Mengapa Konsumen Muda Indonesia dan Yordania Berbeda Memilih Produk Halal? Ini Temuan Unand

Sumbardaily.com – Perbedaan cara pandang generasi muda dalam memilih produk halal di Indonesia dan Yordania menjadi temuan utama dalam riset kolaborasi internasional yang dilakukan akademisi Universitas Andalas (Unand).

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa meski sama-sama memiliki mayoritas penduduk Muslim, kedua negara memiliki faktor pendorong yang berbeda dalam membangun kepercayaan dan mengambil keputusan membeli produk halal dan toyyib.

Penelitian ini dilakukan oleh akademisi Unand, Assoc. Prof. Dessy Kurnia Sari, bersama Prof. Baker Ahmad Alserhan dari Sumaya University for Technology, Yordania. Kolaborasi tersebut lahir sebagai respons terhadap perkembangan industri halal global yang terus mengalami pertumbuhan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi produk yang tidak hanya sesuai dengan prinsip syariat Islam, tetapi juga aman, berkualitas, dan berkelanjutan.

Dalam pelaksanaannya, riset tersebut turut melibatkan tim peneliti Unand yang terdiri atas Laura Amelia Triani, Devi Yulia Rahmi, dan Mayang Larasati sebagai asisten peneliti dari program doktor. Selain itu, mahasiswa juga dilibatkan dalam berbagai tahapan penelitian, mulai dari proses pengumpulan data hingga analisis hasil penelitian.

Keterlibatan mahasiswa tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran sekaligus upaya memperkuat kapasitas peneliti muda agar memiliki pengalaman berkolaborasi dalam jejaring riset internasional.

Assoc. Prof. Dessy Kurnia Sari menjelaskan bahwa Indonesia dan Yordania dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki kesamaan sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, namun memperlihatkan karakteristik sosial, budaya, ekonomi, serta perkembangan industri halal yang berbeda.

Menurutnya, kondisi tersebut memberikan ruang yang menarik untuk melihat bagaimana konsumen muda membangun kepercayaan terhadap produk halal dan toyyib, sekaligus menentukan keputusan pembelian.

"Indonesia merupakan pasar halal terbesar yang berkembang sangat pesat dengan tingkat digitalisasi yang tinggi, sedangkan Yordania merepresentasikan konteks Timur Tengah yang memiliki budaya serta sistem kelembagaan yang berbeda. Perbedaan ini memberikan gambaran yang menarik mengenai bagaimana konsumen muda membangun kepercayaan dan mengambil keputusan dalam membeli produk halal dan toyyib," ujar Dessy dikutip Senin (20/7/2026).

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan mendasar terkait faktor yang memengaruhi niat membeli produk halal dan toyyib di kedua negara.

Pada konsumen muda di Yordania, tingkat kesadaran terhadap konsep halal dan toyyib menjadi faktor yang paling dominan dalam mendorong keputusan pembelian. Sebaliknya, pada kelompok konsumen muda di Indonesia, tingkat religiositas menjadi faktor utama yang memengaruhi keinginan membeli produk halal.

Dessy menjelaskan bahwa semakin tinggi tingkat religiositas seseorang, maka semakin besar pula kecenderungannya untuk memilih produk halal dan toyyib.

Selain itu, penelitian juga menemukan bahwa konsumen muda Indonesia memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap produk halal dalam negeri. Kepercayaan tersebut muncul karena produk-produk tersebut dinilai memiliki kualitas yang baik, standar produksi yang jelas, serta tingkat keandalan yang tinggi.

"Semakin tinggi tingkat religiositas seseorang, semakin besar kecenderungannya untuk membeli produk halal dan toyyib. Penelitian kami juga menunjukkan bahwa konsumen muda Indonesia memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap produk halal dalam negeri karena dinilai memiliki kualitas, standar produksi, dan keandalan yang baik," kata Dessy.

Penelitian tersebut juga memperlihatkan adanya perkembangan pemahaman generasi muda terhadap konsep toyyib. Jika sebelumnya istilah tersebut lebih sering dikaitkan dengan aspek kehalalan semata, kini maknanya berkembang menjadi jauh lebih luas.

