustus 2026 tercatat sebesar 50,08 persen, turun 1,78 persen poin jika dibandingkan dengan Juli 2026 yang tercatat sebesar 51,86 persen," dikutip dari BPS Sumbar, Jumat (2/10/2026).

Inflasi Sumbar Capai 3,50 Persen

Di tengah dinamika pariwisata tersebut, perkembangan harga konsumen di Sumatera Barat juga mengalami perubahan pada September 2026. Inflasi menjadi salah satu indikator ekonomi yang turut menggambarkan kondisi konsumsi masyarakat di daerah.

Pada September 2026, Sumatera Barat mengalami inflasi bulanan atau month-to-month (M-to-M) sebesar 0,60 persen dibandingkan Agustus 2026. Secara tahun kalender atau year-to-date (Y-to-D), inflasi tercatat sebesar 1,83 persen.

Sementara secara tahunan atau year-on-year (Y-on-Y), inflasi Sumatera Barat pada September 2026 mencapai 3,50 persen.

Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan Sumatera Barat. Kelompok tersebut mengalami inflasi sebesar 1,77 persen dan memberikan andil sebesar 0,59 persen terhadap inflasi umum.

Komoditas yang menjadi penyumbang utama dalam kelompok tersebut antara lain cabai merah, daging ayam ras, beras serta ikan cakalang atau sisik.

Seluruh wilayah cakupan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumatera Barat juga mengalami inflasi secara bulanan. Kabupaten Pasaman Barat mencatat inflasi tertinggi sebesar 1,11 persen.

Selanjutnya, Kabupaten Dharmasraya mengalami inflasi 1,03 persen, Kota Bukittinggi 0,98 persen dan Kota Padang 0,33 persen.

Secara tahunan, seluruh kelompok pengeluaran tercatat mengalami inflasi. Kelompok makanan, minuman dan tembakau kembali menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi umum dengan andil sebesar 1,38 persen.

Pada periode yang sama, seluruh wilayah cakupan IHK di Sumatera Barat juga mencatat inflasi tahunan. Kabupaten Dharmasraya menjadi wilayah dengan inflasi Y-on-Y tertinggi, yakni 4,42 persen.

Kabupaten Pasaman Barat mencatat inflasi tahunan 3,56 persen, Kota Bukittinggi 3,43 persen, sedangkan Kota Padang menjadi wilayah dengan inflasi Y-on-Y terendah sebesar 3,33 persen.

"Secara tahun kalender (Y-to-D) terjadi inflasi sebesar 1,83 persen, dan secara tahunan (Y-on-Y) terjadi inflasi sebesar 3,50 persen," dikutip dari BPS Sumbar, Jumat (2/10/2026).

NTP Petani Sumbar Naik

Selain pariwisata dan inflasi, BPS juga mencatat perubahan kondisi petani Sumatera Barat melalui indikator Nilai Tukar Petani (NTP).

NTP Sumatera Barat pada September 2026 mencapai 133,58. Angka tersebut meningkat 0,15 persen dibandingkan NTP pada bulan sebelumnya.

Kenaikan NTP tersebut terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) meningkat 0,95 persen. Kenaikan itu lebih tinggi dibandingkan peningkatan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang tercatat sebesar 0,79 persen.

Secara umum, peningkatan NTP didorong oleh kenaikan pada subsektor tanaman perkebunan rakyat dan peternakan. Sementara itu, subsektor tanaman pangan, hortikultura dan perikanan mengalami penurunan.

"Nilai Tukar Petani Sumatera Barat September 2026 sebesar 133,58 atau naik 0,15 persen dibanding NTP bulan sebelumnya," dikutip dari BPS Sumbar, Jumat (2/10/2026).

BPS juga mencatat Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) Sumatera Barat pada September 2026 sebesar 139,19. Angka tersebut meningkat 0,91 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Peningkatan NTUP dipengaruhi kenaikan harga hasil produksi petani sebesar 0,95 persen. Kenaikan tersebut lebih tinggi dibandingkan peningkatan harga penambahan barang modal yang hanya sebesar 0,04 persen.

Rangkaian indikator tersebut menunjukkan dinamika ekonomi Sumatera Barat pada Agustus-September 2026 berlangsung di sejumlah sektor. Pariwisata mencatat lonjakan kunjungan wisman secara bulanan, perjalanan wisnus tumbuh secara kumulatif, sementara tingkat hunian hotel mengalami penurunan. Pada saat bersamaan, inflasi September mencapai 3,50 persen secara tahunan dan NTP petani naik menjadi 133,58. (*)

Baca Juga

Nilai Tukar Petani Sumbar Naik Jadi 133,58, Tanaman Perkebunan dan Ternak Jadi Pendorong
Nilai Tukar Petani Sumbar Naik Jadi 133,58, Tanaman Perkebunan dan Ternak Jadi Pendorong
Ganti Nama BIM Jadi Bandara Syekh Burhanuddin, Pemkab Padang Pariaman Belum Bersurat
Ganti Nama BIM Jadi Bandara Syekh Burhanuddin, Pemkab Padang Pariaman Belum Bersurat
Pemkab Padang Pariaman Ungkap Asal Usul Wacana Ganti Nama BIM Jadi Bandara Syekh Burhanuddin
Pemkab Padang Pariaman Ungkap Asal Usul Wacana Ganti Nama BIM Jadi Bandara Syekh Burhanuddin
Rencana Ganti Nama BIM Jadi Bandara Syekh Burhanuddin Segera Diproses
Rencana Ganti Nama BIM Jadi Bandara Syekh Burhanuddin Segera Diproses
BIM Kembali Beroperasi, Penerbangan Padang-Jakarta Normal Lagi usai Terdampak Erupsi Gunung Anak Krakatau
BIM Kembali Beroperasi, Penerbangan Padang-Jakarta Normal Lagi usai Terdampak Erupsi Gunung Anak Krakatau
56 Penerbangan dari dan ke Bandara Internasional Minangkabau Batal Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau
56 Penerbangan dari dan ke Bandara Internasional Minangkabau Batal Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau