Sumbardaily.com – Universitas Andalas (Unand) mengembangkan inovasi pakan fungsional berbasis bahan lokal sebagai solusi untuk meningkatkan kualitas produksi daging dan susu premium melalui sistem peternakan yang lebih efisien, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.
Penelitian ini menggabungkan teknologi pengolahan pakan, pendekatan multi-omics, serta konsep smart farming untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan sekaligus menekan dampak lingkungan dari sektor peternakan.
Riset tersebut dipimpin Dr Roni Pazla dari Fakultas Peternakan Unand bersama Prof Asmuddin Natsir dari Universitas Hasanuddin dan Prof Dewi Febrina, dari UIN Sultan Syarif Kasim Riau.
Kolaborasi antarkampus ini diwujudkan dalam penelitian bertajuk "Pakan Fungsional untuk Daging dan Susu Premium melalui Multi-Omics dan Smart Farming."
Pengembangan riset tersebut berangkat dari sejumlah tantangan yang masih dihadapi sektor peternakan ruminansia. Efisiensi pemanfaatan pakan dinilai masih rendah, sementara ketergantungan terhadap bahan pakan konvensional masih cukup tinggi.
Di sisi lain, proses fermentasi di dalam rumen menghasilkan emisi gas metana yang menjadi perhatian dalam upaya menciptakan sistem peternakan yang lebih berkelanjutan.
Selain itu, kebutuhan masyarakat terhadap produk peternakan juga terus berkembang. Konsumen tidak hanya menginginkan daging dan susu yang bergizi, tetapi juga produk yang memiliki manfaat kesehatan lebih baik.
Ketua Peneliti, Roni Pazla, menjelaskan bahwa arah pengembangan pakan masa depan tidak lagi hanya berorientasi pada peningkatan produktivitas ternak, melainkan juga memberikan manfaat yang lebih luas terhadap kesehatan hewan, kualitas produk, serta keberlanjutan lingkungan.
"Pakan yang dikembangkan diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrien ternak, tetapi juga meningkatkan efisiensi pencernaan, mendukung kesehatan ternak, menekan emisi metana, serta memperbaiki kualitas daging dan susu yang dihasilkan," ujar Roni Pazla, dikutip Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, salah satu keunggulan utama penelitian ini terletak pada pemanfaatan beragam bahan lokal yang diramu dalam satu formulasi pakan fungsional. Bahan tersebut meliputi enkapsulat katekin gambir–PFAD, kombinasi beberapa jenis rumput laut, serta pakan komplit berbasis hasil samping perkebunan kelapa sawit dan tanaman leguminosa.
Pemanfaatan gambir dipilih karena tanaman tersebut mengandung senyawa katekin yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan. Senyawa tersebut dinilai berpotensi membantu mengoptimalkan proses fermentasi di dalam rumen sehingga pemanfaatan pakan menjadi lebih efisien.
Untuk meningkatkan stabilitas sekaligus efektivitasnya, katekin gambir diproses menggunakan teknologi enkapsulasi bersama Palm Fatty Acid Distillate (PFAD). Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan pakan yang lebih optimal ketika diaplikasikan pada ternak.
Selain gambir, penelitian juga memanfaatkan rumput laut sebagai sumber mineral sekaligus senyawa bioaktif. Kandungan tersebut diharapkan mampu mendukung aktivitas mikroorganisme rumen sehingga proses fermentasi berlangsung lebih efisien dan berpotensi mengurangi pembentukan gas metana.
Pelaksanaan penelitian dilakukan secara kolaboratif dengan pembagian tugas sesuai kompetensi masing-masing perguruan tinggi. Tim dari Unand bertanggung jawab mengembangkan sekaligus mengevaluasi enkapsulat gambir–PFAD.
Sementara itu, Universitas Hasanuddin berfokus mengembangkan kombinasi rumput laut sebagai bahan yang berpotensi menekan pembentukan metana. Di sisi lain, UIN Sultan Syarif Kasim Riau mengembangkan formulasi pakan komplit berbasis berbagai bahan pakan lokal.
Seluruh hasil penelitian tersebut nantinya akan dipadukan menjadi purwarupa pakan fungsional yang siap diuji pada ternak sebelum diarahkan untuk diterapkan pada skala peternakan rakyat.
Dalam penelitian ini, tim juga menerapkan pendekatan multi-omics untuk menganalisis keterkaitan antara kandungan nutrien pakan, mikroorganisme rumen, hingga hasil metabolisme. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan formulasi pakan yang lebih presisi sesuai kebutuhan ternak.
Selain itu, penerapan konsep smart farming menjadi bagian penting agar hasil penelitian dapat dihilirisasi menjadi inovasi yang mudah diterapkan oleh peternak di lapangan.
Tidak hanya menargetkan publikasi ilmiah maupun kekayaan intelektual, riset ini juga diarahkan menghasilkan purwarupa pakan fungsional yang dapat dikembangkan bersama kelompok peternak dan industri pakan.
Melalui inovasi tersebut, tim peneliti berharap dapat mendukung terwujudnya sistem Green Livestock melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal, pengurangan emisi metana, peningkatan kemandirian pakan nasional, serta produksi daging dan susu premium dengan kualitas yang lebih baik.
Pengembangan pakan fungsional berbasis bahan lokal oleh Unand juga diharapkan memberikan kontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger), SDG 12 (Responsible Consumption and Production), dan SDG 13 (Climate Action).
Melalui kolaborasi lintas perguruan tinggi dan pemanfaatan potensi sumber daya lokal, riset yang dipimpin Roni Pazla ini diharapkan menjadi salah satu inovasi yang memperkuat daya saing sektor peternakan nasional sekaligus mendorong terwujudnya produksi daging dan susu premium yang lebih berkualitas, efisien, dan berkelanjutan. (*)















