Sumbardaily.com – Universitas Andalas (Unand) memperkenalkan pendekatan baru dalam Ilmu Kewirausahaan melalui pengembangan konsep Faith-Based Entrepreneurship atau Kewirausahaan Berbasis Iman. Berangkat dari praktik Kewirausahaan Masyarakat Minangkabau yang berpijak pada nilai-nilai Islam serta falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, konsep ini menawarkan cara pandang baru terhadap makna keberhasilan seorang wirausahawan.
Berbeda dengan paradigma yang selama ini lebih banyak menitikberatkan pada keuntungan ekonomi dan pertumbuhan usaha, penelitian yang dilakukan tim Unand memandang keberhasilan usaha juga ditentukan oleh kesejahteraan spiritual, tanggung jawab sosial, integritas, keberkahan, serta keberlanjutan.
Ketua tim peneliti, Prof Donard Games, menjelaskan bahwa kajian kewirausahaan selama ini masih didominasi perspektif Barat yang menjadikan pencapaian finansial sebagai indikator utama kesuksesan seorang pelaku usaha.
Menurutnya, ukuran tersebut memang penting, tetapi belum sepenuhnya mampu menjelaskan makna kewirausahaan pada masyarakat yang memiliki landasan budaya dan agama yang kuat.
"Ukuran tersebut tentu penting, tetapi belum sepenuhnya mampu menjelaskan makna kewirausahaan dalam masyarakat yang memiliki nilai budaya dan agama yang kuat. Keberhasilan usaha juga diukur dari ketenangan batin, keberkahan, manfaat bagi sesama, serta kedekatan dengan Tuhan," ujar Donard Games dikutip Minggu (18/7/2026).
Penelitian tersebut melibatkan kolaborasi lintas negara. Selain Donard Games, tim peneliti terdiri atas Prof Dodi Devianto, Sanda Patrisia Komalasari, dan Belligo Agra dari Unand. Penelitian juga menggandeng Peter Musyoka, Ph.D dari Kenyatta University, Kenya.
Riset berlangsung selama Mei hingga Juli 2026 dengan melibatkan 220 pelaku usaha kecil di Kota Padang dan 215 pelaku usaha kecil di Nairobi sebagai responden. Kolaborasi ini bertujuan menguji konsep yang dikembangkan pada dua lingkungan sosial dan budaya yang berbeda.
Dalam penelitian tersebut, tim mengembangkan tiga konstruk utama, yakni faith-based entrepreneurial resilience, faith-based entrepreneurial well-being, dan faith-based entrepreneurial success.
Ketiga konsep tersebut menggambarkan bagaimana pelaku usaha memanfaatkan iman sebagai sumber ketahanan ketika menghadapi berbagai tantangan bisnis, membangun kesejahteraan psikologis sekaligus spiritual, serta memaknai keberhasilan usaha tidak semata-mata dari sisi finansial, tetapi juga melalui keberkahan, keseimbangan hidup, integritas, dan manfaat yang diberikan kepada masyarakat.
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang erat antara ketahanan pelaku usaha dengan kesejahteraan berbasis iman. Peneliti menemukan bahwa kemampuan menghadapi tekanan usaha tidak otomatis menghasilkan kesuksesan apabila tidak diiringi kondisi psikologis dan spiritual yang baik.
Donard Games menjelaskan bahwa ketahanan harus mampu diterjemahkan menjadi ketenangan batin, optimisme, rasa syukur, dan keyakinan bahwa usaha yang dijalankan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar memperoleh keuntungan.
"Ketahanan perlu diterjemahkan menjadi ketenangan, optimisme, rasa syukur, dan keyakinan bahwa usaha yang dijalankan memiliki makna yang lebih luas. Di situlah kesejahteraan berbasis iman berperan penting dalam mendorong kesuksesan," katanya.
Selain menghasilkan konsep baru, penelitian ini juga melahirkan seperangkat indikator yang telah divalidasi di Indonesia dan Kenya. Indikator tersebut dirancang untuk mengukur ketahanan, kesejahteraan, serta kesuksesan wirausaha berbasis iman sehingga diharapkan dapat menjadi acuan dalam berbagai penelitian mengenai kewirausahaan yang berlandaskan agama dan budaya di berbagai negara.
Menurut Donard Games, temuan tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman masyarakat di kawasan Global South memiliki kontribusi penting dalam memperkaya pengembangan teori kewirausahaan di tingkat internasional.
Ia menilai pengetahuan yang tumbuh dari budaya lokal tidak hanya relevan bagi masyarakat tempat penelitian dilakukan, tetapi juga mampu memberikan perspektif baru dalam diskursus global mengenai kewirausahaan.
"Pengetahuan yang berakar pada budaya lokal dapat memberikan kontribusi penting bagi diskursus global. Kewirausahaan bukan hanya tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang kesejahteraan manusia, tanggung jawab sosial, nilai-nilai etis, dan pembangunan yang berkelanjutan," tuturnya.
Konsep Faith-Based Entrepreneurship yang dikembangkan Unand sekaligus memperlihatkan bahwa nilai-nilai budaya dan agama dapat menjadi bagian penting dalam membangun teori kewirausahaan yang lebih komprehensif. Pendekatan tersebut tidak hanya menempatkan pelaku usaha sebagai pencari keuntungan, tetapi juga sebagai individu yang mengedepankan keseimbangan antara aspek ekonomi, spiritual, sosial, dan etika.
Penelitian ini memperoleh dukungan pendanaan dari Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition (EQUITY IRN). Selain menghasilkan perspektif baru dalam Ilmu Kewirausahaan, riset tersebut juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta SDG 8 mengenai Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Di sisi lain, penelitian ini semakin memperkuat kolaborasi akademik dan riset internasional antara Unand dan Kenyatta University, sekaligus menunjukkan bahwa Kewirausahaan Berbasis Iman yang lahir dari praktik Kewirausahaan Masyarakat Minangkabau memiliki potensi menjadi referensi penting dalam pengembangan teori kewirausahaan di tingkat global. (*)
















