Sumbardaily.com - Penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) mulai digaungkan di Kabupaten Pasaman sebagai pendekatan baru dalam dunia pendidikan madrasah. Kurikulum ini menitikberatkan pada pembentukan karakter, dengan menyeimbangkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual peserta didik.
Konsep ini mendorong madrasah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan akhlak yang dilandasi nilai kasih sayang. Melalui pendekatan tersebut, siswa diharapkan tumbuh sebagai individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan kedekatan spiritual.
Kementerian Agama Kabupaten Pasaman mendorong penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di seluruh madrasah sebagai langkah transformasi pendidikan. Program ini diharapkan mampu mencetak generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga berakhlak mulia.
Kepala Kantor Kemenag Pasaman, Yasril, menegaskan bahwa KBC menjadi pendekatan baru dalam dunia pendidikan madrasah. Menurutnya, sistem ini tidak lagi hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga menekankan keseimbangan emosional dan spiritual siswa.
"Kita ingin mencetak generasi yang tidak hanya mahir dalam sains dan teknologi, tapi juga memiliki adab dan rasa cinta kepada sesama serta Sang Pencipta," ujar Yasril, dikutip dari Humas Kemenag Pasaman, Senin (27/4/2026).
Ia menjelaskan, kehadiran Kurikulum Berbasis Cinta merupakan respons terhadap tantangan zaman. Pendidikan dinilai perlu menghadirkan keseimbangan antara kecerdasan otak dan kelembutan hati.
Menurutnya, madrasah tidak sekadar menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga berperan sebagai ruang pembentukan karakter. Nilai kasih sayang menjadi landasan utama dalam proses pembelajaran.
Yasril menilai implementasi KBC telah menunjukkan dampak positif. Karena itu, ia meminta agar kurikulum ini diterapkan di seluruh jenjang pendidikan madrasah di Kabupaten Pasaman.
Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya kesiapan tenaga pendidik dalam menjalankan program tersebut. Guru disebut sebagai ujung tombak dalam keberhasilan penerapan kurikulum ini.
"Saya meminta seluruh guru madrasah di Pasaman untuk mematangkan persiapan diri. Mengajar dengan cinta membutuhkan kematangan ilmu dan ketulusan jiwa," katanya.
Ia menambahkan, penerapan KBC tidak boleh berhenti sebatas konsep atau slogan. Diperlukan penguatan kapasitas guru, baik dari sisi keilmuan maupun spiritual, agar nilai-nilai dalam kurikulum dapat diterapkan secara optimal.
Melalui kebijakan ini, Kemenag Pasaman berkomitmen mewujudkan madrasah yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga melahirkan siswa yang berkarakter luhur. Selain itu, lingkungan madrasah diharapkan menjadi lebih ramah, nyaman, dan penuh keberkahan.(*)
















