Jembatan Bailey Pulihkan Akses Tanah Datar-Sijunjung, Dana TKD Percepat Pemulihan Pascabanjir Bandang

Jembatan Bailey Pulihkan Akses Tanah Datar-Sijunjung, Dana TKD Percepat Pemulihan Pascabanjir Bandang

Setelah terputus selama sekitar satu setengah bulan akibat banjir bandang, akses utama yang menghubungkan Ruas Jalan Sitangkai-Tanjung Ampalu di perbatasan Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Sijunjung kini kembali dapat dilalui kendaraan. (Foto: Pemprov Sumbar)

Sumbardaily.com - Pemanfaatan dana Transfer ke Daerah (TKD) oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk mempercepat penanganan dampak bencana mulai menunjukkan hasil di lapangan.

Setelah terputus selama sekitar satu setengah bulan akibat banjir bandang, akses utama yang menghubungkan Ruas Jalan Sitangkai-Tanjung Ampalu di perbatasan Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Sijunjung kini kembali dapat dilalui kendaraan.

Normalnya kembali jalur penghubung tersebut menjadi titik balik pemulihan aktivitas masyarakat yang sebelumnya terganggu akibat putusnya jembatan pada 20 Mei 2026. Sejak 9 Juli 2026, Jembatan Bailey yang dibangun Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Bina Marga, Cipta Karya, dan Tata Ruang (BMCKTR) resmi difungsikan sehingga mobilitas warga kembali berjalan.

Selama akses utama terputus, masyarakat di kedua kabupaten harus menggunakan jalur alternatif melalui Kumani-Tanjung Bonai Aua-Koto Panjang-Tigo Jangko-Pangian Lintau. Rute tersebut menambah jarak perjalanan sekitar 19 hingga 20 kilometer dengan waktu tempuh mencapai satu jam.

Kondisi itu tidak hanya menyulitkan mobilitas warga, tetapi juga memberikan dampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Pelajar dan mahasiswa asal Kabupaten Sijunjung yang menempuh pendidikan di Kabupaten Tanah Datar harus melakukan perjalanan lebih jauh setiap hari. Akibatnya, biaya transportasi meningkat dibandingkan saat akses utama masih berfungsi yang sebelumnya hanya membutuhkan waktu tempuh beberapa menit.

Gangguan juga dirasakan sektor ekonomi. Distribusi hasil pertanian, hasil perkebunan, serta kebutuhan pokok masyarakat ikut terhambat. Dampaknya dirasakan para petani, pedagang, pelaku UMKM, hingga penyedia jasa angkutan yang mengalami penurunan pendapatan karena terganggunya arus logistik.

Kini, situasi tersebut mulai berubah. Setelah Jembatan Bailey dibuka, kendaraan dari berbagai jenis kembali melintasi jalur tersebut. Bus penumpang, truk ekspedisi, kendaraan pengangkut hasil pertanian dan perkebunan, mobil pikap, hingga sepeda motor kembali menggunakan akses tersebut. Para pelajar pun dapat kembali berangkat dan pulang sekolah melalui jalur yang telah dipulihkan.

Kepala UPTD Workshop dan Peralatan Dinas BMCKTR Sumbar, Mitra Hengki, mengatakan pembangunan Jembatan Bailey merupakan bagian dari percepatan pemanfaatan dana Transfer ke Daerah (TKD) untuk penanganan dampak bencana sesuai arahan Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah dan Wakil Gubernur Vasko Ruseimy.

"Total anggaran pembangunan Jembatan Bailey beserta pemasangannya mencapai Rp4,9 miliar. Ini merupakan tindak lanjut atas komitmen Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk mempercepat pemanfaatan dana TKD dalam penanganan bencana sehingga masyarakat dapat kembali lancar beraktivitas secepat mungkin," ujar Mitra Hengki di Tanah Datar, Selasa (28/7/2026).

Ia menjelaskan, jembatan yang dibangun memiliki panjang 42 meter dengan lebar 4,2 meter. Infrastruktur sementara tersebut dirancang mampu menahan beban kendaraan hingga 15 sampai 20 ton sehingga dapat menunjang aktivitas transportasi masyarakat maupun distribusi logistik.

Menurut Mitra Hengki, tahapan pembangunan yang paling banyak menyita waktu berada pada pengerjaan pondasi tapak rangka atau abutment jembatan. Pekerjaan tersebut dilaksanakan secara swakelola dengan anggaran sekitar Rp800 juta. Adapun pengadaan konstruksi Jembatan Bailey menghabiskan anggaran sekitar Rp4,1 miliar.

"Perakitan jembatan dimulai pada 6 Juli dan tiga hari kemudian, tepatnya 9 Juli, sudah dapat dilalui masyarakat. Pekerjaan yang paling lama memang pada pembangunan tapak jembatan dan ditargetkan selesai seluruhnya pada awal Agustus mendatang," jelasnya.

