Sumbardaily.com - Pergerakan orang dan barang di Sumatera Barat mengalami perubahan sepanjang Agustus 2026. Di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), penumpang penerbangan internasional meningkat, sementara penumpang domestik yang berangkat justru turun.
Perubahan serupa juga terlihat pada moda kereta api. Jumlah penumpang yang berangkat mengalami penurunan, tetapi angkutan barang melonjak hampir 50 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Data tersebut merupakan bagian dari perkembangan transportasi Provinsi Sumatera Barat yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat. Data BPS Sumbar dikutip Sabtu (2/10/2026) memperlihatkan pergerakan transportasi yang berbeda antara penumpang dan arus barang.
Pada sektor penerbangan domestik, jumlah penumpang yang berangkat melalui BIM pada Agustus 2026 tercatat sebanyak 75,39 ribu orang. Jumlah tersebut turun 1,41 persen dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 76,46 ribu orang.
“Penumpang penerbangan domestik yang berangkat melalui BIM pada Agustus 2026 tercatat sebanyak 75,39 ribu orang, atau turun 1,41 persen jika dibandingkan dengan bulan Juli 2026 yang tercatat sebanyak 76,46 ribu orang,” dikutip dari BPS Sumbar, Sabtu (2/10/2026).
Sementara itu, arus kedatangan penumpang domestik justru mengalami peningkatan. Pada Agustus 2026, penumpang yang datang melalui BIM tercatat sebanyak 74,36 ribu orang.
Jumlah tersebut meningkat 0,56 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
“Untuk penumpang yang datang pada Agustus 2026 tercatat sebanyak 74,36 ribu orang, atau meningkat 0,56 persen dibandingkan bulan sebelumnya,” dikutip dari BPS Sumbar.
Penerbangan internasional meningkat
Perubahan yang lebih mencolok terjadi pada penerbangan internasional melalui BIM. Berbeda dengan penumpang domestik yang berangkat dan mengalami penurunan, jumlah penumpang internasional yang berangkat justru meningkat.
Pada Agustus 2026, penumpang penerbangan internasional yang berangkat tercatat sebanyak 20,15 ribu orang. Angka itu naik 9,03 persen dibandingkan Juli 2026.
“Pada penerbangan internasional, jumlah penumpang yang berangkat pada Agustus 2026 tercatat sebanyak 20,15 ribu orang, atau naik 9,03 persen dibandingkan Juli 2026,” dikutip dari BPS Sumbar.
Arus kedatangan internasional juga tumbuh. Jumlah penumpang yang datang melalui penerbangan internasional pada Agustus 2026 mencapai 20,55 ribu orang.
Jumlah tersebut meningkat 2,69 persen dibandingkan Juli 2026.
“Dan untuk penumpang yang datang sebanyak 20,55 ribu orang, atau naik 2,69 persen dibandingkan Juli 2026,” dikutip dari BPS Sumbar.
Dengan kondisi tersebut, aktivitas penerbangan Sumatera Barat pada Agustus 2026 memperlihatkan pola yang berbeda. Penumpang domestik yang berangkat turun, sedangkan penumpang domestik yang datang meningkat. Pada penerbangan internasional, baik keberangkatan maupun kedatangan sama-sama mengalami pertumbuhan.
Arus barang lewat laut bergerak berbeda
Perubahan transportasi juga terjadi pada angkutan laut dalam negeri. Pada Agustus 2026, jumlah barang yang dimuat tercatat sebesar 299,10 ribu ton.
Volume tersebut turun 5,82 persen dibandingkan Juli 2026.
“Untuk angkutan laut dalam negeri, jumlah barang yang dimuat tercatat sebesar 299,10 ribu ton, atau turun 5,82 persen dibanding Juli 2026,” dikutip dari BPS Sumbar.
Namun, kondisi berbeda terjadi pada barang yang dibongkar. Pada Agustus 2026, jumlah barang yang dibongkar justru mengalami peningkatan.
Volume barang yang dibongkar mencapai 346,69 ribu ton. Angka tersebut naik 4,70 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebanyak 331,14 ribu ton.
