Rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membangun jembatan cinta di kawasan Rasuna Said mengundang beragam tanggapan. Sebagian menyambutnya sebagai ruang romantis baru sekaligus destinasi wisata yang dapat mempercantik wajah ibu kota. Sebagian lain justru khawatir pemasangan gembok cinta akan menimbulkan persoalan baru, mulai dari sampah, perawatan, hingga mengganggu fungsi jembatan sebagai fasilitas publik.
Perdebatan ini sesungguhnya bukan sekadar soal setuju atau tidak setuju terhadap gembok cinta. Yang lebih menarik adalah bagaimana pemerintah berusaha mengubah makna sebuah infrastruktur publik!
Selama ini, jembatan dipahami sebagai sarana untuk menghubungkan dua tempat yang terpisah. Nilainya diukur dari seberapa aman, kuat, dan lancar ia mengalirkan mobilitas manusia. Namun, melalui istilah "jembatan cinta", makna itu bergeser. Jembatan tidak lagi hanya diposisikan sebagai penghubung jalan, melainkan juga “penghubung perasaan”.
Pergeseran makna tersebut merupakan strategi pembingkaian bahasa. Bukankah pilihan kata dapat membentuk cara masyarakat memahami sebuah kebijakan? Ketika kata cinta dilekatkan pada jembatan, perhatian masyarakat secara perlahan bergeser dari persoalan teknis menuju nilai emosional yang ingin dibangun.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa tradisi gembok cinta di berbagai negara lahir dari keyakinan bahwa hubungan yang dikunci akan bertahan selamanya. Akan tetapi, pengalaman kota-kota seperti Paris menunjukkan ironi yang sulit diabaikan.
Ribuan gembok yang dipasang pasangan kekasih memang menguatkan simbol komitmen, tetapi secara fisik justru menambah beban struktur jembatan. Pada 2015, Pemerintah Kota Paris bahkan harus membongkar puluhan ton gembok dari Pont des Arts setelah sebagian pagar jembatan roboh akibat beban yang terus bertambah.
Ironinya sederhana tetapi tajam. Simbol yang dimaksudkan untuk menguatkan hubungan justru dapat melemahkan infrastruktur yang menjadi tempat bergantungnya simbol tersebut. Makna romantis akhirnya berbenturan dengan hukum fisika.
Pengalaman itu penting dibaca ketika Jakarta ingin mengadopsi konsep serupa!
Berbeda dengan Pont des Arts yang berkembang sebagai bagian dari kawasan wisata bersejarah di tepian Sungai Seine, Rasuna Said lahir dari logika yang sama sekali berbeda. Kawasan ini merupakan salah satu koridor bisnis paling sibuk di Jakarta.
Gedung perkantoran, kedutaan besar, hotel, pusat perdagangan, dan jaringan transportasi membentuk karakter ruang yang sangat mengutamakan mobilitas. Orang datang ke Rasuna Said untuk bekerja, menghadiri rapat, mengejar waktu, atau berpindah moda transportasi. Mereka datang bukan untuk berlama-lama menikmati ruang.
Sepertinya, gagasan menghadirkan jembatan cinta di Rasuna Said bukan sekadar membangun fasilitas baru. Yang sesungguhnya sedang dilakukan adalah mengubah cara masyarakat membaca fungsi sebuah infrastruktur.
Jembatan yang semula dirancang agar orang cepat menyeberang kini didorong menjadi tempat orang berhenti, berfoto, menulis nama, memasang gembok, bahkan menjadikannya bagian dari ritual hubungan mereka.
Lalu, apakah pemerintah sedang menjawab kebutuhan ruang publik warga, atau justru sedang memproduksi sebuah ikon agar Jakarta tampak lebih menarik?
Pertanyaan ini penting karena beberapa tahun terakhir banyak kota berlomba menghadirkan ruang yang mudah dipotret, mudah dibagikan di media sosial, dan cepat menjadi viral. Tidak sedikit proyek ruang publik yang lebih berhasil sebagai latar ber-swafoto dibanding sebagai fasilitas yang benar-benar meningkatkan kualitas hidup warga.
Jika kecenderungan itu menjadi dasar pembangunan, (bisa saja) infrastruktur perlahan mengalami perubahan fungsi. Ia tidak lagi dipandang terutama sebagai pelayanan publik, melainkan sebagai alat membangun citra kota. Dalam kondisi seperti itu, simbol sering kali memperoleh perhatian lebih besar daripada substansi, bukan?
Padahal, identitas sebuah ruang tidak bisa diciptakan hanya dengan memasang simbol. Ruang seringkali memperoleh maknanya melalui praktik sosial yang berlangsung terus-menerus. Artinya, sebuah kawasan tidak otomatis berubah menjadi ruang romantis hanya karena diberi nama jembatan cinta. Karakter ruang dibentuk oleh bagaimana masyarakat menggunakannya setiap hari.
Rasuna Said hingga kini tetap dikenal sebagai koridor mobilitas. Ritme kawasan ini ditentukan oleh jam kerja, lalu lintas kendaraan, dan arus pejalan kaki yang bergerak cepat.
Dengan demikian, jika simbol romantisme ditempatkan pada ruang yang secara fungsional dirancang untuk mempercepat arus manusia, pemerintah perlu menjelaskan lebih jauh dasar kebijakannya. Jangan sampai ruang yang semestinya memudahkan mobilitas justru berubah menjadi titik keramaian baru yang mengganggu fungsi dasarnya.
Bukan berarti Jakarta tidak memerlukan ruang yang lebih manusiawi. Sebaliknya, justru membutuhkan lebih banyak ruang publik yang nyaman, teduh, aman, dan mampu mempertemukan warganya.
Namun, membangun ruang publik yang baik tidak selalu harus dimulai dengan menciptakan simbol romantis. Yang lebih mendasar adalah memastikan bahwa setiap infrastruktur tetap memenuhi prinsip keselamatan, keberlanjutan, dan kemudahan akses bagi semua pengguna.
Pengalaman kota-kota lain menunjukkan bahwa jalan tengah selalu tersedia. Jika pemerintah ingin mengakomodasi tradisi gembok cinta, instalasi khusus dapat disediakan tanpa membebani struktur utama jembatan. Dengan cara itu, simbol budaya tetap hidup, sementara fungsi infrastruktur tidak terganggu.
Nah, adakalanya sebuah kota dikenang bukan karena banyaknya ikon yang dibangun, melainkan karena kualitas ruang publik yang benar-benar melayani warganya, kan? Sebuah jembatan memang dapat menjadi simbol cinta.
Namun, sebelum menjadi “penghubung dua hati”, ia harus tetap menjalankan tugas utamanya, yakni menghubungkan dua sisi kota dengan aman. Ketika simbol mulai mengalahkan fungsi, yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan bukan sekadar sebuah jembatan, melainkan cara sebuah kota memahami makna pembangunan itu sendiri! (*)
Penulis Muhardis (Pemerhati Bahasa)
















