Sumatera Barat: Toleransi Ala Minang dan Resiliensi Psikologis di Balik Isu Intoleransi

Sumatera Barat: Toleransi Ala Minang dan Resiliensi Psikologis di Balik Isu Intoleransi

Ilustrasi keberagaman di Sumatera Barat. (Dok. Pribadi)

Oleh : Nurul Fadhilah Khair, M.Psi, Psikolog

Dosen Psikologi Klinis, Prodi Psikologi Islam, UIN Imam Bonjol Padang

Belakangan ini, wilayah Sumatera Barat (Sumbar), terutama kota Padang kerap menjadi perbincangan di kancah nasional.

Hal ini dikarenakan wilayah ini dicap sebagai salah satu wilayah yang memunculkan intoleransi di Indonesia.

Peristiwa penolakan terhadap rumah ibadah non-Muslim menjadi viral dan menimbulkan citra negatif terhadap ranah Minang.

Namun benarkah demikian? Jika kita telisik dari perspektif budaya dan psikologi klinis, generalisasi tersebut justru dapat menimbulkan tekanan secara sosial maupun secara mental.

Kebudayaan Minangkabau: Warisan Dialogis dan Inklusif

Secara luas orang Minang dikenal sebagai individu yang menjunjung tinggi prinsip musyawarah, kearifan lokal, dan keterikatan sosial berbasis keluarga.

Hal ini tampak pada sistem kekerabatan Matrilineal yang dianut oleh Masyarakat Minang.

Sistem ini merupakan kebudayaan yang cukup unik, karena tidak banyak penganutnya di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Keunikan sistem matrilineal ini membentuk struktur sosial yang kokoh dan penuh toleransi.

Sebuah pepatah mengatakan “bulek aia dek pambuluh, bulek kato dek mufakat” jelas mengungkapkan secara tegas bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah pada setiap individu.

Untuk menyatukan perbedaan itu maka secara lumrah harus diselesaikan melalui dialog bersama.

Integrasi nilai adat dan agama Islam yang tidak kaku, juga digambarkan dalam falsafah minang “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”.

Falsafah ini mengandung prinsip moral, keadilan dan pengayoman terhadap masyarakat tanpa pandang bulu.

Sehingga ketika terjadi insiden yang mencerminkan eksklusivitas yang dikemas dalam kekerasan berbasis agama, masyarakat minang yang menjunjung tinggi falsafah tersebut akan merasa sangat terluka.

Di sisi lain, generasi muda yang betul-betul memegang prinsip tersebut akan merasa bingung, karena tindakan kekerasan tersebut sama sekali tidak mencerminkan jati diri mereka secara kolektif.

Stigma Intoleransi dan Luka Psikologis Kolektif

Psikologi klinis memandang bahwa stigma sosial mampu menjadi penyebab luka psikologis yang tersembunyi.

Ketika secara kolektif masyarakat minang dilabeli “tidak toleran”, hal ini menimbulkan tekanan emosional tersendiri terutama bagi mereka yang kuat dalam memegang falsafah Minangkabau.

Mereka merasa bahwa stigma tersebut sama sekali tidak merepresentasikan bagaimana seharusnya masyarakat minang bersikap.

Di sisi lain akan muncul cognitive dissonance  atau konflik antara nilai yang diyakini individu dan persepsi dari luar.

Jika konflik ini semakin dalam, maka akan berdampak pada munculnya kecemasan, rasa malu secara kolektif serta perasaan tidak berdaya.

Anak-anak dan remaja tentunya menjadi kelompok paling rentan terhadap tekanan-tekanan ini.

Mereka yang secara langsung menyaksikan konflik terkait rumah ibadah, mungkin saja akan mengalami vicarious trauma atau trauma sekunder, dimana trauma yang dialami secara tidak langsung akibat melihat kekerasan maupun penolakan yang terkait dengan perbedaan agama.

