Kasus TBC di Sumbar Masih Tinggi, Wamenkes Sebut Pengobatan Harus 100 Persen

Sumbardaily.com – Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, Benjamin Paulus Octavianus, melakukan kunjungan kerja ke Universitas Andalas (Unand), Selasa (12/5/2026) untuk memperkuat kolaborasi riset kesehatan dan penanggulangan TBC di Indonesia.

Dalam agenda tersebut, pemerintah menyoroti tingginya kasus tuberkulosis nasional yang masih menjadi tantangan serius, termasuk di Sumatera Barat (Sumbar).

Kunjungan itu mempertemukan Kementerian Kesehatan dengan Fakultas Kedokteran (FK) Unand, RS Unand, serta para peneliti dari berbagai perguruan tinggi guna membahas langkah strategis penanganan TBC dalam lima tahun mendatang.

Benjamin Paulus Octavianus menegaskan bahwa pemerintah saat ini tengah memperkuat strategi nasional agar penanganan TBC dapat berjalan lebih efektif dan menyeluruh. Menurutnya, keberhasilan pengobatan harus mencapai seluruh penderita agar rantai penularan dapat dihentikan.

“Kita mengobati TBC, tetapi TBC terus berjalan. Karena itu penanganannya harus benar-benar tuntas,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pada 2020 Indonesia memiliki sekitar 800 ribu kasus TBC. Namun, saat itu baru sekitar 400 ribu pasien yang mendapatkan pengobatan. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena masih banyak penderita yang belum tertangani.

Benjamin menyebutkan bahwa capaian pengobatan pada tahun lalu telah meningkat hingga sekitar 80 persen. Meski demikian, angka tersebut dinilai belum cukup untuk menekan penyebaran penyakit secara maksimal.

“Kalau ingin berhasil, pengobatan harus mencapai 100 persen,” tegasnya. Khusus di Sumbar, pemerintah memperkirakan terdapat sekitar 25 ribu penderita TBC. Namun, kasus yang berhasil ditemukan baru sekitar 62 persen.

Artinya, masih ada banyak penderita yang belum mendapatkan penanganan medis sehingga potensi penularan masih terus berlangsung di tengah masyarakat.

Selain membahas penanganan kasus, Benjamin juga meninjau pengembangan riset yang dilakukan Andani Eka Putra bersama tim peneliti. Dalam kesempatan itu, Benjamin menyoroti pentingnya pengembangan industri kesehatan nasional, terutama terkait produksi obat pencegahan TBC.

Ia menyebutkan bahwa selama ini obat pencegahan TBC masih bergantung pada impor dari luar negeri. Namun, peluang produksi dalam negeri kini mulai terbuka melalui dukungan Kementerian Kesehatan dan Bio Farma.

“Kalau ini bisa diproduksi di dalam negeri, tentu menjadi langkah besar bagi kemandirian kesehatan Indonesia,” katanya.

Benjamin juga mendorong adanya kolaborasi riset yang lebih luas antar fakultas kedokteran dan rumah sakit di berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, sinergi antarlembaga menjadi faktor penting untuk mempercepat pengembangan penelitian kesehatan nasional.

“Mari gandeng FK lain dan rumah sakit lain untuk penelitian bersama. Orang-orang pintar di negeri ini harus bersama-sama memajukan Indonesia. Mari kuatkan kolaborasi untuk Indonesia sehat dan terus berkembang,” tutupnya.

Sementara itu, Rektor Unand, Efa Yonnedi, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Wamenkes RI tersebut. Ia menegaskan kesiapan Unand untuk mendukung agenda strategis pemerintah, khususnya dalam bidang kesehatan dan penguatan riset.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kehormatan dan waktu yang diberikan untuk melihat langsung berbagai riset yang dilakukan peneliti Unand bersama Unair dan perguruan tinggi lainnya. Ini adalah bentuk kolaborasi untuk tujuan yang sama, yakni memandirikan bangsa di bidang kesehatan,” ujar Efa Yonnedi.

