Sumbardaily.com – Konsumsi tahu dan tempe sebagai sumber protein utama masyarakat Indonesia menyimpan persoalan mendasar yang belum terselesaikan. Di balik tingginya konsumsi dua pangan populer tersebut, bahan baku utamanya, yakni kedelai, masih sangat bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Kondisi ini menjadi sorotan karena menunjukkan adanya ketimpangan antara tingkat konsumsi dan kemampuan produksi dalam negeri. Hingga saat ini, kebutuhan kedelai nasional masih didominasi oleh produk impor dalam jumlah yang sangat besar.
Pakar Ilmu Tanah Universitas Andalas (Unand), Prof Dian Fiantis, mengungkapkan bahwa persoalan kedelai di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan produksi semata. Ia menilai, faktor lingkungan seperti kondisi tanah dan iklim tropis, serta sistem budidaya yang belum optimal, menjadi akar utama permasalahan.
“Sekitar 80 hingga 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih dipenuhi dari impor, bahkan untuk industri tahu dan tempe angkanya bisa lebih dari 90 persen,” ujar Dian dikutip Minggu (12/4/2026).
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia tercatat mengimpor lebih dari 2,5 juta ton kedelai setiap tahunnya. Sementara itu, produksi dalam negeri hanya berada di kisaran ratusan ribu ton. Kedelai impor yang berasal dari negara seperti Amerika Serikat, Brasil, Argentina, dan Kanada dinilai memiliki keunggulan dari segi ukuran dan keseragaman biji.
Dari sisi produktivitas, kedelai dalam negeri juga masih tertinggal jauh dibandingkan negara produsen utama dunia. Saat ini, produktivitas kedelai Indonesia hanya berkisar antara 1,5 hingga 1,7 ton per hektare. Angka tersebut masih jauh di bawah capaian negara lain yang mampu menghasilkan lebih dari 3,3 ton per hektare.
Menurut Dian, perbedaan produktivitas ini sangat dipengaruhi oleh karakter lingkungan tumbuh tanaman. Indonesia sebagai negara tropis basah memiliki curah hujan tinggi, tingkat kelembapan udara besar, serta radiasi matahari yang kerap terhalang oleh awan.
Kondisi tersebut dinilai kurang ideal, terutama pada fase kritis pertumbuhan kedelai seperti saat pembungaan dan pengisian biji. Di negara produsen utama seperti Brasil dan Amerika Serikat, tanaman kedelai mendapatkan kondisi yang lebih mendukung, yakni ketersediaan air yang cukup pada awal pertumbuhan dan kondisi kering saat pengisian biji.
“Di negara seperti Brasil dan Amerika Serikat, tanaman mendapatkan cukup air di awal pertumbuhan dan kondisi kering saat pengisian biji. Ini membuat biji lebih besar dan seragam,” jelasnya.
Sebaliknya, di Indonesia, fase pengisian biji sering terjadi dalam kondisi lembap atau bahkan saat hujan. Hal ini menyebabkan proses fotosintesis dan metabolisme tanaman tidak berjalan optimal, sehingga biji yang dihasilkan tidak terisi penuh.
Selain faktor iklim, kondisi tanah juga menjadi tantangan besar dalam budidaya kedelai nasional. Tanah di wilayah tropis seperti Indonesia umumnya bersifat masam, memiliki kandungan bahan organik yang rendah, serta mengandung unsur besi dan aluminium dalam jumlah tinggi.
Kondisi tersebut dapat mengikat unsur hara penting seperti fosfor, yang memiliki peran vital dalam pembentukan energi tanaman, khususnya pada proses pengisian biji. Kekurangan fosfor menyebabkan hasil produksi kedelai tidak maksimal, meskipun secara visual tanaman terlihat tumbuh dengan baik.
“Kondisi tanah yang masam juga menghambat aktivitas bakteri penambat nitrogen pada akar kedelai. Akibatnya, tanaman kekurangan nitrogen yang penting untuk pembentukan protein,” tambahnya.
Di sisi lain, struktur pertanian di Indonesia yang didominasi oleh petani kecil juga turut memengaruhi rendahnya produktivitas. Keterbatasan akses terhadap modal dan teknologi membuat praktik budidaya belum dilakukan secara optimal.
Sebagian besar petani masih menggunakan pendekatan konvensional tanpa didukung analisis tanah atau teknologi pertanian presisi. Pemupukan dilakukan secara umum tanpa menyesuaikan kebutuhan spesifik tanah, sementara penggunaan inokulan bakteri dan pengelolaan air belum diterapkan secara maksimal.
Kondisi ini berbeda dengan negara produsen utama yang telah menerapkan sistem pertanian modern berbasis teknologi presisi. Mulai dari analisis tanah, pemilihan varietas unggul, hingga penentuan waktu tanam dilakukan secara terukur dan sesuai kondisi lingkungan.
Meski menghadapi berbagai tantangan, peluang untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri masih terbuka lebar. Dian menegaskan bahwa langkah perbaikan harus dimulai dari cara pandang terhadap tanah sebagai sistem hidup, bukan sekadar media tanam.
Upaya yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan kandungan bahan organik dalam tanah, melakukan pengapuran untuk menurunkan tingkat keasaman, serta mendorong penggunaan inokulan bakteri penambat nitrogen.
Selain itu, pengembangan varietas kedelai yang adaptif terhadap kondisi tropis menjadi faktor penting. Varietas tersebut diharapkan mampu bertahan di tanah masam, tetap produktif meskipun radiasi matahari rendah, serta efisien dalam menyerap unsur hara.
“Kedelai tidak hanya soal produksi pangan, tetapi juga bagian dari sistem pertanian berkelanjutan. Jika dikelola dengan baik, tanaman ini justru dapat memperbaiki kesuburan tanah,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa persoalan kedelai pada akhirnya mencerminkan cara pandang terhadap tanah itu sendiri. Selama tanah hanya diposisikan sebagai media tanam tanpa memperhatikan keseimbangannya sebagai ekosistem hidup, maka potensi produksi akan sulit berkembang secara optimal.
“Di negeri tahu dan tempe, tantangan kita bukan hanya menanam kedelai, tetapi memahami tanah tempat ia tumbuh. Di situlah masa depan kemandirian pangan ditentukan,” tutup Dian. (*)
















