Riset Unand Temukan Potensi Pangan Fungsional Lokal untuk Memperbaiki Gangguan Pertumbuhan Tulang

Riset Unand Temukan Potensi Pangan Fungsional Lokal untuk Memperbaiki Gangguan Pertumbuhan Tulang

Tim peneliti Universitas Andalas (Unand) mengembangkan inovasi pangan fungsional berbasis kombinasi tepung kacang lima (Phaseolus lunatus) dan tepung ikan patin sebagai upaya mendukung pemulihan gangguan pertumbuhan tulang yang dipicu kekurangan protein. (Foto: Unand)

Sumbardaily.com - Tim peneliti Universitas Andalas (Unand) mengembangkan inovasi pangan fungsional berbasis kombinasi tepung kacang lima (Phaseolus lunatus) dan tepung ikan patin sebagai upaya mendukung pemulihan gangguan pertumbuhan tulang yang dipicu kekurangan protein.

Inovasi tersebut menjadi salah satu langkah pengembangan pangan lokal yang diharapkan dapat memberikan dasar ilmiah dalam penanganan gangguan pertumbuhan.

Penelitian tersebut merupakan bagian dari Program Riset Kolaborasi Indonesia–EQUITY World Class University 2025–2026 yang didukung pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Riset ini melibatkan Rita Maliza, Ph.D. dari Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Andalas sebagai ketua tim. Penelitian juga dikerjakan bersama dr. Tofrizal, M.Biomed., Sp.PA. Subsp. K.A.(K), Ph.D., Dr. Dwi Hilda Putri dari Universitas Negeri Padang, serta apt. Lalu Muhammad Irham dari Universitas Ahmad Dahlan.

Rita Maliza menjelaskan, penelitian dilakukan karena kekurangan protein dalam jangka panjang tidak hanya memengaruhi pertumbuhan tubuh, tetapi juga berdampak terhadap proses pembentukan tulang dan perkembangan lempeng pertumbuhan yang menjadi bagian penting dalam pertumbuhan tinggi badan.

"Melalui penelitian ini, kami ingin mengeksplorasi potensi dua bahan pangan lokal, yaitu kacang lima dan ikan patin, sebagai pangan fungsional yang dapat membantu memperbaiki gangguan pertumbuhan akibat defisiensi protein. Kacang lima memiliki kandungan protein nabati dan berbagai senyawa bioaktif, sedangkan ikan patin merupakan sumber protein hewani berkualitas tinggi dengan asam amino esensial yang dibutuhkan untuk pertumbuhan," ujarnya dilansir laman resmi Unand, Rabu (22/7/2026).

Untuk menguji potensi tersebut, tim peneliti menggunakan tikus Wistar jantan sebagai hewan uji. Sebelum diberikan perlakuan, tikus terlebih dahulu menjalani diet rendah protein sehingga terbentuk model gangguan pertumbuhan.

Setelah itu, hewan uji memperoleh intervensi berupa kombinasi tepung kacang lima dan tepung ikan patin selama empat minggu.

Hasil penelitian menunjukkan kombinasi kedua bahan pangan tersebut mampu memperbaiki sejumlah indikator pertumbuhan tulang yang sebelumnya mengalami gangguan akibat kekurangan protein.

Perbaikan terlihat dari struktur lempeng pertumbuhan yang mengalami peningkatan, disertai bertambahnya ketebalan tulang apabila dibandingkan dengan kelompok hewan uji yang tidak memperoleh intervensi.

Meski menghasilkan temuan yang menjanjikan, Rita menegaskan penelitian tersebut masih berada pada tahap praklinis sehingga belum dapat diterapkan secara langsung pada manusia.

"Temuan ini memberikan dasar ilmiah yang menjanjikan, namun masih diperlukan penelitian lanjutan, termasuk uji klinis pada manusia, untuk memastikan keamanan, efektivitas, serta dosis yang tepat sebelum dapat direkomendasikan sebagai bagian dari strategi penanganan gangguan pertumbuhan, termasuk yang berkaitan dengan stunting," jelasnya dilansir laman resmi Unand, Rabu (22/7/2026).

Menurut Rita, penggunaan kacang lima dan ikan patin sebagai bahan baku menjadi salah satu nilai lebih dalam penelitian tersebut. Kedua bahan pangan lokal itu memiliki kandungan gizi yang baik sekaligus relatif mudah ditemukan di Indonesia.

Kondisi tersebut dinilai membuka peluang pengembangan produk pangan fungsional yang tidak hanya memiliki nilai gizi tinggi, tetapi juga dapat diproduksi dengan biaya yang lebih terjangkau dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Selain menghasilkan inovasi di bidang pangan, penelitian ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Kontribusi tersebut mencakup SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui pengembangan pangan berbasis sumber daya lokal untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat.

Penelitian juga mendukung SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui upaya pencegahan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan protein. Di sisi lain, kolaborasi peneliti dari Universitas Andalas, Universitas Negeri Padang, dan Universitas Ahmad Dahlan turut memperkuat implementasi SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kerja sama riset antarperguruan tinggi di Indonesia.

Melalui hasil riset tersebut, tim peneliti berharap pengembangan pangan fungsional berbahan kacang lima dan ikan patin dapat menjadi pijakan ilmiah bagi penelitian lanjutan. Uji klinis pada manusia masih diperlukan sebelum inovasi tersebut dapat direkomendasikan sebagai bagian dari strategi penanganan gangguan pertumbuhan akibat defisiensi protein maupun kasus yang berkaitan dengan stunting. (*)

Baca Juga

Tepung Kacang Lima Lolos Uji Keamanan, Peneliti Unand Dorong Diversifikasi Pangan Lokal
Tepung Kacang Lima Lolos Uji Keamanan, Peneliti Unand Dorong Diversifikasi Pangan Lokal
Peneliti Unand Kembangkan Antibiotik Alternatif dari Rumput Laut untuk Atasi Luka Diabetes
Peneliti Unand Kembangkan Antibiotik Alternatif dari Rumput Laut untuk Atasi Luka Diabetes
Mengapa Konsumen Muda Indonesia dan Yordania Berbeda Memilih Produk Halal? Ini Temuan Unand
Mengapa Konsumen Muda Indonesia dan Yordania Berbeda Memilih Produk Halal? Ini Temuan Unand
Riset Unand Ungkap Kewirausahaan Berbasis Iman Jadi Perspektif Baru Ilmu Kewirausahaan
Riset Unand Ungkap Kewirausahaan Berbasis Iman Jadi Perspektif Baru Ilmu Kewirausahaan
Bukan Sekadar Gulma, Tanaman Tithonia Berpotensi Jadi Pakan Berkualitas untuk Kambing Perah
Bukan Sekadar Gulma, Tanaman Tithonia Berpotensi Jadi Pakan Berkualitas untuk Kambing Perah
Riset Mahasiswa Unand di Jepang Hasilkan Prototipe AI untuk Deteksi Gangguan Pita Suara
Riset Mahasiswa Unand di Jepang Hasilkan Prototipe AI untuk Deteksi Gangguan Pita Suara