Sumbardaily.com - Pemerintah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mempercepat pembangunan hunian tetap (huntap) sebagai bagian dari pemulihan pascabencana hidrometeorologi Siklon Senyar.
Berdasarkan data rekapitulasi per Senin (13/7/2026), Provinsi Sumatera Barat ditargetkan memperoleh 695 unit huntap mandiri yang tersebar di sembilan daerah, dengan Kabupaten Padang Pariaman menjadi wilayah penerima alokasi terbanyak.
Dari total target tersebut, Padang Pariaman mendapat alokasi 457 unit huntap. Sementara itu, daerah lainnya meliputi Pasaman sebanyak 4 unit, Pasaman Barat 28 unit, Agam 29 unit, Padang Panjang 4 unit, Lima Puluh Kota 49 unit, Tanah Datar 101 unit, Kota Pariaman 8 unit, dan Pesisir Selatan 15 unit. Di sisi lain, Pemerintah Kota Padang juga mengusulkan tambahan pembangunan sebanyak 22 unit huntap untuk warga terdampak bencana.
Program pembangunan hunian tetap tersebut merupakan bagian dari rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi Siklon Senyar yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. BNPB memastikan masyarakat yang mengajukan pembangunan huntap mandiri dapat segera memperoleh rumah yang aman, layak, dan berkelanjutan.
Sebagai bentuk komitmen percepatan rehabilitasi, BNPB telah menyerahkan kunci hunian tetap kepada warga terdampak banjir dan longsor di Sumatera Barat pada Jumat (10/7). Penyerahan dilakukan oleh Sekretaris Utama BNPB, Rustian, S.Si., Apt., M.Kes., kepada penerima manfaat di Kota Padang, Kota Pariaman, dan Kabupaten Padang Panjang.
Kegiatan tersebut turut disaksikan Kepala Pelaksana BPBD Sumatera Barat, jajaran pemerintah daerah, serta perwakilan BNPB, BPBD, dan masyarakat. Penyerahan tersebut menjadi serah terima kunci huntap pertama dalam fase rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sumatera yang dilaksanakan BNPB.
Di Kota Padang, Rustian didampingi Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir menyerahkan satu unit hunian tetap di Kampung Tanjung, Kecamatan Kuranji. Dalam kesempatan itu, Maigus berharap BNPB dapat merealisasikan tambahan pembangunan 22 unit huntap beserta fasilitas sumur bor bagi warga terdampak lainnya.
Rangkaian penyerahan kemudian dilanjutkan di Kabupaten Padang Pariaman bersama Bupati John Kenedy Azis. Selanjutnya, di Kota Pariaman, Rustian menyerahkan kunci hunian tetap mandiri milik Emridona, warga Desa Sintuak Naras, Kecamatan Pariaman Utara.
Rumah Emridona mengalami kerusakan akibat banjir dan longsor pada November 2025. Selama beberapa bulan setelah bencana, ia bersama keluarganya masih bertahan tinggal di lokasi rumah yang telah rusak akibat longsor.
"Syukur Alhamdulillah, sangat bahagia sekali melebihi segala-galanya. Sekarang kalau tidur sudah merasakan kenyamanan, gak merasa khawatir setiap malam," kata Emridona setelah menerima kunci huntap dicuplik Kamis (15/7/2026).
Rustian juga mengingatkan seluruh penerima manfaat agar hunian yang telah selesai dibangun segera ditempati sehingga dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
"Jangan sampai setelah dibangun Huntap tidak dihuni. Rumah ini sudah sangat layak, bahan aman, dan tahan hujan juga, jadi sangat aman," ujar Rustian.
Selain rumah milik Emridona, tujuh unit huntap lainnya juga telah selesai dibangun di Kota Pariaman dan telah diserahkan kepada pemilik masing-masing.
Hunian yang telah rampung tersebut merupakan rumah contoh pembangunan pascabencana menggunakan teknologi SEPABLOCK yang dikembangkan PT Semen Padang. Sebelumnya, pada akhir Maret 2026, Sekretaris Utama BNPB telah melakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan rumah contoh tersebut.
BNPB menyebut rumah contoh yang telah selesai dibangun akan menjadi bahan evaluasi sekaligus acuan dalam pembangunan huntap berikutnya di berbagai wilayah terdampak.
Dalam pelaksanaannya, pemerintah menyediakan dua skema pembangunan hunian tetap pascabencana, yakni huntap komunal dan huntap mandiri. Pada skema huntap komunal, pemerintah daerah berkewajiban menyediakan lahan, sedangkan pembangunan dilakukan oleh BNPB.
Sementara itu, huntap mandiri memberikan kesempatan kepada warga terdampak yang memiliki tanah sendiri untuk mengajukan pembangunan rumah pengganti di atas lahannya. Skema ini dinilai mampu mempercepat proses pembangunan karena lahan relokasi telah tersedia sehingga pekerjaan konstruksi dapat segera dilaksanakan.
Seluruh huntap mandiri dibangun dengan standar rumah tipe 36 yang dilengkapi dua kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi, dan dapur.
Di Sumatera Barat, pembangunan huntap mandiri dilaksanakan BNPB bekerja sama dengan PT Semen Padang menggunakan teknologi SEPABLOCK atau Semen Padang Bata Interlock. Material tersebut merupakan pengganti batu bata yang dikembangkan sejak 2020 dengan sistem interlocking seperti menyusun balok.
Teknologi ini memiliki sejumlah keunggulan, antara lain lebih ramah terhadap gempa, ramah lingkungan, mempercepat waktu pembangunan, serta memudahkan proses mobilisasi material ke lokasi pembangunan.
BNPB menegaskan percepatan pembangunan hunian tetap akan terus dilakukan bersamaan dengan proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di wilayah Sumatera. Pelaksanaan program tersebut mengedepankan sinergi antara pemerintah pusat, BNPB, pemerintah daerah, dan berbagai pihak terkait untuk menerapkan prinsip "Build-Back Safer and Better" bagi masyarakat terdampak bencana. (*)
