“Sedangkan barang yang dibongkar, pada Agustus 2026 tercatat mengalami peningkatan, yaitu naik sebesar 4,70 persen jika dibandingkan bulan lalu, dari 331,14 ribu ton pada Juli 2026 menjadi 346,69 ribu ton pada Agustus 2026,” dikutip dari BPS Sumbar.
Penumpang kereta turun, barang naik 49,80 persen
Moda kereta api juga menunjukkan perubahan yang kontras antara angkutan penumpang dan barang.
Pada Agustus 2026, jumlah penumpang yang berangkat menggunakan kereta api tercatat sebanyak 191,49 ribu orang. Jumlah tersebut turun 11,87 persen dibandingkan Juli 2026.
“Selanjutnya, keberangkatan penumpang kereta api pada Agustus 2026 tercatat sebanyak 191,49 ribu orang, atau turun 11,87 persen dibandingkan Juli 2026,” dikutip dari BPS Sumbar.
Di tengah penurunan jumlah penumpang, angkutan barang melalui kereta api justru meningkat cukup tajam. Jumlah barang yang diangkut tercatat mengalami kenaikan 49,80 persen secara month to month.
“Sedangkan jumlah barang yang diangkut dengan moda kereta api tercatat mengalami peningkatan 49,80 persen secara month to month,” dikutip dari BPS Sumbar.
Perubahan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan transportasi Sumatera Barat. Pada satu sisi, jumlah pengguna kereta api menurun. Namun, aktivitas pengangkutan barang melalui moda yang sama justru meningkat hampir setengah kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya.
Ekspor Sumbar tembus US$2,29 miliar
Perkembangan transportasi tersebut berlangsung bersamaan dengan meningkatnya aktivitas perdagangan luar negeri Sumatera Barat.
Nilai ekspor Sumatera Barat sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai US$2.291,03 juta. Angka tersebut meningkat 19,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar US$1.916,44 juta.
“Nilai ekspor Sumatera Barat sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai US$2.291,03 juta, mengalami peningkatan 19,55 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar US$1.916,44 juta,” dikutip dari BPS Sumbar.
Peningkatan ekspor terutama didorong sektor industri pengolahan yang mengalami pertumbuhan sebesar 22,61 persen.
Sepanjang Januari-Agustus 2026, India menjadi negara tujuan utama ekspor Sumatera Barat dengan nilai US$493,73 juta. Berikutnya Pakistan sebesar US$419,98 juta dan Tiongkok sebesar US$382,91 juta.
Dua negara lainnya dalam lima besar tujuan ekspor Sumatera Barat adalah Bangladesh dengan nilai US$257,77 juta dan Mesir sebesar US$181,84 juta.
Dari sisi komoditas, ekspor Sumatera Barat didominasi tiga kelompok utama. Golongan Lemak & Minyak Hewan/Nabati atau HS 15 memberikan share sebesar 86,46 persen.
Kemudian Berbagai Produk Kimia atau HS 38 memberikan share 3,72 persen. Sementara Karet dan Barang dari Karet atau HS 40 memberikan share 2,76 persen.
Impor melonjak 123,86 persen
Berbeda dengan ekspor yang meningkat 19,55 persen, nilai impor Sumatera Barat mengalami kenaikan jauh lebih besar secara persentase.
Nilai impor Sumatera Barat sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai US$784,48 juta. Jumlah tersebut meningkat 123,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Selanjutnya, nilai impor Sumatera Barat pada Januari-Agustus 2026 mencapai US$784,48 juta, mengalami peningkatan 123,86 persen dibanding periode yang sama tahun lalu,” dikutip dari BPS Sumbar.
Peningkatan nilai impor terutama disumbang impor bahan baku atau penolong. Secara kumulatif, impor bahan baku atau penolong tersebut meningkat 114,67 persen.
Singapura menjadi negara asal impor terbesar Sumatera Barat dengan nilai US$446,89 juta. Malaysia berada di posisi berikutnya dengan nilai US$214,29 juta.
Selanjutnya, Argentina tercatat sebesar US$32,48 juta, Kanada US$26,52 juta dan Brasil US$18,52 juta.