Gejala yang mungkin mereka alami dan terlihat berupa ketakutan secara terus menerus, menarik diri dari lingkungan sosial serta berkembangnya prasangka negatif terhadap individu yang berasal dari kelompok berbeda.

Gejala ini jika dibiarkan berkembang secara terus menerus tanpa ditangani maka turut serta menumbuhkan sikap dan nilai eksklusif yang justru akan memunculkan bibit intoleransi tersebut.

Resiliensi Psikologis: Benteng dari Dalam Budaya

Sejatinya, kekuatan mental dan sosial yang dimiliki masyarakat Minangkabau justru berfungsi sebagai pelindung alami terhadap tekanan-tekanan tersebut.

Psikologi klinis melihat ini sebagai bentuk resiliensi, menjadi kekuatan individu untuk bangkit dari tekanan, trauma maupun stigma dengan tetap menjaga fungsi-fungsi psikologisnya secara sehat.

Resiliensi masyarakat Minangkabau terbentuk dari beberapa aspek:

Identitas Budaya yang Kuat: identitas diri sebagai ‘orang Minang’ secara tidak langsung membentuk rasa harga diri secara kolektif dan munculnya makna hidup yang stabil. Keyakinan dan identitas ini, secara langsung menjadi jangkar psikologis saat mengalami banyaknya tekanan dari luar.

Dukungan Sosial dan Kekerabatan : keunikan masyarakat dalam sistem kekerabatan matrilineal dan nilai gotong royong yang dianut secara tidak langsung menciptakan ikatan sosial yang hangat. Hal ini membuat individu jarang sekali mengalami loneliness atau kesepian karena pada komunitas ini dalam setiap aspek kehidupan seluruh keluarga selalu terlibat.

Peran Agama sebagai Sumber Makna dan Harapan: masyarakat Minangkabau meyakini agama sebagai penguat spiritual dalam menghadapi tekanan hidup, bukan hanya sebuah ritualistik.

Banyak sekali ritual keagamaan yang dilakukan secara kolektif berupa wirid, pengajian dan kegiatan sosial keagamaan secara tidak langsung memperkuat daya tahan emosional masyarakat Minangkabau.

Musyawarah sebagai Sarana Penyelesaian Konflik : tradisi dan nilai musyawarah yang dianut, memiliki kontributsi besar dalam mengembangkan kemampuan penyelesaian konflik masyarakat minang tanpa melakukan kekerasan.

Hal ini menjadi praktik psikososial yang berkontribusi besar dalam memperkuat keterampilan regulasi emosi dan empati individu.

Dampak Psikologis terhadap Generasi Muda

Dampak besar terhadap stigma intoleransi pada generasi kemungkinan akan bermuara pada pelabelan negatif secara nasional sehingga generasi muda Minangkabau cenderung mengalami confused identity, atau mengarah pada identitas ganda.

Satu sisi mereka mungkin bangga menjadi bagian dari budaya Minangkabau tapi di sisi lain merasa dilabeli atau “tercap” oleh pandangan luar.

Tekanan ekstrem ini menyebabkan gangguan kecemasan, menarik diri atau munculnya sikap dan perilaku ekstrem sebagai bentuk pertahanan psikologis.

Hal ini harus menjadi poin penting agar generasi muda mampu membangun narasi tandingan yang kuat, bahwa masyarakat Minangkabau memiliki rekam jejak panjang dalam membangun harmoni dalam lingkungan sosial, termasuk dengan masyarakat dari latar belakang agama yang berbeda.

Langkah Intervensi Psikologis Berbasis Budaya

Sebagai upaya preventif untuk menghadapi potensi munculnya gangguan psikologis akibat konflik sosial maupun stigma intoleransi, Psikologi Klinis menawarkan beberapa langkah intervensi berbasis komunitas dan budaya sebagai berikut: 

Edukasi Toleransi di Sekolah : Pemahaman lintas budaya untuk pertama kali bisa ditanamkan dalam lingkup sekolah.

