Sumbardaily.com, Padang – Bank Nagari mengintensifkan kampanye edukasi kepada nasabah dan masyarakat umum terkait ancaman kejahatan digital perbankan yang kian berkembang. Institusi keuangan milik Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) ini secara khusus mengeluarkan peringatan keras mengenai bahaya mengklik gambar yang diterima melalui aplikasi pesan instan, terutama WhatsApp, dari pengirim yang tidak dikenal.
Peringatan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kasus penipuan digital yang menggunakan teknik penyisipan tautan berbahaya dalam format gambar. Metode baru ini telah memakan korban, sebagaimana dialami seorang nasabah perbankan di Aceh yang baru-baru ini mengalami kerugian finansial akibat terjebak dalam skema penipuan tersebut.
Dalam kasus yang terjadi di Aceh, korban awalnya menerima pesan berisi gambar melalui WhatsApp. Setelah berinteraksi dengan gambar tersebut, pelaku kemudian menghubungi korban via telepon dengan menyamar sebagai petugas dari instansi tertentu dan meminta berbagai data pribadi sensitif, termasuk Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
Direktur Utama Bank Nagari, Gusti Candra, menegaskan komitmen institusinya dalam memberikan edukasi berkelanjutan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk serangan siber yang menargetkan perangkat pribadi, khususnya telepon pintar.
"Evolusi modus penipuan saat ini semakin sophisticated dan mengkhawatirkan. Gambar yang tampak innocent dan tidak berbahaya ternyata dapat menyimpan link palsu dan berbagai jenis virus berbahaya. Ketika gambar tersebut diklik oleh pengguna, pelaku dapat dengan mudah mengakses dan mencuri data pribadi yang tersimpan, termasuk kode One Time Password (OTP), password akun, bahkan dapat melakukan transaksi finansial tanpa sepengetahuan dan persetujuan pemilik rekening," ungkap Gusti Candra dalam keterangan pers dikutip Minggu (1/6/2025).
Pimpinan tertinggi Bank Nagari ini menekankan bahwa program edukasi keamanan digital merupakan inisiatif vital dalam upaya mencegah kerugian finansial yang seringkali menimpa nasabah akibat kurangnya awareness terhadap ancaman digital yang terus berevolusi.
Sejalan dengan pernyataan Direktur Utama, Direktur Keuangan Bank Nagari, Roni Edrian, turut memberikan panduan praktis sebagai langkah preventif yang dapat diterapkan masyarakat untuk menghindari jerat penipuan digital. Ia menguraikan beberapa strategi keamanan yang dapat diimplementasikan dalam aktivitas digital sehari-hari.
"Sebagai upaya pencegahan yang efektif, kami merekomendasikan beberapa praktik keamanan digital yang sederhana namun crucial. Pertama dan yang paling fundamental, jangan pernah mengklik gambar atau media lainnya yang diterima dari pengirim yang tidak dikenal atau tidak dapat diverifikasi identitasnya. Kedua, pastikan untuk menginstal dan mengaktifkan antivirus terpercaya di setiap perangkat yang digunakan untuk aktivitas digital," papar Roni.
Ia juga menyarankan modifikasi pada pengaturan aplikasi WhatsApp untuk meningkatkan tingkat keamanan pengguna.
"Nonaktifkan fitur unduhan otomatis untuk foto dan video di WhatsApp, sehingga pengguna memiliki kontrol penuh terhadap media yang akan disimpan di perangkat. Selain itu, segera laporkan dan blokir nomor-nomor yang menunjukkan aktivitas mencurigakan atau mengirimkan konten yang tidak diinginkan," tambah Roni.
Roni mengajak masyarakat untuk proaktif dalam meningkatkan literasi digital dan tidak ragu untuk berkonsultasi atau melaporkan aktivitas yang berpotensi mencurigakan kepada pihak bank.
"Tim Bank Nagari selalu siap memberikan assistance dan perlindungan optimal kepada nasabah. Keamanan dan keandalan transaksi merupakan prioritas utama dalam setiap layanan yang kami berikan," tegas Roni.
