Penelitian Guru Besar Unand Temukan Gizi Remaja Putri Berpengaruh pada Kesehatan Bayi

Penelitian Guru Besar Unand Temukan Gizi Remaja Putri Berpengaruh pada Kesehatan Bayi

Guru Besar Bidang Ilmu Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas (Unand), Prof. Dr. Azrimaidaliza, S.K.M., M.K.M., saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (8/7/2026). (Foto: Unand)

Sumbardaily.com - Status gizi perempuan sebelum memasuki masa kehamilan menjadi faktor yang sangat menentukan kualitas kesehatan generasi berikutnya. Karena itu, upaya melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan bebas stunting dinilai harus dimulai sejak perempuan berada pada masa remaja, bukan hanya ketika telah hamil.

Pandangan tersebut disampaikan Guru Besar Bidang Ilmu Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas (Unand), Prof. Dr. Azrimaidaliza, S.K.M., M.K.M., saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (8/7/2026). Menurutnya, status gizi perempuan sebelum dan selama kehamilan memiliki pengaruh besar terhadap kondisi kesehatan bayi yang akan dilahirkan.

Prof. Azrimaidaliza menjelaskan Indonesia hingga kini masih menghadapi triple burden of malnutrition, yakni stunting, kekurangan zat gizi mikro, dan obesitas. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan gizi tidak hanya dipengaruhi oleh kurangnya asupan makanan, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor yang saling berkaitan sepanjang siklus kehidupan.

"Status gizi ibu sebelum hamil dan selama kehamilan sangat menentukan kesehatan bayi yang akan dilahirkan," kata Prof. Azrimaidaliza.

Ia menerangkan, perempuan yang memasuki masa kehamilan dengan kondisi gizi baik memiliki peluang lebih besar melahirkan bayi dengan status gizi yang optimal. Sebaliknya, perempuan yang mengalami kekurangan gizi sejak usia remaja berisiko lebih tinggi mengalami anemia, Kurang Energi Kronis (KEK), melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, hingga meningkatkan risiko stunting yang dapat berlanjut pada generasi berikutnya.

Menurut Prof. Azrimaidaliza, masalah gizi pada ibu tidak muncul secara tiba-tiba ketika memasuki masa kehamilan. Kondisi tersebut merupakan akumulasi dari berbagai faktor yang terjadi sejak usia remaja.

Ia menyebut pola makan yang kurang sehat, aktivitas fisik yang tidak seimbang, pengaruh media sosial, lingkungan keluarga, hingga rendahnya pemahaman mengenai gizi menjadi sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut. Oleh sebab itu, upaya perbaikan gizi perlu dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan berbagai sektor.

Berdasarkan hasil riset yang dilakukannya, sekitar sepertiga remaja putri di salah satu wilayah Sumatera Barat masih mengalami gizi kurang. Selain itu, hampir 20 persen remaja putri memiliki asupan protein yang belum memenuhi kebutuhan harian.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi berlanjut hingga masa kehamilan apabila tidak segera mendapatkan perhatian. Dampaknya tidak hanya meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada ibu, tetapi juga memengaruhi kualitas kesehatan bayi yang akan dilahirkan.

Prof. Azrimaidaliza juga menyoroti pentingnya pemenuhan kebutuhan energi dan protein selama masa kehamilan. Berdasarkan hasil penelitian kohort yang dilakukannya, ibu hamil dengan asupan energi kurang dari 1.800 kkal per hari memiliki risiko 1,7 kali lebih besar melahirkan bayi dengan berat lahir di bawah 3 kilogram.

Selain itu, ibu hamil yang mengonsumsi protein kurang dari 65 gram per hari memiliki risiko hingga 3,6 kali lebih besar melahirkan bayi dengan panjang lahir kurang dari 48 sentimeter.

Di sisi lain, ketahanan pangan keluarga juga menjadi faktor yang berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan gizi ibu hamil. Penelitian yang dilakukan di Kabupaten Pesisir Selatan menunjukkan lebih dari separuh ibu hamil berada dalam kondisi rawan pangan. Situasi tersebut berkaitan erat dengan kondisi sosial ekonomi keluarga.

Menurut Prof. Azrimaidaliza, kondisi rawan pangan tersebut berpotensi meningkatkan risiko anemia dan Kurang Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh ibu, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas kesehatan bayi yang dilahirkan.

Ia menegaskan bahwa investasi terbaik untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah memastikan setiap perempuan memasuki masa kehamilan dengan status gizi yang baik.

"Perbaikan gizi sejak remaja hingga masa kehamilan menjadi strategi penting untuk memutus rantai masalah gizi antargenerasi sekaligus mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, tumbuh optimal, dan bebas stunting sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045," ujar Prof. Azrimaidaliza.

Menurut Guru Besar FKM Universitas Andalas (Unand) tersebut, perbaikan status gizi perempuan sejak usia remaja perlu menjadi perhatian bersama karena berperan penting dalam menentukan kualitas kesehatan ibu dan anak. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun sumber daya manusia yang lebih berkualitas menuju Indonesia Emas 2045. (*)

Baca Juga

Guru Besar UNAND Tawarkan Paradigma Baru Bangunan Pelindung Pantai, Tipologi Jadi Faktor Penentu
Guru Besar UNAND Tawarkan Paradigma Baru Bangunan Pelindung Pantai, Tipologi Jadi Faktor Penentu
Unand Kukuhkan 7 Guru Besar Baru, Kini Miliki 230 Profesor di 15 Fakultas
Unand Kukuhkan 7 Guru Besar Baru, Kini Miliki 230 Profesor di 15 Fakultas
Riset Unand Ungkap Kearifan Lokal Minangkabau Jadi Solusi Hadapi Perubahan Iklim di Sumbar
Riset Unand Ungkap Kearifan Lokal Minangkabau Jadi Solusi Hadapi Perubahan Iklim di Sumbar
Terowongan Tol Sicincin–Bukittinggi 5,8 Km Jadi Fokus Riset Pusat Studi Terowongan dan Infrastruktur Bawah Tanah
Terowongan Tol Sicincin–Bukittinggi 5,8 Km Jadi Fokus Riset Pusat Studi Terowongan dan Infrastruktur Bawah Tanah
4.546 Peserta Ikuti SIMA Unand 2026, Rektor Pastikan Seleksi Objektif dan Transparan
4.546 Peserta Ikuti SIMA Unand 2026, Rektor Pastikan Seleksi Objektif dan Transparan
Pusat Studi Terowongan Pertama di Indonesia Hadir di Unand, Dukung Infrastruktur Sumbar
Pusat Studi Terowongan Pertama di Indonesia Hadir di Unand, Dukung Infrastruktur Sumbar