Sumbardaily.com - Upaya mewujudkan Agam Madani terus didorong Pemerintah Kabupaten Agam melalui penguatan fungsi masjid dan musala sebagai pusat pembinaan umat.
Komitmen tersebut menjadi pesan utama yang disampaikan Bupati Agam Beni Warlis saat menghadiri tasyakuran haji 2026 yang dirangkaikan dengan peletakan batu pertama pembangunan Musala Dhuyufurrahman Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Agam, Sabtu (18/7/2026).
Di hadapan para jemaah haji Agam tahun 2026, Beni Warlis menegaskan bahwa cita-cita membangun masyarakat yang religius dan berkeadaban tidak dapat diwujudkan hanya melalui slogan maupun pidato. Menurutnya, nilai-nilai Agam Madani harus hadir dan dirasakan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari melalui langkah-langkah nyata.
Ia mengatakan, semangat Agam Madani harus menjadi bagian dari perilaku masyarakat, bukan sekadar narasi yang disampaikan dalam berbagai kesempatan resmi.
“Kami mendambakan Agam Madani itu bukan hanya menjadi pidato-pidato pejabat, kepala dinas, camat, asisten, maupun wali nagari. Tetapi bagaimana Agam Madani itu benar-benar terwujud dalam kehidupan kita,” ujar Beni Warlis.
Menurutnya, salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mewujudkan cita-cita tersebut adalah mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat aktivitas umat. Masjid, kata dia, tidak hanya difungsikan sebagai tempat melaksanakan salat lima waktu, tetapi juga menjadi ruang pembinaan masyarakat, pendidikan keagamaan, pembentukan karakter generasi muda, hingga wadah memperkuat kebersamaan.
“Masjid itu bukan hanya untuk salat lima waktu. Di sanalah kreativitas umat akan muncul, tempat kita membicarakan persoalan umat, tempat anak-anak dan generasi muda kita tumbuh,” katanya.
Beni Warlis juga berharap seluruh masjid dan musala dapat menjadi ruang yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, keberadaan rumah ibadah harus mampu menciptakan suasana yang membuat masyarakat merasa nyaman untuk datang, termasuk anak-anak dan remaja.
Ia menilai halaman masjid juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang interaksi sosial sekaligus tempat berlangsungnya berbagai aktivitas positif yang melibatkan generasi muda.
“Kita merindukan anak-anak kita bermain di masjid. Jangan sampai orang datang ke masjid malah ditegur. Masjid harus menjadi rumah Allah yang dirindukan dan menjadi rumah bersama bagi umat,” ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut, Bupati Agam turut mengajak para jemaah haji yang baru kembali dari Tanah Suci untuk mengambil peran lebih besar dalam menghidupkan kegiatan di masjid dan musala. Menurutnya, pengalaman spiritual yang diperoleh selama menjalankan ibadah haji harus menjadi modal untuk memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Ia berharap para jemaah haji mampu menjadi teladan sekaligus penggerak dalam membina kehidupan keagamaan di tengah masyarakat.
“Kami bangga dengan Bapak dan Ibu semua yang sudah kembali dari Tanah Suci. Harapannya, Bapak dan Ibu menjadi garda terdepan membawa umat dan menjadi teladan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Beni Warlis menambahkan bahwa pengalaman spiritual yang diperoleh selama menunaikan ibadah haji merupakan bekal penting untuk diwujudkan dalam bentuk kepedulian, keteladanan, serta kontribusi nyata setelah kembali ke kampung halaman.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Sumatera Barat M. Rifki menegaskan bahwa perjalanan ibadah haji tidak berakhir ketika jemaah telah kembali ke Indonesia. Menurutnya, kemabruran haji justru tercermin melalui perubahan sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
“Haji di Makkah itu ritualnya, tetapi haji yang sesungguhnya adalah ketika kembali ke tanah air,” kata Rifki.
Ia menjelaskan, seluruh jemaah yang telah kembali merupakan bagian dari keluarga besar haji yang diharapkan terus menjaga nilai-nilai kebaikan yang diperoleh selama berada di Tanah Suci.
“Fisik kita berada di Tanah Suci ketika melaksanakan ibadah haji, tetapi implementasinya ada di tanah air. Bagaimana komitmen perubahan itu terus kita jaga sampai akhir hayat,” ujarnya.
Kegiatan tasyakuran haji tahun 2026 tersebut juga dirangkaikan dengan peletakan batu pertama pembangunan Musala Dhuyufurrahman Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Agam. Pembangunan musala tersebut diharapkan menjadi salah satu sarana untuk memperkuat pembinaan keagamaan sekaligus mempererat silaturahmi masyarakat, khususnya keluarga besar haji di Kabupaten Agam.
Melalui peran aktif para jemaah haji serta dukungan seluruh unsur masyarakat, semangat mewujudkan Agam Madani diharapkan semakin nyata. Penguatan fungsi masjid dan musala sebagai pusat pembinaan umat diharapkan menjadi fondasi lahirnya generasi yang beriman, berilmu, serta memiliki kepedulian terhadap sesama. (*)
















