Sumbardaily.com - Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafii meminta masyarakat, termasuk para pengamat, tidak terburu-buru mengaitkan insiden bom di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang dengan isu radikalisme.
Menurutnya, penyebab peristiwa tersebut harus dipastikan melalui proses penyelidikan yang dilakukan aparat kepolisian agar kesimpulan yang diambil benar-benar berdasarkan fakta.
Pernyataan itu disampaikan Wamenag usai menghadiri Rapat Kerja Gabungan bersama Komisi VIII DPR RI di Jakarta, Rabu (15/7/2026). Ia menegaskan bahwa setiap peristiwa harus dilihat secara objektif tanpa didasarkan pada dugaan maupun informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
Wamenag menjelaskan, pengalaman dari kasus serupa yang pernah terjadi di Jakarta menjadi pelajaran penting agar publik tidak terburu-buru memberikan label radikalisme terhadap suatu peristiwa. Saat itu, dugaan awal yang berkembang di masyarakat berbeda dengan hasil penyelidikan aparat yang menemukan adanya persoalan psikologis yang dialami pelaku.
"Terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi seperti halnya di MAN 3 Padang, saya kira itu harus ditelusuri sebelum memberikan kesimpulan, apa sebenarnya yang memicu sehingga peristiwa itu bisa terjadi. Karena peristiwa yang sama kan pernah terjadi juga di Jakarta, dan ada orang yang kemudian terburu-buru menyimpulkan untuk tindakan radikalisme, ternyata jauh dari itu. Ada persoalan-persoalan psikologi yang dialami oleh pelaku, sehingga kemudian dia nekat melakukan tindakan seperti itu," ujar Wamenag dikutip Jumat (17/7/2026).
Berkaca dari pengalaman tersebut, Kementerian Agama kini memilih mengedepankan akurasi dalam menelusuri motif yang melatarbelakangi peristiwa di MAN 3 Padang. Menurut Wamenag, proses investigasi yang komprehensif menjadi dasar penting sebelum muncul penilaian atau kesimpulan dari berbagai pihak.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpancing oleh pihak-pihak yang berupaya memanfaatkan insiden tersebut untuk membangun situasi yang tidak kondusif. Wamenag menilai penyebaran informasi yang belum jelas justru dapat memperkeruh keadaan dan memunculkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat.
"Kita mengingatkan kepada semua pihak untuk melihat peristiwanya. Untuk memahami seutuhnya, tidak kemudian mengambil kesimpulan dengan dasar perasaan, informasi yang tidak jelas, dan lain sebagainya," tegasnya.
Selain menunggu hasil investigasi, Kementerian Agama memastikan insiden tersebut akan menjadi bahan evaluasi menyeluruh di sektor pendidikan. Langkah itu dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat lingkungan belajar di madrasah agar tetap aman dan kondusif bagi seluruh peserta didik.
Kemenag menegaskan komitmennya untuk memastikan hak para pelajar di lingkungan madrasah tetap terpenuhi, termasuk memperoleh suasana belajar yang tenang serta kesempatan menyiapkan masa depan secara terukur tanpa adanya hambatan akibat peristiwa tersebut. (*)
















