Sumbardaily.com – Tanaman Tithonia yang selama ini lebih sering dianggap sebagai gulma dan tumbuh liar di tepi jalan, pematang sawah, lahan kosong, hingga kawasan perkebunan, ternyata menyimpan potensi besar sebagai pakan berkualitas bagi ternak ruminansia.
Temuan tersebut diungkap melalui hasil penelitian dosen Departemen Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan Universitas Andalas (Unand), yang menunjukkan bahwa tanaman ini mampu menjadi alternatif sumber protein lokal untuk mendukung produktivitas kambing perah sekaligus menekan ketergantungan terhadap pakan konvensional.
Penelitian yang dilakukan Roni Pazla memperlihatkan bahwa pemanfaatan Tanaman Tithonia dalam formulasi ransum yang tepat dapat meningkatkan pemanfaatan nutrien, menjaga keseimbangan proses fermentasi di dalam rumen, serta mendukung peningkatan produksi susu kambing perah.
Selain itu, penggunaan tanaman tersebut juga dinilai dapat menjadi solusi dalam menghadapi tingginya biaya pakan yang selama ini menjadi tantangan utama bagi peternak.
Menurut Roni, ketersediaan hijauan berkualitas tidak selalu stabil sepanjang tahun. Pada musim kemarau, pasokan hijauan sering mengalami penurunan, sedangkan penggunaan pakan konsentrat membutuhkan biaya yang relatif tinggi.
Kondisi tersebut mendorong perlunya pemanfaatan sumber daya lokal yang mudah diperoleh, memiliki kandungan nutrisi tinggi, dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
"Tithonia merupakan tanaman yang tumbuh cepat, mudah dibudidayakan, dan memiliki kandungan protein kasar sekitar 19 hingga 25 persen. Kandungan ini menjadikannya salah satu hijauan yang potensial untuk mendukung kebutuhan nutrisi ternak," ujar Roni dikutip Sabtu (17/7/2026).
Selain memiliki kadar protein yang tinggi, Tanaman Tithonia juga mengandung mineral serta asam amino esensial yang berperan penting dalam menunjang aktivitas mikroorganisme rumen.
Mikroorganisme tersebut berfungsi membantu proses pencernaan serat sehingga nutrien dalam pakan dapat dimanfaatkan secara lebih efisien oleh ternak.
Meski demikian, Roni mengingatkan bahwa pemanfaatan tithonia tidak dapat dilakukan secara berlebihan. Tanaman tersebut diketahui masih mengandung senyawa antinutrisi, seperti tanin dan asam fitat, yang berpotensi menurunkan daya cerna apabila diberikan dalam jumlah yang terlalu tinggi.
Karena itu, penyusunan formulasi ransum menjadi faktor penting agar manfaat tanaman ini dapat diperoleh secara optimal.
Melalui penelitian in vitro menggunakan cairan rumen, tim peneliti berhasil mengidentifikasi formulasi ransum yang memberikan hasil terbaik. Komposisi yang terdiri atas 50 persen rumput Pakchong, 40 persen tithonia, 9 persen konsentrat, dan 1 persen mineral terbukti menghasilkan tingkat kecernaan nutrien yang tinggi.
Formulasi tersebut juga mampu menjaga keseimbangan fermentasi rumen sekaligus menghasilkan produksi gas metana yang lebih rendah dibandingkan formulasi lainnya.
Sebaliknya, penggunaan tithonia dengan proporsi di atas 45 persen justru menyebabkan penurunan tingkat kecernaan serta efisiensi proses fermentasi di dalam rumen.
Potensi Tanaman Tithonia sebagai pakan berkualitas juga dibuktikan melalui penelitian terhadap kambing perah Peranakan Etawa (PE).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tanaman tersebut dalam ransum mampu meningkatkan konsumsi bahan kering, meningkatkan konsumsi protein, serta memperbaiki kadar lemak susu tanpa menurunkan produksi susu yang dihasilkan ternak.
Penelitian lanjutan yang mengombinasikan tithonia dengan bungkil inti sawit, konsentrat, dan daun katuk memberikan hasil yang lebih menggembirakan.
Produksi susu kambing meningkat dari sekitar 859 mililiter menjadi lebih dari 1.061 mililiter per ekor per hari. Tidak hanya itu, kualitas susu juga mengalami peningkatan yang ditandai dengan bertambahnya kandungan asam amino esensial, seperti lisin dan leusin.
Roni menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas tersebut merupakan hasil dari formulasi ransum yang seimbang. Dalam komposisi tersebut, tithonia berperan sebagai sumber hijauan sekaligus sumber protein, sedangkan bahan pakan lainnya berfungsi memenuhi kebutuhan energi serta menyediakan senyawa bioaktif yang mendukung proses laktasi pada kambing perah.
Oleh sebab itu, penerapan hasil penelitian di tingkat peternak perlu dilakukan secara bertahap. Penggunaan tithonia disarankan tetap dikombinasikan dengan hijauan lain serta sumber energi tambahan agar keseimbangan nutrisi tetap terjaga dan manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal.
Hasil penelitian ini membuka perspektif baru terhadap keberadaan Tanaman Tithonia yang selama ini identik sebagai gulma. Dengan kandungan protein yang tinggi dan potensi meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrien, tanaman tersebut kini dipandang sebagai salah satu sumber protein lokal yang berpeluang memperkuat kemandirian pakan ternak.
Selain mendukung peningkatan produktivitas kambing perah, pemanfaatan Tanaman Tithonia juga berpotensi membantu peternak menekan biaya produksi melalui penggunaan bahan pakan lokal yang mudah diperoleh.
Temuan dari Unand ini sekaligus menunjukkan bahwa optimalisasi sumber daya lokal dapat menjadi salah satu strategi dalam mendukung pengembangan peternakan ruminansia yang lebih efisien dan berkelanjutan. (*)
