Ia menegaskan keberadaan Jembatan Bailey merupakan solusi cepat untuk memulihkan konektivitas masyarakat sembari menunggu pembangunan jembatan permanen yang diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp25 miliar.

"Meski bersifat sementara, Jembatan Bailey memiliki daya tahan yang cukup lama dan dapat digunakan bertahun-tahun dengan kapasitas beban hingga 15 sampai 20 ton," katanya.

Menurut Mitra Hengki, percepatan pembangunan jembatan tersebut menunjukkan komitmen Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dalam merespons kebutuhan masyarakat yang terdampak bencana.

"Ini membuktikan bahwa Pemprov Sumbar selalu hadir dan bergerak cepat ketika masyarakat membutuhkan," ujarnya.

Dampak positif dibukanya kembali akses penghubung itu juga dirasakan langsung masyarakat setempat. Wali Nagari Taluk, Pendi Aswil, mengatakan putusnya jembatan selama satu setengah bulan membuat masyarakat benar-benar terisolasi karena seluruh aktivitas harus dialihkan melalui jalur alternatif yang jauh lebih panjang.

Ia menjelaskan sebagian besar warga di wilayah tersebut menggantungkan mata pencaharian dari sektor perkebunan karet. Selain itu, terdapat pula masyarakat yang berprofesi sebagai peternak ayam petelur sehingga distribusi hasil produksi sempat mengalami kendala ketika akses utama terputus.

"Selama akses terputus, perekonomian masyarakat praktis lumpuh. Banyak pelaku UMKM memilih menutup usahanya karena aktivitas ekonomi berhenti. Sekarang setelah Jembatan Bailey dibuka, usaha masyarakat mulai berjalan kembali dan ekonomi kembali bergerak," katanya.

Pendi juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat yang dinilai cepat merespons kebutuhan masyarakat dengan membangun kembali akses penghubung tersebut.

Ucapan syukur turut disampaikan Rela Islamiah (26), pemilik warung yang berada di sekitar lokasi jembatan. Menurutnya, usaha yang sempat sepi kini kembali mendapatkan pelanggan setelah arus kendaraan kembali normal.

"Alhamdulillah, sekarang sudah ada lagi uang yang berputar setiap hari dari hasil jualan kami. Kami sangat berterima kasih karena jembatan ini membuat masyarakat kembali bisa beraktivitas seperti biasa," ujarnya.

Hal serupa dirasakan pemilik Rumah Makan Elok Basamo, It (60). Ia mengatakan rumah makan miliknya kembali beroperasi sejak Jembatan Bailey difungsikan dan pelanggan mulai berdatangan, termasuk para sopir truk yang sebelumnya rutin singgah di lokasi tersebut.

"Kami sudah buka lagi sejak jembatan beroperasi. Sopir-sopir truk yang dulu biasa singgah kini mulai kembali datang. Terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, khususnya Bapak Gubernur Mahyeldi dan Bapak Wakil Gubernur Vasko Ruseimy, karena akses ini bisa cepat dibuka kembali. Masyarakat sangat terbantu karena sekarang bisa kembali menjalankan usaha," tuturnya. (*)

Baca Juga

Datang ke Kondangan, Pria 58 Tahun Diduga Curi HP Tamu di Nagari Paninjauan Tanah Datar
Datang ke Kondangan, Pria 58 Tahun Diduga Curi HP Tamu di Nagari Paninjauan Tanah Datar
Rehabilitasi Jalan Baso–Batusangkar di Tanah Datar Dimulai, Anggaran Rp3,4 Miliar Digelontorkan
Rehabilitasi Jalan Baso–Batusangkar di Tanah Datar Dimulai, Anggaran Rp3,4 Miliar Digelontorkan
Program MBG Jadi Sorotan di Sidang MK, Ahli Sebut Daerah Terancam Kehilangan Anggaran
Program MBG Jadi Sorotan di Sidang MK, Ahli Sebut Daerah Terancam Kehilangan Anggaran
Pameran Foto Prahara Pulau Emas Dibuka di Istano Basa Pagaruyung, Jadi Pengingat Penting Mitigasi Bencana
Pameran Foto Prahara Pulau Emas Dibuka di Istano Basa Pagaruyung, Jadi Pengingat Penting Mitigasi Bencana
Harkopnas 2026, Tanah Datar Perkuat Komitmen Pengembangan Koperasi
Harkopnas 2026, Tanah Datar Perkuat Komitmen Pengembangan Koperasi
Sekolah Rakyat Tanah Datar Bahas Desain Kawasan Berbukit, Kementerian PU Siapkan Kajian
Sekolah Rakyat Tanah Datar Bahas Desain Kawasan Berbukit, Kementerian PU Siapkan Kajian