Konsep toyyib kini mencakup berbagai aspek penting, seperti keamanan pangan, kebersihan produk, kandungan gizi, keaslian produk, praktik bisnis yang etis, hingga pengalaman konsumsi secara menyeluruh.

Temuan lainnya mengungkap bahwa kepercayaan konsumen terhadap produk halal dibangun melalui beragam mekanisme. Faktor-faktor seperti sertifikasi halal, regulasi pemerintah, rekomendasi keluarga maupun teman, tampilan visual produk, hingga informasi yang diperoleh melalui media digital menjadi bagian penting dalam membentuk kepercayaan tersebut.

Meski demikian, terdapat perbedaan pendekatan antara konsumen di Indonesia dan Yordania.

Konsumen muda Indonesia cenderung lebih mengandalkan keberadaan sertifikasi halal resmi serta jaminan dari lembaga yang berwenang. Sebaliknya, konsumen muda di Yordania lebih banyak mempertimbangkan pengetahuan lokal, reputasi penjual, kualitas pelayanan, dan keaslian budaya sebagai dasar dalam menentukan pilihan.

Dessy menilai hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa konsep halal dan toyyib tidak dapat dipisahkan dalam membangun ekosistem industri halal modern.

Menurutnya, produk halal saat ini tidak cukup hanya memenuhi ketentuan syariat, tetapi juga harus mampu memberikan jaminan kualitas, keamanan, keberlanjutan, serta etika dalam proses produksinya.

"Temuan ini menunjukkan bahwa konsep halal dan toyyib tidak dapat dipisahkan dalam membangun ekosistem industri halal modern. Produk halal tidak cukup hanya memenuhi ketentuan syariat, tetapi juga harus mampu memberikan jaminan kualitas, keamanan, keberlanjutan, dan etika produksi. Hal ini diharapkan menjadi masukan bagi pemerintah, lembaga sertifikasi halal, maupun pelaku industri dalam merancang kebijakan dan strategi pemasaran yang sesuai dengan karakteristik konsumen di berbagai negara," jelasnya.

Selain menghasilkan temuan mengenai perilaku konsumen muda terhadap produk halal, penelitian kolaboratif ini juga memberikan kontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Kontribusi tersebut terutama mendukung SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui penguatan konsumsi dan produksi yang aman serta bertanggung jawab. Di sisi lain, riset ini juga memperkuat SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui pengembangan kemitraan penelitian internasional antara Indonesia dan Yordania. (*)

Baca Juga

Riset Unand Ungkap Kewirausahaan Berbasis Iman Jadi Perspektif Baru Ilmu Kewirausahaan
Riset Unand Ungkap Kewirausahaan Berbasis Iman Jadi Perspektif Baru Ilmu Kewirausahaan
Bukan Sekadar Gulma, Tanaman Tithonia Berpotensi Jadi Pakan Berkualitas untuk Kambing Perah
Bukan Sekadar Gulma, Tanaman Tithonia Berpotensi Jadi Pakan Berkualitas untuk Kambing Perah
Riset Mahasiswa Unand di Jepang Hasilkan Prototipe AI untuk Deteksi Gangguan Pita Suara
Riset Mahasiswa Unand di Jepang Hasilkan Prototipe AI untuk Deteksi Gangguan Pita Suara
Mojaf, Inovasi Tepung Bengkuang dari Unand yang Berpotensi Bantu Pengidap Diabetes
Mojaf, Inovasi Tepung Bengkuang dari Unand yang Berpotensi Bantu Pengidap Diabetes
Delapan Bulan Hilang, Unand Terus Dampingi Keluarga dan Berharap Ryan Alghifary Segera Kembali
Delapan Bulan Hilang, Unand Terus Dampingi Keluarga dan Berharap Ryan Alghifary Segera Kembali
Wisuda 1.389 Lulusan, Unand Tekankan Berpikir Kritis di Era AI
Wisuda 1.389 Lulusan, Unand Tekankan Berpikir Kritis di Era AI