Diharapkan ke depannya, kurikulum sekolah semenjak sekolah dasar bisa disisipi berbagai pelatihan regulasi emosi, kemampuan komunikasi non kekerasan serta pengenalan hal-hal yang berkaitan dengan multikulturalisme. 

Pelatihan untuk Guru dan Tokoh Adat : Tigo Tungku Sajarangan , Ninik Mamak (pemimpin adat), Alim Ulama (pemimpin agama), dan Cadiak Pandai (pemimpin intelektual), sebagai penopang kehidupan masyarakat yang menjaga keseimbangan antara adat, agama dan pengetahuan ini juga diberi pelatihan dasar mengenai tanda stress psikologis pada generasi muda.

Harapannya agar mereka mampu melakukan deteksi stress secara dini dan juga membantu memberi dukungan secara emosional kepada para generasi muda.

Forum Dialog Damai Antar Agama: Dialog terbuka yang difasilitasi oleh tokoh lintas agama dan tokoh adat yang dilakukan secara berkala, mampu menjadi sarana mengurai kesalahpahaman dan mampu membentuk ikatan serta empati yang kuat antar kelompok agama.

Pendampingan Psikologis Pasca Konflik: menilisik kasus penolakan rumah ibadah yang baru terjadi maupun konflik antar warga lainnya yang muncul dimasyarakat, diharapkan adanya tim konselor komunitas maupun relawan psikologi yang standby membantu individu yang terdampak secara emosional.

Penutup: Ranah yang Tidak Hilang Arahnya

Tulisan ini mengungkap bahwa wilayah Sumatera Barat sebagai wilayahnya Rang Minang bukanlah wilayah yang Intoleran, dimana wilayah ini adalah daerah yang dulu pernah dan saat ini sedang menghadapi berbagai tantangan sosial.

Kondisi ini cenderung sama seperti daerah-daerah lainnya di Indonesia, namun kekayaan budaya Minangkabau yang dalam, nilai-nilai keIslaman yang Inklusif serta struktur sosial yang kuat menjadi modal penting dalam menjaga ketahanan mental masyarakat Minangkabau.

Oleh karena itu dari perspektif psikologi Klinis, Masyarakat Minang yang hidup di sepanjang wilayah Sumatera Barat secara umum, menunjukkan bahwa resiliensi bukan hanya dimiliki oleh individu yang tangguh namun juga milik komunitas yang memiliki akar budaya dan spiritual yang mendalam.

Kita berharap bahwa pendekatan edukatif, dialogis yang berbasis empati bisa membantu terkikisnya stigma negatif, serta pulihnya trauma sehingga generasi muda Minangkabau bisa dibimbing untuk tetap menjunjung tinggi nilai yang terbuka, kuat dan penuh kasih sayang. (*)

Baca Juga

Bencana Alam dan Performa Sumatera Barat 2025
Bencana Alam dan Performa Sumatera Barat 2025
Natal PGIW Sumbar, Potret Kerukunan Umat Beragama yang Terus Terawat di Padang
Natal PGIW Sumbar, Potret Kerukunan Umat Beragama yang Terus Terawat di Padang
Grooming: Ketika Relasi Tampak Sukarela, Padahal tidak Setara
Grooming: Ketika Relasi Tampak Sukarela, Padahal tidak Setara
Menjaga Batas dalam Keluarga Besar: Antara Bakti dan Kemaslahatan Jiwa
Menjaga Batas dalam Keluarga Besar: Antara Bakti dan Kemaslahatan Jiwa
Nataru di Padang, Pemko Imbau Warga Jaga Toleransi dan Keamanan
Nataru di Padang, Pemko Imbau Warga Jaga Toleransi dan Keamanan
Apakah Kita Cukup Terdidik untuk Berdomisili di Kawasan Rentan Bencana?
Apakah Kita Cukup Terdidik untuk Berdomisili di Kawasan Rentan Bencana?