Sumbardaily.com – Degradasi Semen Padang FC ke kompetisi Championship atau Liga 2 membawa dampak besar bagi perjalanan klub berjuluk Kabau Sirah itu.
Tidak hanya memicu perubahan dalam struktur manajemen, kondisi tersebut juga membuat Semen Padang FC harus meninggalkan markas tradisional mereka di Sumatera Barat (Sumbar) dan hijrah ke luar daerah untuk menjalani kompetisi musim depan.
Klub kebanggaan masyarakat Minangkabau itu dipastikan akan menggunakan Stadion Benteng di Kota Tangerang, Banten, sebagai kandang sementara selama mengarungi kompetisi Liga 2 musim mendatang.
Keputusan memindahkan home base tersebut disampaikan langsung Presiden Klub Semen Padang FC yang baru, Andre Rosiade, dalam program siniar di kanal YouTube Classy Media bersama perwakilan suporter Spartacks, Bonar, dan Direktur Classy Media, Andika.
Langkah tersebut diambil menyusul rencana renovasi total Stadion Haji Agus Salim yang akan dilakukan pemerintah pusat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Renovasi stadion bersejarah di Kota Padang itu dijadwalkan mulai berjalan pada rentang Juni hingga Juli 2026 sehingga tidak memungkinkan digunakan sebagai kandang Semen Padang FC selama kompetisi berlangsung.
Di tengah munculnya usulan dari sebagian suporter agar tim tetap bermarkas di Sumbar dengan memanfaatkan Stadion Utama Sikabu di Kabupaten Padang Pariaman, manajemen klub justru menilai opsi tersebut sulit direalisasikan.
Andre Rosiade menyebut hasil kajian internal menunjukkan Stadion Sikabu belum layak digunakan sebagai markas klub profesional, baik dari sisi infrastruktur maupun aspek administrasi pengelolaan stadion.
“Banyak yang minta kita main di Sikabu, tapi realitasnya agak sulit. Pertama, jembatan menuju Sikabu itu nyaris putus, tidak mungkin tim tamu turun dari bus lalu naik ojek ke stadion. Kedua, stadion itu bermasalah dalam arti butuh perbaikan yang mungkin menghabiskan dana miliaran rupiah, sementara kita butuh efisiensi,” kata Andre, dikutip Rabu (27/5/2026).
Selain akses jalan yang dinilai bermasalah, manajemen Semen Padang FC juga menyoroti status administrasi Stadion Sikabu yang disebut belum diserahterimakan secara resmi dari dinas pekerjaan umum kepada Dinas Pemuda dan Olahraga setempat.
Kondisi tersebut membuat stadion belum dapat dimanfaatkan secara komersial untuk pertandingan profesional, termasuk untuk penjualan tiket pertandingan.
Karena itu, manajemen akhirnya memilih Stadion Benteng sebagai kandang sementara yang dianggap lebih realistis dan efisien dari sisi operasional klub.
Pilihan menggunakan stadion di kawasan Tangerang juga dikaitkan dengan efisiensi biaya transportasi dan logistik tim selama menjalani kompetisi Liga 2.
Manajemen menilai akses mobilitas dari wilayah Jabodetabek jauh lebih mudah mengingat persebaran tim peserta Liga 2 berada di berbagai daerah seperti Aceh, Medan, Pekanbaru, Palembang hingga Pulau Jawa.
Jika tetap bermarkas di Padang, klub diperkirakan harus mengeluarkan biaya perjalanan yang lebih besar untuk penerbangan dan transportasi tim sepanjang musim.
Di balik keputusan hijrah ke Tangerang, Semen Padang FC juga telah menyiapkan strategi bisnis untuk memperkuat pemasukan klub dari sektor penjualan tiket.
Manajemen berencana memanfaatkan besarnya komunitas perantau Minang di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi sebagai basis dukungan baru bagi tim Kabau Sirah.
Andre menyebut pihaknya akan membangun jaringan pemasaran tiket terusan atau season ticket yang menyasar komunitas perantau Minang di Jabodetabek.
Skema tersebut diharapkan dapat meningkatkan pendapatan klub sekaligus memperkuat dukungan suporter selama Semen Padang FC menjalani musim di Liga 2.
“Kita akan optimalkan jaring-jaring perantau kita di seluruh kecamatan yang ada di Jabodetabek untuk jualan tiket terusan. Kita jual tiket tahunan supaya klub dapat pemasukan dan tidak lagi nombok,” ujar Andre.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya manajemen membangun kemandirian finansial klub setelah selama ini sektor pendapatan tiket dinilai belum maksimal.
Melalui penentuan markas baru di Tangerang, pembentukan kerangka tim yang lebih matang, serta dukungan besar dari perantau Minang, Semen Padang FC berharap masa bermain di Liga 2 hanya berlangsung singkat.
Klub Kabau Sirah menargetkan bisa segera kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia yaitu Super League dan kembali bermain di Stadion Haji Agus Salim setelah proses renovasi selesai dilakukan. (*)
















