Sumbardaily.com - Kenaikan biaya transportasi dan tempat tinggal ikut membuat harga kebutuhan masyarakat Sumatera Barat meningkat sepanjang September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi year-on-year (y-on-y) Sumbar mencapai 3,50 persen pada September 2026.
Dari sejumlah kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan harga, kelompok transportasi tercatat mengalami inflasi y-on-y sebesar 4,66 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga mengalami inflasi sebesar 1,26 persen. Di dalam kelompok tersebut, kontrak rumah dan sewa rumah turut memberikan sumbangan terhadap inflasi.
“Pada September 2026 terjadi inflasi year on year (y-on-y) Provinsi Sumatera Barat sebesar 3,50 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 114,47,” tulis BPS Sumbar dikutip Minggu (4/10/2026).
Data tersebut tercantum dalam Berita Resmi Statistik (BRS) Nomor 59/10/13/Th. XXIX tentang Perkembangan Indeks Harga Konsumen Provinsi Sumatera Barat September 2026 yang dirilis 1 Oktober 2026.
Secara umum, inflasi Sumbar pada September 2026 terjadi karena kenaikan harga pada seluruh 11 kelompok pengeluaran. Selain transportasi dan perumahan, kenaikan juga terjadi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau; pakaian dan alas kaki; perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga; kesehatan; informasi, komunikasi dan jasa keuangan; rekreasi, olahraga dan budaya; pendidikan; penyediaan makanan dan minuman/restoran; serta perawatan pribadi dan jasa lainnya.
BPS mencatat kelompok transportasi memberikan andil inflasi y-on-y sebesar 0,49 persen. Angka tersebut menjadi salah satu sumbangan yang cukup besar terhadap inflasi tahunan Sumbar.
Pada September 2026, indeks kelompok transportasi tercatat 118,65, naik dibandingkan 113,37 pada September 2025. Secara tahunan, kelompok ini mengalami inflasi 4,66 persen.
Kenaikan tersebut terjadi pada seluruh subkelompok transportasi. Inflasi y-on-y tertinggi tercatat pada subkelompok jasa pengiriman barang sebesar 13,39 persen.
Berikutnya, subkelompok jasa angkutan penumpang mengalami inflasi 6,56 persen. Subkelompok pengoperasian peralatan transportasi pribadi naik 5,21 persen, sedangkan subkelompok pembelian kendaraan mengalami inflasi 2,78 persen.
Sejumlah biaya transportasi yang memberikan sumbangan terhadap inflasi tahunan juga tercatat dalam data BPS. Bensin memberikan andil 0,21 persen, mobil 0,07 persen, angkutan udara 0,06 persen, serta biaya pemeliharaan atau service sebesar 0,05 persen.
Sepeda motor dan pelumas atau oli mesin masing-masing memberikan andil 0,02 persen. Sementara itu, angkutan antarkota, biaya pengiriman barang, ban luar motor, dan tarif kendaraan travel masing-masing memberikan andil 0,01 persen.
Meski secara tahunan mengalami kenaikan, kelompok transportasi justru memberikan andil deflasi secara bulanan. Pada September 2026, kelompok transportasi memberikan andil deflasi month-to-month (m-to-m) sebesar 0,02 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil tersebut adalah angkutan udara sebesar 0,02 persen.
Kontrak Rumah Ikut Mengerek Inflasi
Selain biaya transportasi, biaya yang berkaitan dengan tempat tinggal juga ikut menambah tekanan harga di Sumbar. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi y-on-y sebesar 1,26 persen.
Indeks kelompok tersebut naik dari 104,47 pada September 2025 menjadi 105,79 pada September 2026. Kelompok ini memberikan andil inflasi y-on-y sebesar 0,22 persen.
Seluruh subkelompok dalam kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi secara tahunan. Kenaikan tertinggi terjadi pada subkelompok pemeliharaan, perbaikan, dan keamanan tempat tinggal/perumahan sebesar 3,73 persen.
Kemudian subkelompok listrik dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi 1,58 persen. Subkelompok sewa dan kontrak rumah naik 0,92 persen, sedangkan penyediaan air dan layanan perumahan lainnya mengalami inflasi 0,37 persen.
Sejumlah komoditas turut memberikan sumbangan inflasi. Bahan bakar rumah tangga memberikan andil 0,07 persen. Kontrak rumah dan sewa rumah masing-masing memberikan andil 0,05 persen.
