Sumbardaily.com, Payakumbuh – Peristiwa Kebakaran Pasar Payakumbuh terjadi di kawasan pusat pertokoan Blok Timur B2 pada Senin (16/2/2026) dini hari, sekitar pukul 03.00 WIB.
Insiden yang berlangsung saat aktivitas warga masih sepi itu sempat menimbulkan kekhawatiran, sebelum akhirnya berhasil dikendalikan petugas pemadam kebakaran dalam waktu kurang dari dua jam.
Kepala Satpol PP dan Pemadam Kebakaran Kota Payakumbuh, Dewi Novita, mengungkapkan bahwa laporan pertama diterima tepat pada pukul 03.00 WIB.
Menurutnya, respons cepat langsung dilakukan sehingga tim pemadam dapat tiba di lokasi di kawasan Pasar Payakumbuh hanya satu menit setelah laporan masuk.
“Laporan masuk pukul 03.00 WIB dan petugas tiba di lokasi satu menit kemudian untuk segera melakukan penanganan,” ujar Dewi Novita.
Kebakaran pertama kali diketahui oleh seorang saksi mata yang melihat kobaran api muncul dari salah satu unit toko di Blok Timur.
Saksi tersebut segera menghubungi Posko Damkar Kota Payakumbuh agar bantuan pemadaman dapat segera dikerahkan.
Dalam upaya menjinakkan api, petugas menurunkan lima unit armada yang terdiri dari satu unit Canter, dua unit Fuso yakni Ayax dan Matra, satu unit Kijang operasional, serta satu unit Fuso bantuan dari Kabupaten Limapuluh Kota.
Personel gabungan kemudian melakukan pemadaman intensif hingga tahap pendinginan.
Situasi akhirnya dinyatakan aman dan terkendali pada pukul 04.49 WIB.
Meski satu unit toko terdampak langsung dan satu bangunan lain sempat terancam, petugas berhasil mencegah api merembet lebih luas ke area pertokoan lainnya.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Namun, tiga personel pemadam kebakaran mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap tebal saat bertugas dan langsung memperoleh penanganan medis di lokasi.
“Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan dan kerugian materiil belum dapat ditaksir,” kata Dewi Novita.
Di balik keberhasilan pengendalian api, pihak pemadam juga menghadapi sejumlah kendala teknis di lapangan. Dewi Novita menjelaskan keterbatasan peralatan masih menjadi tantangan utama dalam proses penanganan kebakaran.
Beberapa kekurangan tersebut meliputi minimnya alat bantu pernapasan atau breathing apparatus, tidak tersedianya gerinda portable serta cutter spreader hidrolik untuk membuka paksa pintu, hingga keterbatasan alat komunikasi berupa handy talky dan penerangan di lokasi kejadian.
Selain itu, perlengkapan alat pelindung diri seperti baju tahan panas, sepatu boot, helm, dan sarung tangan juga belum mencukupi.
“Kami berharap ada peningkatan dukungan sarana dan prasarana ke depan agar keselamatan personel lebih terjamin serta penanganan kebakaran bisa semakin efektif,” ujarnya.
Peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan serta dukungan peralatan memadai bagi petugas pemadam kebakaran, terutama dalam menghadapi insiden yang terjadi secara tiba-tiba di kawasan padat aktivitas seperti pasar. (red)
















