Sumbardaily.com - BPBD Sumatera Barat (Sumbar) terus mematangkan rencana pelaksanaan simulasi tsunami yang dijadwalkan berlangsung di Kota Pariaman pada akhir September 2026.
Program tersebut disiapkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi gempa bumi yang dapat memicu tsunami di wilayah pesisir.
Dikutip dari BPBD Sumbar pada Minggu (2/8/2026), Kota Pariaman menjadi salah satu daerah yang diprioritaskan dalam pelaksanaan simulasi karena termasuk kawasan pesisir yang dinilai memiliki risiko terdampak gempa bumi berpotensi tsunami.
Selain Kota Pariaman, terdapat tujuh kabupaten dan kota pesisir di Sumatera Barat yang dinilai memiliki ancaman serupa. Kota Pariaman sendiri memiliki sedikitnya 14 desa yang berada di sepanjang garis pantai, termasuk kawasan wisata Pantai Gondoriah yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD Provinsi Sumbar bersama BPBD Kota Pariaman merencanakan pelaksanaan Simulasi Drill Tsunami selama dua hari, yakni pada 29 hingga 30 September 2026.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sumbar, Rezky Hidayat, menjelaskan rangkaian kegiatan telah disusun agar mampu menguji kesiapan seluruh unsur yang terlibat, mulai dari pemerintah hingga masyarakat.
"Kegiatan ini kita rencanakan dua hari. Jadi hari pertama kita Table Top Exercise (TTX) dan Command Post Exercise (CPX), lalu hari kedua Field Training Exercise (FTX) atau simulasi evakuasi mandiri," ujar Rezky Hidayat.
Dalam simulasi tersebut, peserta yang akan dilibatkan berasal dari berbagai unsur. Mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Provinsi Sumbar, OPD Pemerintah Kota Pariaman, BPBD dari daerah yang memiliki wilayah pesisir, BPBD daerah penyangga, hingga kalangan pendidikan dan masyarakat.
Pelajar tingkat SD, SMP/MTs, SMA/MA/SMK juga akan ikut berpartisipasi bersama Kelompok Siaga Bencana serta masyarakat yang berada di sekitar lokasi pelaksanaan simulasi.
Menurut Rezky, sebelum kegiatan berlangsung, tim gabungan akan terlebih dahulu melakukan survei lapangan. Tahapan ini bertujuan untuk menentukan jalur evakuasi sekaligus menghitung waktu tempuh yang dibutuhkan masyarakat menuju lokasi aman apabila terjadi tsunami.
"Nanti kita akan melakukan survei lokasi bersama-sama, agar bisa mengidentifikasi waktu atau jarak yang akan ditempuh untuk simulasi evakuasi mandiri," katanya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Pariaman, Ferry Ferdian Bagindo Putra, menyatakan kesiapan penuh pemerintah daerah dalam mendukung pelaksanaan simulasi tersebut.
Menurut Ferry, latihan kebencanaan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat, mengingat Kota Pariaman selama ini kerap disebut sebagai salah satu wilayah yang berpotensi terdampak apabila terjadi tsunami yang dipicu Megathrust Mentawai.
"Tentu kami siap mendukung. Kami berterima kasih banyak BPBD provinsi berkenan melakukan kegiatan ini di Kota Pariaman, setidaknya agar masyarakat lebih waspada dan siaga," ujar Ferry.
Melalui simulasi yang dijadwalkan berlangsung pada September mendatang, BPBD Sumbar berharap koordinasi antarlembaga semakin kuat dan masyarakat semakin memahami langkah penyelamatan diri saat terjadi keadaan darurat.
Kegiatan ini juga diharapkan mampu mengukur efektivitas jalur evakuasi, kesiapan personel, serta respons masyarakat dalam menghadapi potensi bencana tsunami di kawasan pesisir Sumatera Barat. (*)
