Untuk komoditas, tiga kelompok utama impor Sumatera Barat pada Januari-Agustus 2026 adalah Golongan Bahan Bakar Mineral atau HS 27, Ampas/Sisa Industri Makanan atau HS 23, serta Pupuk atau HS 31.
Ketiganya memberikan share masing-masing sebesar 83,43 persen, 7,63 persen dan 3,36 persen.
Meski ekspor meningkat, neraca perdagangan Sumatera Barat justru lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada Januari-Agustus 2026, neraca perdagangan Sumatera Barat mencapai US$1.506,55 juta. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Januari-Agustus 2025 yang tercatat sebesar US$1.566,01 juta.
“Neraca perdagangan Sumatera Barat pada periode Januari-Agustus 2026 mencapai US$1.506,55 juta, atau lebih rendah jika dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sebesar US$1.566,01 juta, yaitu turun US$59,46 juta,” dikutip dari BPS Sumbar.
Inflasi Sumbar September 2026 capai 3,50 persen
Selain transportasi dan perdagangan, perkembangan ekonomi Sumatera Barat juga terlihat dari pergerakan harga konsumen pada September 2026.
Pada September 2026, Sumatera Barat mengalami inflasi sebesar 0,60 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Secara tahun kalender atau Y-to-D, inflasi tercatat sebesar 1,83 persen.
Sementara secara tahunan atau Y-on-Y, inflasi Sumatera Barat tercatat sebesar 3,50 persen.
“Perkembangan harga konsumen di Sumatera Barat secara umum pada bulan September 2026 mengalami inflasi sebesar 0,60 persen dibanding bulan sebelumnya. Sementara itu, secara tahun kalender (Y-to-D) terjadi inflasi sebesar 1,83 persen, dan secara tahunan (Y-on-Y) terjadi inflasi sebesar 3,50 persen,” dikutip dari BPS Sumbar, Sabtu (2/10/2026).
Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi secara bulanan. Kelompok tersebut mengalami inflasi sebesar 1,77 persen dan memberikan andil sebesar 0,59 persen.
Komoditas utama yang menjadi penyumbang adalah cabai merah, daging ayam ras, beras dan ikan cakalang/sisik.
“Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang utama terjadinya inflasi M-to-M di Sumatera Barat. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 1,77 persen dan memberikan andil sebesar 0,59 persen dengan komoditas utamanya adalah cabai merah, daging ayam ras, beras dan ikan cakalang/sisik,” dikutip dari BPS Sumbar.
Seluruh wilayah cakupan IHK di Sumatera Barat mengalami inflasi secara month to month. Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Pasaman Barat, Kota Padang dan Kota Bukittinggi.
Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Pasaman Barat sebesar 1,11 persen. Selanjutnya Kabupaten Dharmasraya sebesar 1,03 persen, Kota Bukittinggi 0,98 persen dan Kota Padang 0,33 persen.
Secara tahunan, seluruh kelompok pengeluaran juga mengalami inflasi. Kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi umum, yaitu sebesar 1,38 persen.
Sementara itu, seluruh wilayah cakupan IHK mengalami inflasi Y-on-Y. Kabupaten Dharmasraya mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 4,42 persen.
Inflasi tahunan Kota Padang menjadi yang terendah dengan angka 3,33 persen. Kabupaten Pasaman Barat mengalami inflasi 3,56 persen, sedangkan Kota Bukittinggi tercatat 3,43 persen.
Rangkaian data tersebut menunjukkan perubahan aktivitas Sumatera Barat dari sisi transportasi, arus barang, perdagangan luar negeri hingga harga konsumen. Pada Agustus 2026, penerbangan internasional meningkat, sementara penumpang domestik dan kereta api mengalami penurunan pada sisi tertentu.
Di sisi lain, angkutan barang melalui kereta api meningkat 49,80 persen secara month to month. Arus barang yang dibongkar melalui angkutan laut juga naik 4,70 persen.
Pada sektor perdagangan, ekspor Sumatera Barat Januari-Agustus 2026 meningkat 19,55 persen, sementara impor melonjak 123,86 persen. Pada September 2026, inflasi tahunan Sumatera Barat tercatat 3,50 persen dengan kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi salah satu penyumbang utama. (*)
