Ia menilai isu kesehatan menjadi salah satu fokus utama pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Karena itu, Unand ingin turut mengambil peran dalam mendukung program strategis nasional di sektor kesehatan.

Dalam kesempatan tersebut, Efa Yonnedi juga menyampaikan penghargaan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar yang selama ini memberikan dukungan terhadap perkembangan Unand.

Menurutnya, Unand yang segera memasuki usia 70 tahun memiliki sejarah panjang dalam pendidikan kesehatan di Indonesia. Fakultas Kedokteran Unand bahkan telah berdiri sejak 1955 di Bukittinggi dan menjadi salah satu institusi pendidikan kedokteran penting di Sumatera.

“Semangat mendidik anak bangsa di bidang kesehatan telah lebih dahulu menyala sejak FK Unand berdiri. Fakultas ini lahir dari tekad dan pengorbanan para pendahulu agar Sumatera memiliki tenaga dokter yang tangguh, berakar pada nilai lokal namun berwawasan global,” katanya.

Selama tujuh dekade terakhir, Fakultas Kedokteran Unand telah melahirkan ribuan dokter yang kini mengabdi di berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.

Di sisi lain, Efa Yonnedi juga menyoroti tingginya kasus TBC di Indonesia yang hingga kini masih menjadi persoalan serius nasional. Ia menyebut penyakit tersebut sebenarnya dapat dicegah dan disembuhkan apabila penanganannya dilakukan secara terintegrasi melalui kolaborasi lintas sektor.

“TBC bukan penyakit baru, namun hingga hari ini Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan beban TBC tertinggi di dunia. Padahal penyakit ini sesungguhnya dapat dicegah dan disembuhkan jika ada kolaborasi lintas sektor,” ujarnya.

Menurut Efa, Sumbar menghadapi tantangan tersendiri dalam penanggulangan TBC akibat tingginya mobilitas penduduk, kepadatan permukiman di sejumlah wilayah, hingga keterbatasan layanan kesehatan di daerah terpencil.

Karena itu, Unand melalui Fakultas Kedokteran dan RS Unand menyatakan siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam penanggulangan TBC. Peran tersebut tidak hanya dijalankan sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai pusat riset dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. (*)

Baca Juga

Ruas jalan di Nagari Situjuah Ladang Laweh, Kabupaten Limapuluh Kota, amblas menyerupai sinkhole dan tertutup material longsor akibat hujan deras. (Dok. Istimewa)
Banjir dan Longsor Terjang Limapuluh Kota, Jalan Amblas Mirip Sinkhole Isolasi 2.000 Warga
Sumbar Siaga El Nino, Daerah Diminta Segera Petakan Wilayah Rawan Kekeringan
Sumbar Siaga El Nino, Daerah Diminta Segera Petakan Wilayah Rawan Kekeringan
Kasus Tuberkulosis di Sumbar Tembus 25 Ribu, Ribuan Penderita Belum Tertangani
Kasus Tuberkulosis di Sumbar Tembus 25 Ribu, Ribuan Penderita Belum Tertangani
Petugas BPBD Kabupaten Solok bersama tim gabungan mengevakuasi dua korban yang terjebak di dalam sumur di Kecamatan X Koto Singkarak. (Dok. BPBD Kabupaten Solok)
Niat Menolong Berujung Maut, Dua Warga Solok Meninggal Dunia di Dalam Sumur
18 Titik Pemantauan Hilal di Sumbar untuk Penentuan Idul Adha 2026, Ini Daftar Lokasinya
18 Titik Pemantauan Hilal di Sumbar untuk Penentuan Idul Adha 2026, Ini Daftar Lokasinya
Sumbar Masuk Jalur Pusat Industri Halal, Inklusi Keuangan Syariah Kini Tembus 92,14 Persen
Sumbar Masuk Jalur Pusat Industri Halal, Inklusi Keuangan Syariah Kini Tembus 92,14 Persen