Hutama Karya Rampungkan 2 Jembatan Bailey, Akses Lintas Tengah Aceh Tenggara Pulih

Hutama Karya Rampungkan 2 Jembatan Bailey, Akses Lintas Tengah Aceh Tenggara Pulih

Hutama Karya merampungkan dua Jembatan Bailey di Aceh Tenggara untuk memulihkan akses Lintas Tengah dan mendukung pemulihan pascabencana. (Foto: Hutama Karya)

Sumbardaily.com, Aceh – Terputusnya akses jalan akibat bencana tidak hanya menghambat perjalanan, tetapi juga melumpuhkan aktivitas sosial dan distribusi logistik masyarakat. Dalam konteks pemulihan pascabencana tersebut, PT Hutama Karya (Persero) mengambil peran strategis dengan merampungkan pemasangan dua Jembatan Bailey di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh, guna memulihkan konektivitas pada jalur vital Lintas Tengah Sumatera.

Dua jembatan sementara yang dibangun tersebut adalah Jembatan Bailey Mengkudu dengan bentang 36 meter dan Jembatan Bailey Penanggalan sepanjang 48 meter. Keduanya berada pada ruas Jalan Lintas Tengah Kutacane–Blangkejeren yang menjadi urat nadi mobilitas masyarakat serta jalur utama distribusi logistik dan bantuan selama masa pemulihan pascabencana.

Pemasangan dilakukan di dua lokasi berbeda. Jembatan Mengkudu berlokasi di Desa Katimaju, Kecamatan Darul Hasanah, sedangkan Jembatan Penanggalan berada di Desa Lawe Penanggalan, Kecamatan Ketambe. Kedua titik tersebut sebelumnya mengalami gangguan akses akibat kerusakan jembatan, sehingga aktivitas warga harus mengandalkan lintasan darurat yang berisiko dan terbatas.

Jembatan Bailey Mengkudu mulai dapat dilintasi kendaraan pada Selasa (23/12/2025), setelah dikerjakan selama 15 hari. Sementara itu, Jembatan Bailey Penanggalan mulai difungsikan pada Minggu (28/12/2025), dengan waktu pelaksanaan yang relatif lebih singkat, yakni enam hari. Berfungsinya kedua jembatan ini menjadi titik penting dalam pemulihan arus lalu lintas di kawasan terdampak.

Dari sisi teknis, Jembatan Mengkudu memiliki panjang 36 meter, lebar efektif 3,7 meter, serta tinggi rangka (truss) 2,4 meter. Struktur tersebut dirancang mampu menahan beban kendaraan hingga 40 ton, sehingga dapat dilalui kendaraan angkutan, termasuk truk logistik. Jembatan ini dipasang di atas box culvert pada aliran air pegunungan yang bermuara ke Sungai Alas.

Adapun Jembatan Penanggalan memiliki bentang lebih panjang, yakni 48 meter, dengan lebar efektif yang sama, 3,7 meter, dan tinggi truss mencapai 3,25 meter. Dengan kapasitas beban maksimum 40 ton, jembatan ini mendukung kelancaran angkutan logistik dan mobilitas masyarakat. Lokasinya berada pada aliran air pegunungan menuju Sungai Alas, yang sebelumnya sempat memutus akses darat warga.

Sebelum kedua jembatan tersebut dapat difungsikan, masyarakat harus menggunakan lintasan sementara. Di Mengkudu, akses dilakukan melalui jalur darurat di sisi box culvert, sementara di Penanggalan, warga melintas di atas box culvert eksisting. Kondisi tersebut membatasi pergerakan dan meningkatkan risiko keselamatan pengguna jalan.

