Sumbardaily.com, Solok – Nagari Salimpek di Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar), tengah memantapkan langkah menuju kawasan pengembangan Nagari Herbal Kosmetik. Berada di dataran tinggi yang dikelilingi panorama Danau Kembar, wilayah ini kini digarap sebagai pusat tanaman obat keluarga (TOGA) yang bernilai ekonomi sekaligus destinasi wellness tourism.
Upaya tersebut digagas oleh Prof. Dr. dr. Satya Wydya Yenny, Sp.D.V.E, Subsp. D.K.E, M.Ag, FINSDV, FAADV selaku Kepala Departemen Dermatologi, Veneorologi, dan Estetika (DVE) Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (FKK Unand) sekaligus RSUP Dr M Djamil dengan melibatkan seluruh staf pengajar, Peserta Program Dokter Spesialis (PPDS), dokter muda dan Tenaga pendidik serta bekerjasama dengan Departemen Farmakologi FK Unand.
Program pengabdian yang berlangsung pada Sabtu, 19 Juli 2025 ini berlokasi di Kelompok Wanita Tani (KWT) Berkah Sinergi, Jorong Tanjung Balit. Kegiatan dipimpin langsung Ketua Pengabdian Prof Wydya dan membantu KWT Berkah Sinergi meraih apresiasi Kawasan Rumah Pangan Lestari (KPRL), sebuah program atau konsep pemanfaatan lahan pekarangan secara intensif dan ramah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga berkelanjutan dari Dinas Pangan Provinsi Sumbar.
Disambut Pemerintah Nagari
Rombongan peserta dilepas dari kampus oleh Dekan FK Unand. Setibanya di Salimpek, mereka disambut Wali Nagari Muhammad Riza, beserta perangkat nagari. Hadir pula Kepala Puskesmas Alahan Panjang, Camat Lembah Gumanti, Ketua TP PKK Nagari Salimpek, serta dokter-dokter spesialis dari Departemen DVE FK Unand dan RSUP Dr M Djamil Padang.
Menurut Prof Wydya, inisiatif ini tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari strategi jangka panjang penguatan ekonomi masyarakat melalui sektor herbal kosmetik dan pariwisata.
“Kami ingin masyarakat dapat melihat bahwa tanaman herbal bukan hanya budaya, tetapi peluang ekonomi yang nyata jika dikelola dengan benar,” ujarnya, Kamis (4/12/202/).
Penyuluhan dan Pemetaan Potensi Herbal
Kegiatan dibagi dalam dua sesi utama. Pada sesi pertama, Prof Wydya menyampaikan penyuluhan bertajuk “Potensi dan Jenis Tanaman Herbal dan Kosmetik yang Dapat Dikembangkan sebagai Produk Kecantikan dan Kebugaran”. Paparan tersebut dilanjutkan oleh tim Farmakologi FK Unand, yakni dr. Rahmatini, M.Kes, dan Prof. Dra. Elly Usman, M.Si, yang membahas peran TOGA dalam pemanfaatan obat tradisional.
Topik yang mendapat perhatian besar peserta adalah pengembangan ginseng jawa (Talinum paniculatum)—komoditas pertanian utama di Salimpek. Tanaman ini diketahui kaya antioksidan sehingga potensial diolah menjadi sabun herbal, masker wajah, hingga lulur tradisional. Masyarakat antusias bertanya terkait teknik budidaya organik, standar higienis pengolahan, serta keamanan penggunaan tanaman herbal untuk perawatan kulit.
Prof Wydya menilai respons masyarakat sangat positif. “Edukasi semacam ini penting karena pengetahuan masyarakat belum merata. Meski 87 persen warga mengenal istilah TOGA, banyak yang belum mengetahui cara pengolahannya secara aman,” ujarnya.
Tantangan Ekonomi dan Kelembagaan
Nagari Salimpek memiliki tujuh jorong dan 20 dasawisma, tetapi hanya tiga kelompok TOGA yang aktif. Peluang pengembangan produk herbal dinilai strategis. Survei yang dilakukan tim pengabdian menunjukkan 58 persen warga membutuhkan pelatihan dan pendampingan intensif, sementara 42 persen lainnya berharap memperoleh bantuan bibit herbal.
Untuk mengatasi persoalan kelembagaan, dilakukan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara fakultas, pemerintah nagari, dan mitra terkait. Kerja sama ini menjadi dasar penyusunan roadmap pembangunan Nagari Herbal Kosmetik dengan target pembentukan tujuh TOGA aktif yang kelak berfungsi sebagai pusat edukasi dan destinasi wisata kebugaran.

Konsep pengembangan ini menggabungkan aspek kesehatan, ekonomi kreatif, dan pelestarian budaya lokal. Pemerintah nagari optimistis Salimpek dapat tampil sebagai rujukan nasional dalam pengembangan tanaman herbal berbasis masyarakat.
Praktik Lapangan dan Keterlibatan Mahasiswa Internasional
Selain penyuluhan, peserta diajak praktik langsung menanam dan membudidayakan tanaman obat secara ramah lingkungan. Tanaman yang dibagikan untuk dibudidayakan di tingkat dasawisma antara lain kunyit putih, jarak, kelor, bidara, lerak, tapak dewa, rosella, nilam, jahe merah, dan ginseng jawa.
Menariknya, kegiatan ini tidak hanya melibatkan mahasiswa KKN dan peserta profesi dokter dari FK Unand, tetapi juga mahasiswa asing asal Republik Ceko dan Polandia yang ikut program pertukaran pelajar. Pendekatan lintas budaya ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya bidang kesehatan, pertumbuhan ekonomi, dan konsumsi berkelanjutan.
“Kami ingin Salimpek tidak hanya menjadi sentra tanaman obat, tetapi juga ruang belajar yang inklusif dan berstandar internasional,” kata Prof Wydya.
Hasil Evaluasi dan Rencana Tahun Depan
Evaluasi terbaru oleh tim DVE FK Unand menemukan bahwa dari 11 jenis tanaman yang dibagikan, sebagian besar tumbuh baik di 10 dasawisma. Hanya satu dasawisma yang mengalami kegagalan tumbuh pada tanaman tapak dewa dan kunyit putih. Kemungkinan penyebabnya ialah tanaman tidak segera dipindahkan dari polybag ke tanah.

Meski begitu, perkembangan TOGA menunjukkan arah positif, dengan 10 dasawisma mulai aktif menanam secara rutin. Tahun depan, program akan dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan produk kosmetik untuk UMKM sebagai persiapan menjadikan Salimpek sebagai kawasan wisata herbal.
Prof Wydya menegaskan bahwa keberhasilan program ini akan bergantung pada sinergi pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat. “Dengan gotong royong, Nagari Salimpek bisa tumbuh menjadi sentra herbal yang mandiri, menyehatkan, dan berdaya saing di tingkat nasional,” ujarnya. (*)
















