Sumbardaily.com – Cuaca panas yang menyengat dalam beberapa hari terakhir menjadi keluhan utama warga Kota Padang dan sejumlah daerah lain di Sumatera Barat (Sumbar).
Fenomena Suhu Panas ini terasa lebih menyengat dari biasanya dan terjadi hampir merata di berbagai wilayah, memicu kekhawatiran sekaligus ketidaknyamanan masyarakat saat beraktivitas di luar ruangan.
Berdasarkan data resmi dari BMKG Minangkabau, suhu udara di sejumlah titik di Sumbar bahkan telah menembus angka di atas 35 derajat Celcius. Kondisi ini menunjukkan adanya peningkatan suhu yang signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Koordinator Observasi dan Informasi BMKG Kelas II Stasiun Minangkabau, Yudha Nugraha, mengungkapkan bahwa hasil pengamatan pada 26 hingga 27 April 2026 mencatat lonjakan suhu di beberapa daerah.
“Suhu maksimum harian yang signifikan tercatat di wilayah Padang Pariaman 35,9 °C, Kabupaten Solok 35,5 °C, Padang 34,5 °C, Pasaman Barat 34,1 °C, dan Limapuluh Kota 33,3 °C,” ujar Yudha, Selasa (28/4/2026).
Menurutnya, meskipun suhu tersebut belum masuk kategori ekstrem, kondisi yang dirasakan masyarakat menjadi jauh lebih panas. Hal ini dipengaruhi oleh kelembapan udara yang tinggi, berkisar antara 76 hingga 96 persen, serta pergerakan angin yang relatif lemah.
“Suhu ini termasuk tinggi, meskipun belum masuk kategori ekstrem. Namun, karena kelembapan udara juga tinggi dan tiupan angin cenderung lemah, suhu yang dirasakan tubuh menjadi jauh lebih gerah,” jelasnya.
BMKG menjelaskan, terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan cuaca panas di wilayah Sumbar terasa lebih intens dalam beberapa hari terakhir.
Pertama, wilayah ini tengah memasuki masa transisi atau pancaroba, yaitu peralihan dari periode hujan menuju musim dengan curah hujan yang lebih rendah, tetapi masih disertai kelembapan udara tinggi.
Kedua, minimnya tutupan awan pada pagi hingga siang hari menyebabkan radiasi matahari langsung mengenai permukaan bumi tanpa hambatan. Kondisi ini mempercepat peningkatan suhu udara di siang hari.
Ketiga, adanya fenomena inversi suhu di lapisan atmosfer yang menghambat pertumbuhan awan konvektif. Dampaknya, potensi terbentuknya hujan pada siang hari menjadi sangat kecil, sehingga panas matahari terasa lebih dominan.
Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa kondisi cuaca di Sumbar masih berpotensi berubah secara tiba-tiba. Hujan dengan intensitas sedang diperkirakan masih akan terjadi, terutama pada sore hingga malam hari di beberapa wilayah.
“Dari analisis kami untuk beberapa hari ke depan, potensi hujan intensitas sedang tetap ada, terutama pada waktu sore hingga malam hari di beberapa wilayah Sumbar,” ungkap Yudha.
Seiring dengan kondisi Cuaca Panas ini, masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap dampaknya terhadap kesehatan. Warga disarankan untuk menjaga asupan cairan dengan cukup minum air putih serta menggunakan pelindung seperti payung atau tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.
Fenomena ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi perubahan cuaca, terutama di masa pancaroba yang kerap menghadirkan kondisi ekstrem secara tiba-tiba. (*)
