Selain pemasangan jembatan, Hutama Karya juga melakukan pemulihan akses jalan di sejumlah titik terdampak lainnya. Pembuatan tanggul dan pengalihan aliran sungai dilakukan di sekitar Sungai Jembatan Natam untuk mengurangi potensi luapan air yang dapat kembali memutus akses. Pada lokasi tersebut, aliran sungai dialihkan ke bawah jembatan lama, kemudian akses darat disiapkan melalui penimbunan guna menghubungkan Kecamatan Badar dan Kecamatan Darul Hasanah yang sebelumnya terisolasi akibat kerusakan jembatan.

Normalisasi sungai turut dikerjakan di kawasan Simpur Jaya untuk memperlancar aliran air dan mempercepat pembersihan material sisa banjir. Di sisi konektivitas, Hutama Karya membuka jalan akses baru pada ruas Kutacane–Gayo Lues, serta melakukan pembersihan lumpur dan longsoran di Jalan Akses Ketambe dan Jalan Naga Kesiangan. Pembukaan akses juga dilakukan di sejumlah permukiman, seperti Tangsaran, Tetumpun, Ise-ise, dan Rikit Gaib, agar mobilitas warga dan distribusi kebutuhan dasar dapat kembali berjalan.

Dalam pelaksanaan pemasangan Jembatan Bailey, rangkaian pekerjaan meliputi perakitan modul Bailey, pembentukan oprit, pemasangan lantai jembatan, pengujian beban, hingga pemasangan rambu lalu lintas. Hutama Karya mengerahkan crane berkapasitas 50 ton dan alat berat excavator, didukung oleh 10 personel dengan pola kerja 12 jam untuk memastikan pekerjaan selesai tepat waktu.

Selama proses konstruksi, arus lalu lintas diatur secara bergiliran tanpa pembatasan jam lintas. Pengamanan area kerja serta penempatan rambu dilakukan untuk menjaga keselamatan pengguna jalan dan pekerja di lapangan.

Pada kesempatan terpisah, Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah, menegaskan bahwa pemasangan Jembatan Bailey ini merupakan bagian dari upaya pemulihan akses darat pascabencana di Aceh.

“Kembali berfungsinya ruas Lintas Tengah di dua titik tersebut, mobilitas warga dan distribusi logistik diharapkan kembali lancar pada masa tanggap darurat hingga transisi pemulihan,” tutupnya. (*)

Baca Juga

Jembatan Bailey Pulihkan Akses Tanah Datar-Sijunjung, Dana TKD Percepat Pemulihan Pascabanjir Bandang
Jembatan Bailey Pulihkan Akses Tanah Datar-Sijunjung, Dana TKD Percepat Pemulihan Pascabanjir Bandang
Pemindahan Akses Keluar Pintu Tol Pekanbaru Dimulai 30 Juli 2026, Hutama Karya Imbau Pengguna Ikuti Rambu
Pemindahan Akses Keluar Pintu Tol Pekanbaru Dimulai 30 Juli 2026, Hutama Karya Imbau Pengguna Ikuti Rambu
Hutama Karya Kantongi Sertifikat Persetujuan Laik Fungsi Struktur Jembatan Musi V Tol Palembang–Betung
Hutama Karya Kantongi Sertifikat Persetujuan Laik Fungsi Struktur Jembatan Musi V Tol Palembang–Betung
Wakil Direktur Utama Hutama Karya Tinjau Proyek Flyover Sitinjau Lauik, Pastikan Progres Berjalan Optimal
Wakil Direktur Utama Hutama Karya Tinjau Proyek Flyover Sitinjau Lauik, Pastikan Progres Berjalan Optimal
Penanganan Darurat Jalan Longsor di Sumbar Dikebut, Malalak dan Lembah Anai Hampir Rampung
Penanganan Darurat Jalan Longsor di Sumbar Dikebut, Malalak dan Lembah Anai Hampir Rampung
RKPD 2027 Padang Pariaman Fokus Pemulihan Pascabencana dan Transformasi Ekonomi
RKPD 2027 Padang Pariaman Fokus Pemulihan Pascabencana dan Transformasi Ekonomi