Sumbardaily.com - Potensi sumber daya alam yang melimpah di Sumatera Barat (Sumbar) mulai dilirik dalam pengembangan energi bersih masa depan.
Ketersediaan batu bara dan biomassa dinilai mampu menjadi modal penting untuk mendorong pengembangan blue hydrogen dan industri amonia sebagai bagian dari transisi energi global.
Pengembangan energi tersebut dinilai membuka peluang besar bagi Sumatera Barat untuk terlibat dalam hilirisasi energi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di masa mendatang.
Pembahasan mengenai pengembangan teknologi energi bersih itu mengemuka dalam kolaborasi riset internasional antara Universitas Bung Hatta dan Gifu University, Jepang.
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Dekan Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Bung Hatta, Prof. Dr. Eng. Ir. Reni Desmiarti, S.T., M.T., IPU pada 1 Mei 2026.
Dalam agenda tersebut, Prof. Reni Desmiarti bersama Prof. Dr. Shinji Kambara dan Prof. Dr. Ryo Yoshie melakukan diskusi intensif terkait pengembangan teknologi pembentukan produk blue hydrogen berbasis batu bara dan biomassa.
Kolaborasi itu dilakukan untuk memperkuat implementasi kerja sama penelitian di bidang energi bersih sekaligus menjawab tantangan kebutuhan energi masa depan.
Prof. Reni Desmiarti mengatakan kerja sama tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat posisi Universitas Bung Hatta di tingkat global melalui pengembangan riset energi.
“Salah satu capaian penting yang dibahas adalah keberadaan pilot plant di Gifu University yang telah mulai beroperasi untuk produksi blue hydrogen berbasis amonia. Dalam sistem tersebut, amonia digunakan sebagai bahan baku yang melalui proses reaksi pembakaran dapat menghasilkan blue hydrogen, yang selanjutnya berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik yang lebih bersih,” ungkapnya dikutip laman resmi, Sabtu (9/5/2026).
Menurutnya, pengembangan teknologi blue hydrogen menjadi salah satu fokus penting dalam proses transisi energi dunia. Produksi amonia sebagai bahan baku hidrogen juga dinilai memiliki peran strategis dalam rantai pengembangan energi bersih berbasis hidrogen.
Ia menyebut Sumatera Barat memiliki peluang besar untuk masuk dalam pengembangan sektor tersebut karena didukung sumber daya alam yang melimpah.
“Sumatera Barat sendiri memiliki potensi besar dalam pengembangan energi ini, mengingat ketersediaan sumber daya batu bara dan biomassa yang melimpah. Hal ini membuka peluang bagi pendirian industri amonia di masa depan sebagai bagian dari hilirisasi energi dan penguatan ketahanan energi nasional,” sebutnya.
Kerja sama riset itu selanjutnya akan ditindaklanjuti oleh tim Teknik Kimia Universitas Bung Hatta melalui program penelitian kolaboratif yang disesuaikan dengan karakteristik sumber daya lokal di Sumatera Barat.
Selain fokus pada pengembangan riset, kolaborasi tersebut juga diarahkan untuk memperkuat pengembangan sumber daya manusia melalui kerja sama akademik internasional.
Salah satu agenda yang turut dibahas ialah rencana reaktivasi program pertukaran mahasiswa yang sempat terhenti sejak tahun 2020.
“Kami juga membahas rencana reaktivasi program pertukaran mahasiswa yang sempat terhenti sejak tahun 2020. Program ini diharapkan kembali berjalan sebagai bagian dari penguatan internasionalisasi dan peningkatan kualitas akademik mahasiswa,” katanya.
Melalui kolaborasi tersebut, Universitas Bung Hatta berharap sinergi internasional di bidang energi dapat terus berjalan secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi pengembangan pendidikan serta riset energi di Indonesia.
“Kami berharap sinergi ini dapat berjalan secara berkelanjutan dan menjadi salah satu pilar dalam mewujudkan visi Universitas Bung Hatta sebagai universitas berkelas dunia dan berdampak,” tutupnya. (*)
