Selain itu, seng, cat tembok, batu bata atau batu tela, dan keramik masing-masing memberikan andil sebesar 0,01 persen terhadap inflasi y-on-y.
Tekanan biaya tempat tinggal juga terlihat secara bulanan. Pada September 2026, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi m-to-m sebesar 0,02 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan terhadap inflasi bulanan tersebut adalah kontrak rumah sebesar 0,01 persen.
Inflasi Sumbar 3,50 Persen
Secara keseluruhan, inflasi y-on-y Sumatera Barat pada September 2026 tercatat 3,50 persen. IHK Sumbar meningkat dari 110,60 pada September 2025 menjadi 114,47 pada September 2026.
Sementara secara bulanan, Sumbar mengalami inflasi 0,60 persen. Adapun inflasi year to date (y-to-d) hingga September 2026 mencapai 1,83 persen.
“Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Dharmasraya sebesar 4,42 persen dengan IHK sebesar 116,88 dan inflasi terendah terjadi di Kota Padang sebesar 3,33 persen dengan IHK sebesar 113,41,” tulis BPS Sumbar dikutip Minggu (4/10/2026).
Selain transportasi dan perumahan, sejumlah kelompok lain juga memberikan sumbangan terhadap inflasi tahunan. Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,38 persen. Kelompok transportasi menyusul dengan andil 0,49 persen.
Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran memberikan andil 0,42 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang 0,39 persen.
Kemudian kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil 0,22 persen. Kelompok pakaian dan alas kaki serta kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga masing-masing menyumbang 0,19 persen.
Kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan memberikan andil 0,11 persen. Pendidikan menyumbang 0,06 persen, kesehatan 0,03 persen, serta rekreasi, olahraga dan budaya 0,02 persen.
Dari sisi komoditas, BPS mencatat sejumlah barang dan jasa yang dominan memberikan sumbangan inflasi y-on-y. Di antaranya daging ayam ras, emas perhiasan, beras, bensin, minyak goreng, ikan cakalang atau ikan sisik, nasi dengan lauk, Sigaret Kretek Mesin (SKM), ikan nila, bahan bakar rumah tangga, mobil, ikan gembolo atau ikan aso-aso, angkutan udara, ayam goreng, laptop/notebook, telepon seluler, pemeliharaan atau service, kontrak rumah, ikan tongkol atau ikan ambu-ambu, dan sewa rumah.
Di sisi lain, terdapat sejumlah komoditas yang justru memberikan andil deflasi y-on-y. Komoditas tersebut antara lain cabai merah, bawang merah, telur ayam ras, petai, kentang, sabun cair atau cuci piring, serta jeruk nipis atau limau.
Untuk pergerakan bulanan, komoditas yang dominan memberikan andil inflasi m-to-m antara lain cabai merah, daging ayam ras, beras, cabai hijau, ikan cakalang atau ikan sisik, bawang merah, kontrak rumah, ikan gembolo atau ikan aso-aso, pepaya, laptop/notebook, ikan serai, ikan anak tandeman, telur puyuh, SKM, belut, Sigaret Putih Mesin (SPM), masker, dan semangka.
Adapun komoditas yang memberikan sumbangan deflasi m-to-m antara lain emas perhiasan, cabai rawit, angkutan udara, jengkol, kentang, tomat, buncis, wortel, dan daun seledri.
Di antara kelompok pengeluaran lainnya, kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi y-on-y sebesar 4,06 persen dengan andil 1,38 persen. Kenaikan tersebut terutama berasal dari subkelompok makanan yang mengalami inflasi 4,28 persen.
Komoditas daging ayam ras memberikan andil 0,31 persen, beras 0,23 persen, serta minyak goreng dan ikan cakalang atau ikan sisik masing-masing 0,11 persen.
Kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami inflasi 5,67 persen. Sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi 7,47 persen, dengan emas perhiasan memberikan andil 0,30 persen terhadap inflasi tahunan.
Dengan demikian, perkembangan harga pada September 2026 menunjukkan tekanan inflasi Sumbar tidak hanya berasal dari kebutuhan pangan. Biaya perjalanan dan pengiriman, pembelian serta perawatan kendaraan, hingga kebutuhan tempat tinggal seperti kontrak dan sewa rumah juga tercatat memberikan sumbangan terhadap inflasi tahunan provinsi tersebut. (*)
















