Sumbardaily.com, Padang – Pembangunan jalan tol Padang–Pekanbaru seksi Sicincin/Kayu Tanam–Bukittinggi diperkirakan membutuhkan anggaran hingga Rp25,23 triliun.
Nilai anggaran besar tersebut menjadi bagian penting dari percepatan proyek infrastruktur strategis di Sumatera Barat (Sumbar) yang diharapkan mampu meningkatkan konektivitas wilayah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Rencana pembangunan ruas Tol Sicincin–Bukittinggi dibahas dalam rapat koordinasi antara Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar, serta pemerintah kabupaten dan kota terkait, baru-baru ini.
Proyek ini ditargetkan dapat selesai dan mulai beroperasi pada 2031, bahkan berpeluang dipercepat menjadi 2029 apabila dukungan teknis, pendanaan, dan koordinasi lintas sektor berjalan optimal sejak awal.
Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Kementerian PU, Rachman Arief Dienaputra, menegaskan peluang percepatan tersebut tetap terbuka.
“Pengoperasian ruas ini dimungkinkan pada 2031. Namun demikian, terdapat peluang percepatan menjadi 2029 sepanjang dukungan teknis, pendanaan, dan koordinasi lintas sektor dapat berjalan optimal sejak tahap awal,” ujarnya, dikutip Minggu (8/2/2026).
Dibagi Dua Segmen Utama
Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah menjelaskan bahwa pembangunan ruas tol ini direncanakan terbagi menjadi dua segmen utama.
Segmen pertama menghubungkan Sicincin/Kayu Tanam–Padang Panjang sepanjang 20,3 kilometer, sedangkan segmen kedua menghubungkan Bukittinggi–Padang Panjang sepanjang 19,71 kilometer. Masing-masing segmen akan dilengkapi satu interchange guna memperkuat konektivitas antarwilayah.
Ia menegaskan perencanaan teknis harus menyesuaikan kondisi medan yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi.
“Perencanaannya akan disesuaikan dengan kondisi medan yang memiliki kompleksitas tinggi,” kata Mahyeldi.
Rencana Terowongan, Jembatan, dan Jalur At Grade
Pada segmen Sicincin/Kayu Tanam–Padang Panjang, pembangunan direncanakan mencakup dua terowongan dengan total panjang 5,85 kilometer, terdiri dari terowongan pertama sepanjang 5,5 kilometer dan terowongan kedua 0,35 kilometer.
Selain itu, konstruksi mengombinasikan jalur at grade sepanjang 4,45 kilometer, jembatan 10 kilometer, serta sisanya berupa terowongan.
Sementara itu, segmen Bukittinggi–Padang Panjang dirancang menggunakan jalur at grade sepanjang 17 kilometer dan jembatan sepanjang 2,71 kilometer. Karakteristik geografis yang kompleks membuat tahapan survei teknis menjadi krusial dalam proses perencanaan.
Mahyeldi menyebut survei topografi telah selesai dilaksanakan. Tahap berikutnya adalah survei geoteknik melalui metode boring investigation atau penyelidikan tanah dengan pengeboran vertikal yang dijadwalkan berlangsung pertengahan Februari hingga awal Mei 2026.
“Dengan syarat, izin memasuki hutan lindungnya sudah keluar dari kementerian terkait. Jika itu belum terbit, tim survei belum bisa bekerja,” jelasnya.
Dukungan Lintas Sektor Diperlukan
Agar pembangunan ruas Tol Sicincin/Kayu Tanam–Padang Panjang dan Padang Panjang–Bukittinggi dapat segera dimulai, Mahyeldi menekankan pentingnya dukungan lintas sektor.
Tidak hanya dari pemerintah pusat dan daerah, tetapi juga dari masyarakat, khususnya dalam tahapan pembebasan lahan.
Menurutnya, keberadaan tol tersebut akan menjadi solusi jangka panjang untuk meningkatkan konektivitas antarwilayah di Sumbar sekaligus mengurangi gangguan lalu lintas pada jalur nasional Padang–Bukittinggi yang selama ini rawan terdampak banjir dan longsor.
“Kami menyambut baik target dan komitmen pemerintah pusat dalam pembangunan Jalan Tol Sicincin–Bukittinggi. Infrastruktur ini sangat penting untuk memperkuat konektivitas, memperlancar mobilitas orang dan barang, serta mendukung pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat ke depan,” ujar Mahyeldi.
Ia juga menegaskan kesiapan pemerintah daerah dalam mendukung seluruh tahapan pembangunan sesuai kewenangan. “Insya Allah, kami siap mendukung sesuai kewenangan yang dimiliki daerah,” tegasnya.
Dikerjakan PT Hutama Karya
Pembangunan ruas tol ini direncanakan dilaksanakan oleh PT Hutama Karya melalui skema penugasan. Rapat koordinasi turut membahas tahapan teknis yang telah dan akan dilakukan, mulai dari survei topografi, survei geoteknik, hingga penyusunan rekomendasi teknis sebagai dasar perencanaan pembangunan.
















