Banjir Tanah Datar Belum Sepenuhnya Surut, BNPB Ingatkan Ancaman Hidrometeorologi

Banjir Tanah Datar Belum Sepenuhnya Surut, BNPB Ingatkan Ancaman Hidrometeorologi

Banjir terjadi di Kabupaten Tanah Datar pada Rabu (13/5/2026). (Foto: BNPB)

Sumbardaily.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 11 kejadian bencana terjadi di berbagai wilayah Indonesia dalam periode Rabu (13/5/2026) pukul 07.00 WIB hingga Kamis (14/5/2026) pukul 07.00 WIB.

Dari seluruh kejadian tersebut, banjir yang melanda Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat, menjadi salah satu peristiwa yang paling menonjol karena terjadi saat daerah tersebut masih berada dalam masa pemulihan pascabencana sebelumnya.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D., menyampaikan bahwa terdapat lima kejadian bencana yang berdampak signifikan dan masih dalam penanganan pemerintah daerah bersama unsur terkait.

Di Sumatera Barat, banjir terjadi di Kabupaten Tanah Datar pada Rabu (13/5/2026). BNPB mencatat bencana tersebut berdampak pada 275 kepala keluarga atau 252 jiwa terdampak. Selain itu, sebanyak 122 unit rumah dilaporkan ikut terdampak banjir.

Pendataan terhadap dampak banjir hingga kini masih terus dilakukan oleh petugas di lapangan. Meski kondisi banjir dilaporkan mulai berangsur surut, proses penanganan masih menghadapi kendala karena terdapat wilayah yang sulit dijangkau akibat putusnya jembatan penghubung.

“Banjir melanda Kabupaten Tanah Datar pada Rabu (13/5) dan berdampak pada 275 KK atau 252 jiwa terdampak serta 122 unit rumah terdampak. Hingga saat ini pendataan masih terus dilakukan,” ujar Abdul Muhari dalam laporan perkembangan penanganan bencana BNPB.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena saat banjir kembali terjadi, Pemerintah Kabupaten Tanah Datar diketahui masih berada dalam masa transisi darurat menuju pemulihan pascabencana banjir dan longsor yang terjadi pada November 2025 lalu.

Status transisi darurat ke pemulihan tersebut masih berlaku sejak 28 Desember 2025 hingga 31 Juli 2026 mendatang. Situasi ini menunjukkan bahwa wilayah Tanah Datar masih menghadapi kerentanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi.

Selain di Sumatera Barat, BNPB juga mencatat kejadian kekeringan di Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur. Peristiwa yang terjadi pada Rabu (13/5) itu berdampak pada 89 kepala keluarga.

Sebagai langkah penanganan darurat, BPBD Kabupaten Bondowoso mendistribusikan bantuan air bersih kepada warga terdampak menggunakan dua unit truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter.

BNPB turut memantau perkembangan bencana lain yang masih dalam tahap penanganan dan pengkinian data. Salah satunya gerakan tanah di Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, yang terjadi sejak Selasa (6/5).

Bencana gerakan tanah tersebut berdampak pada 11 kepala keluarga dan menyebabkan empat kepala keluarga harus mengungsi. Selain itu, tercatat tiga rumah mengalami rusak ringan, tujuh rumah rusak sedang, dan satu rumah mengalami rusak berat.

Hingga kini proses penanganan di Cilacap masih berlangsung. Akses jalan yang mengalami ambles juga belum dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

Pemerintah daerah setempat telah menetapkan status siaga darurat sejak Selasa (30/9/2026) hingga Sabtu (30/5/2026).

Sementara itu di Provinsi Sulawesi Tenggara, banjir di Kabupaten Kolaka Timur yang terjadi sejak Kamis (8/5/2026) berdampak pada 282 kepala keluarga. BNPB mencatat sebanyak 276 unit rumah terdampak, dua rumah rusak ringan, dan empat rumah rusak sedang.

Pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat sejak Jumat (8/5) hingga Jumat (22/5). Kondisi banjir di wilayah tersebut kini dilaporkan telah surut.

Masih di Sulawesi Tenggara, banjir juga melanda Kabupaten Kolaka pada Selasa (12/5). BNPB mencatat sebanyak 595 kepala keluarga atau 2.062 jiwa terdampak akibat bencana tersebut.

Selain berdampak pada warga, banjir di Kolaka juga menyebabkan 587 unit rumah terdampak. Pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat sejak Rabu (13/5) hingga Selasa (26/5).

“Kondisi terkini menunjukkan genangan telah surut dan warga mulai melakukan pembersihan rumah terdampak,” kata Abdul Muhari.

Tidak hanya memantau kejadian hidrometeorologi, BNPB juga terus mengawasi aktivitas gunung api berdasarkan laporan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Hingga Rabu (13/5/2026), terdapat tiga gunung api berstatus Level III atau Siaga, yakni Gunung Lewotobi Laki-laki di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Gunung Semeru di Provinsi Jawa Timur.

Di sisi lain, berdasarkan prakiraan cuaca BMKG, sejumlah wilayah di Indonesia masih berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang. Wilayah tersebut meliputi Aceh, Kepulauan Riau, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Papua, dan Nusa Tenggara Barat.

BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah maupun kering, seperti banjir, gerakan tanah, cuaca ekstrem, hingga kekeringan.

Masyarakat juga diminta terus memantau informasi resmi dari pemerintah daerah, BPBD, dan BMKG serta segera melakukan langkah antisipasi dan evakuasi apabila terjadi peningkatan ancaman bahaya.

Menurut BNPB, kesiapsiagaan serta respons cepat dari seluruh unsur menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko dan dampak bencana di berbagai daerah. (*)

Baca Juga

El Nino Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027, BMKG Siaga Hadapi Ancaman Kekeringan
El Nino Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027, BMKG Siaga Hadapi Ancaman Kekeringan
BMKG Ungkap Dampak El Nino 2026, Risiko Karhutla Meluas hingga Sumatera dan Kalimantan
BMKG Ungkap Dampak El Nino 2026, Risiko Karhutla Meluas hingga Sumatera dan Kalimantan
Datang ke Kondangan, Pria 58 Tahun Diduga Curi HP Tamu di Nagari Paninjauan Tanah Datar
Datang ke Kondangan, Pria 58 Tahun Diduga Curi HP Tamu di Nagari Paninjauan Tanah Datar
Sebaran Sirine Tsunami di Sumbar Diperbarui, Ini Jumlah Aktif dan Tidak Aktif
Sebaran Sirine Tsunami di Sumbar Diperbarui, Ini Jumlah Aktif dan Tidak Aktif
Rehabilitasi Jalan Baso–Batusangkar di Tanah Datar Dimulai, Anggaran Rp3,4 Miliar Digelontorkan
Rehabilitasi Jalan Baso–Batusangkar di Tanah Datar Dimulai, Anggaran Rp3,4 Miliar Digelontorkan
Jembatan Bailey Pulihkan Akses Tanah Datar-Sijunjung, Dana TKD Percepat Pemulihan Pascabanjir Bandang
Jembatan Bailey Pulihkan Akses Tanah Datar-Sijunjung, Dana TKD Percepat Pemulihan Pascabanjir Bandang