Bank Nagari juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan tingkat kewaspadaan dan turut menyebarluaskan informasi keamanan digital ini sebagai manifestasi kepedulian kolektif terhadap keamanan digital, terutama di era digitalisasi yang semakin masif saat ini.
Berdasarkan investigasi mendalam terhadap perkembangan tren penipuan digital, diketahui bahwa skema penipuan melalui WhatsApp telah mengalami evolusi signifikan. Jika sebelumnya pelaku menggunakan tautan suspicious atau kode OTP palsu, kini mereka menggunakan pendekatan yang lebih sophisticated melalui media gambar.
Para peretas cyber menerapkan teknik advanced yang dikenal sebagai steganografi, yaitu metode penyembunyian perangkat lunak berbahaya (malware) di dalam file gambar yang secara visual tampak normal dan tidak mencurigakan. Ketika file gambar yang telah disusupi malware ini dibuka atau diunduh oleh pengguna, malware akan otomatis teraktivasi dan menginstal dirinya sendiri ke dalam sistem perangkat.
Kemampuan destruktif malware jenis ini sangat mengkhawatirkan karena dapat mengakses dan mencuri berbagai informasi sensitif yang tersimpan di perangkat, mulai dari password yang tersimpan, kode OTP untuk verifikasi transaksi, data rekening perbankan, hingga dapat melakukan transaksi unauthorized tanpa sepengetahuan pengguna.
Kasus nyata yang menunjukkan tingkat bahaya ancaman ini terjadi pada seorang warga di Jabalpur, India, yang mengalami kerugian finansial setara Rp40 juta setelah mengunduh dan membuka gambar yang telah disisipi virus. Insiden ini mendorong WhatsApp untuk merencanakan peluncuran pembaruan sistem keamanan guna mengatasi ancaman jenis ini.
Hasil penyelidikan mendalam dari kasus Jabalpur mengkonfirmasi bahwa malware berhasil menyusup ke dalam perangkat smartphone melalui file gambar yang tampak innocent, yang mendemonstrasikan betapa sophisticated dan berbahayanya metode serangan ini.
Untuk memberikan perlindungan maksimal kepada masyarakat, para ahli keamanan digital merekomendasikan implementasi beberapa langkah preventif. Pengguna disarankan untuk menginstal dan mengaktifkan software antivirus terpercaya di setiap perangkat yang digunakan. Selain itu, hindari membuka atau melihat media yang diterima di WhatsApp melalui platform WhatsApp Web atau Desktop, karena platform ini memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi.
Langkah preventif lainnya meliputi deaktivasi fitur unduhan otomatis pada aplikasi WhatsApp. Jika menerima foto, video, atau pesan suara dari nomor yang tidak dikenal atau tidak dapat diverifikasi, sebaiknya tidak mengunduh media tersebut. Pengguna juga disarankan untuk membatasi dan selektif dalam menerima undangan bergabung dalam grup WhatsApp dari pihak yang tidak dikenal.
Aspek fundamental lainnya adalah tidak pernah membagikan informasi sensitif atau personal kepada pihak yang tidak dapat diverifikasi identitasnya. Masyarakat juga perlu senantiasa waspada dan konsisten menghindari mengunduh file media apapun dari pengguna yang tidak dikenal di platform WhatsApp.
Pemimpin Divisi Sekretaris Perusahaan Bank Nagari, Tasman, menekankan pentingnya peran aktif dan proaktif nasabah dalam menjaga keamanan setiap transaksi digital yang dilakukan. Ia meyakini bahwa melalui implementasi langkah-langkah keamanan yang komprehensif, nasabah Bank Nagari dapat tetap melakukan transaksi dengan tingkat keamanan optimal dan merasa tenang tanpa kekhawatiran menjadi korban penipuan digital yang semakin marak terjadi.
"Perlindungan terhadap aset keuangan memerlukan kehati-hatian maksimal dalam setiap aktivitas transaksi digital. Apabila menemukan indikasi atau aktivitas yang mencurigakan, atau membutuhkan bantuan dan konsultasi keamanan digital, jangan ragu untuk segera menghubungi layanan Nagari Call di nomor 150234 yang tersedia 24 jam untuk memberikan assistance terbaik," pungkas Tasman. (red)















