Sumbardaily.com - Rencana pembangunan ulang atau rekonstruksi total GOR Haji Agus Salim Padang dipastikan akan membawa dampak luas terhadap aktivitas masyarakat. Selama proses perombakan berlangsung, seluruh kegiatan olahraga di kawasan tersebut akan dihentikan sementara, sedangkan sejumlah fasilitas utama, termasuk stadion, masuk dalam area proyek.
Proyek pembangunan tersebut menjadi salah satu langkah besar untuk kawasan olahraga terbesar di Kota Padang. Dengan nilai investasi yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp300 miliar, pembangunan tidak lagi dilakukan dalam bentuk rehabilitasi atau perbaikan sebagian fasilitas, melainkan pembangunan ulang secara menyeluruh.
Menurut Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar, Arry Yuswandi, konsep yang disiapkan pemerintah adalah membangun kembali kawasan GOR Haji Agus Salim secara total. Keputusan tersebut diambil setelah adanya penilaian dari pihak pusat terkait kondisi bangunan dan fasilitas yang ada saat ini.
Menurut Arry, hasil kajian yang dilakukan menunjukkan bahwa kawasan GOR Haji Agus Salim tidak memungkinkan untuk hanya direhabilitasi secara parsial. Karena itu, pembangunan ulang menjadi pilihan yang dianggap paling tepat.
“Konsep pembangunan GOR Haji Agus Salim itu secara keseluruhan, artinya pembangunan ulang kembali. Karena sesuai penilaian dari pihak pusat, GOR tidak bisa direhab ulang saja,” ujar Arry, Senin (8/6/2026).
Pembangunan ulang tersebut diperkirakan akan berdampak pada sebagian besar fasilitas yang berada di dalam kawasan GOR Haji Agus Salim. Meski demikian, tidak seluruh area masuk dalam cakupan proyek perombakan.
Arry menjelaskan bahwa rincian lengkap kawasan yang terdampak telah dituangkan dalam peta perencanaan. Namun, ia memastikan terdapat beberapa area yang tidak terkena dampak pembangunan.
Salah satunya adalah kawasan Teratai yang disebut tidak masuk dalam area perombakan. Selain itu, fasilitas panjat tebing yang berada di depan kawasan Teratai juga dipastikan tidak terdampak oleh proyek tersebut.
“Salah satunya kawasan Teratai setahu saya tidak terkena dampak perombakan. Kemudian area panjat tebing yang berada di depan Teratai juga tidak terdampak. Namun kawasan stadion tentu terdampak karena menjadi bagian dari proyek pembangunan,” katanya.
Masuknya stadion ke dalam area pembangunan menunjukkan bahwa proyek ini akan menyentuh fasilitas utama yang selama ini menjadi pusat berbagai kegiatan olahraga di Kota Padang. Kondisi tersebut juga menjadi alasan mengapa seluruh aktivitas olahraga di kawasan GOR Haji Agus Salim harus dihentikan sementara selama proses pembangunan berlangsung.
Menurut Arry, selama pekerjaan perombakan dan pembangunan ulang dilaksanakan, kawasan GOR tidak dapat digunakan untuk kegiatan olahraga dalam bentuk apa pun. Kebijakan tersebut dilakukan untuk mendukung kelancaran proyek sekaligus menjaga aspek keselamatan selama proses konstruksi berlangsung.
“Sepanjang dilakukan perombakan, kawasan GOR Haji Agus Salim tidak bisa dimanfaatkan untuk kegiatan olahraga apa pun,” tegasnya.
Dampak pembangunan ulang tidak hanya dirasakan oleh para pengguna fasilitas olahraga. Aktivitas ekonomi yang selama ini tumbuh di kawasan GOR Haji Agus Salim juga ikut terdampak.
Sejumlah pedagang dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjalankan usaha di kawasan tersebut telah menjadi perhatian pemerintah. Arry menyebut seluruh data pedagang dan pelaku UMKM yang beraktivitas di kawasan GOR telah didata oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora).
Pendataan tersebut dilakukan sebagai bagian dari persiapan menghadapi pelaksanaan proyek pembangunan ulang yang akan berlangsung di kawasan itu. Keberadaan para pelaku usaha menjadi salah satu aspek yang turut diperhatikan mengingat aktivitas ekonomi di sekitar GOR Haji Agus Salim selama ini cukup aktif seiring tingginya kunjungan masyarakat.
Dengan nilai proyek yang diperkirakan melebihi Rp300 miliar, pembangunan ulang GOR Haji Agus Salim akan menjadi transformasi besar bagi kawasan olahraga kebanggaan masyarakat Sumatera Barat tersebut. Di sisi lain, proyek ini juga membawa konsekuensi berupa penghentian sementara aktivitas olahraga, perubahan pada sejumlah fasilitas utama, serta dampak terhadap aktivitas ekonomi yang selama ini berkembang di kawasan GOR. (*)
















