Sumbardaily.com, Padang – Kesadaran untuk menjaga sungai seharusnya ditanamkan sejak dini dan tumbuh menjadi budaya bersama, sebagaimana diterapkan di banyak negara maju.
Di negara-negara tersebut, sungai diperlakukan sebagai ruang hidup bersama yang harus dijaga kebersihan dan kelestariannya, bukan sebagai saluran pembuangan. Perspektif ini dinilai krusial di tengah meningkatnya kejadian banjir bandang di sejumlah wilayah Sumatera.
Guru Besar Ilmu Tanah Universitas Andalas (Unand), Prof Dian Fiantis, menegaskan bahwa sungai kerap menjadi pihak yang disalahkan setiap kali banjir bandang terjadi.
Padahal, menurutnya, sungai bukanlah penyebab utama bencana, melainkan bagian akhir dari sistem alam yang menerima dampak akumulatif kerusakan lingkungan di wilayah hulu.
Pada akhir November 2025, banjir bandang melanda sejumlah daerah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat (Sumbar). Ketika hujan ekstrem meningkatkan debit air, sejumlah sungai seperti Batang Anai, Batang Kuranji, Batang Toru, dan Krueng Meureudu dianggap gagal menampung aliran air sehingga meluap dan menimbulkan kerusakan.
Namun, Dian menilai pandangan tersebut keliru jika tidak disertai pemahaman menyeluruh terhadap kondisi bentang alam. Sungai, katanya, hanya menjadi jalur terakhir aliran air ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.
“Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, sungai hanya menjadi jalur terakhir air. Masalah muncul ketika daerah tangkapan air di hulu rusak, sungai menyempit, dan alur alaminya terganggu,” ujar Dian, dikutip Selasa (20/1/2026).
Ia menjelaskan, banjir bandang merupakan hasil dari proses alam yang panjang dan kompleks, yang kemudian diperparah oleh campur tangan manusia. Penebangan hutan, alih fungsi lahan, serta pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan telah mengganggu keseimbangan sistem hidrologi.
Sebagai contoh, Dian menyoroti peristiwa putusnya jalan penghubung Kota Padang–Padang Panjang akibat longsor, serta terjadinya pergeseran alur Batang Anai. Menurutnya, kejadian tersebut menunjukkan bahwa sungai telah kehilangan ruang alaminya untuk menyalurkan air dan sedimen.
“Ketika sungai tidak lagi memiliki ruang yang cukup, maka luapan air menjadi sesuatu yang tidak terelakkan,” ujarnya.
Secara geologis, Dian menjelaskan bahwa sungai merupakan salah satu bentang alam tertua di Bumi. Jauh sebelum manusia membangun peradaban, air telah mengalir, mengikis batuan, dan membentuk daratan.
Evolusi sungai berlangsung selama miliaran tahun, dipengaruhi oleh perubahan iklim, aktivitas tektonik dan vulkanis, serta perkembangan kehidupan.
“Pada masa awal terbentuknya Bumi, sungai belum ada seperti sekarang. Sungai baru mulai berkembang ketika kerak benua menebal dan daratan menjadi stabil. Sejak saat itu, sungai membentuk lanskap dan menjadi fondasi ekosistem darat,” jelasnya.
Memasuki era modern, tekanan terhadap sungai justru semakin besar. Kerusakan kawasan hulu akibat penebangan hutan, perubahan fungsi lahan, serta pendangkalan sungai akibat sedimentasi membuat kapasitas alami sungai dalam menampung dan menyalurkan air terus menurun.
Kondisi tersebut diperparah oleh perilaku manusia yang menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah. Dian menegaskan bahwa sampah, terutama plastik dan limbah berbahaya, tidak hanya menyumbat aliran sungai dan memicu banjir bandang, tetapi juga merusak ekosistem serta mengancam kesehatan manusia melalui rantai makanan.
“Sungai bukan tong sampah. Ia adalah nadi kehidupan. Menjaganya berarti menjaga keselamatan lingkungan dan masa depan generasi mendatang,” tegas Prof Dian.
Ia menilai, perubahan cara pandang terhadap sungai harus dimulai sejak usia dini. Kesadaran ini perlu dibangun melalui pendidikan, kebiasaan sehari-hari, serta kebijakan publik yang berpihak pada kelestarian lingkungan.
Di banyak negara maju, sungai diposisikan sebagai ruang hidup bersama yang memiliki nilai ekologis, sosial, dan budaya.
Di era Antroposen, ketika manusia menjadi kekuatan utama yang membentuk bentang alam, Prof Dian mengingatkan bahwa tanggung jawab terbesar terhadap keberlanjutan sungai berada di tangan manusia.
Sungai akan terus berubah mengikuti zaman, namun kerusakan yang terjadi saat ini akan menjadi catatan sejarah bagi generasi mendatang.
“Kita perlu berhenti menyalahkan sungai atas bencana yang terjadi. Bukan sungainya yang gagal, tetapi cara kita memperlakukannya yang keliru,” pungkas Dian. (red)
















